Lebaran: Hari Paling Menyedihkan

Bagaimana tidak menyedihkan, tiap lebaran terasa pedih karena jauhnya jarak yang memisahkan kami dan keluarga serta teman-teman di sana. Rasanya selalu mau terbang dengan baling-baling bambu, melesat ke arah Jakarta.

Lebaran di sini alamat perayaan dalam kesepian, karena tak ada tetangga yang dikunjungi atau kerabat yang mengunjungi. Tak ada keriaan takbiran dengan suara anak2 yang fals dari masjid belakang rumah ortuku atau sambitan petasan sialan yang bersahut-sahutan dari kampung belakang. Hal-hal yang dulu sering aku rutuki malah sekarang jadi ngangenin. Aneh ya.

Iya, pasti ada sholat Ied di masjid di kota kami yang ukurannya lumayan, cukup deh menampung warga muslim di sini. Setelah sholat Ied biasanya ada sarapan bareng dengan makanan yang disediakan oleh para sponsor, dokter2 muslim yang bermukim di sini. Biasanya juga ada inflatables… apa ya… itu loh balon2 besar yang ditiup terus bisa buat lompat2-an dan perosotan oleh anak2.

Setelah acara di masjid, biasanya masing2 komunitas punya acara sendiri baik itu makan siang bersama atau makan malam. Tergantung lebarannya jatuh hari apa sih. Kalau di hari kerja kayak tahun ini sih alamat gak bakal banyak acara kumpul2 karena kebanyakan orang dewasanya masih bekerja atau kuliah. Kalau anak sekolah seperti Imo dan Darrel biasanya mendapat izin untuk bolos satu hari karena guru2 di sini juga sudah mengerti tentang adanya hari raya Ied (Eid).

Tapi terus terang ni ye, buat aku sih mendingan anak2 tetap masuk sekolah! Lah, wong setelah sholat Ied gak ada kegiatan apa2 lagi. Paling2 aku membelikan hadiah buat mereka yang kemudian kita jadikan acara Treasure Hunt, biar seru aja. Mendingan mereka tetap sekolah, jadinya gak ketinggalan pelajaran. Ngumpul sekeluarga bisa dilanjutkan malam harinya, pas Ayahnya anak2 juga sudah pulang kerja. Tapi, berhubung hampir semua murid yang muslim minta izin untuk libur sehari aja, ya sudahlah aku solider. Daripada gurunya bingung, “Si itu bisa kok tetap sekolah, lalu kenapa si Anu minta izin gak masuk?”

Jadi, begitulah. Lebaran di sini bisa dibilang hampir tak terasa. Tak ada hiasan ala lebaran di pertokoan ataupun kumandang lagu2 Bimbo. Tak ada orang jualan bungkus ketupat di farmer’s market. Sepiiii… sediiihhh.

Tapi kemudian aku bertanya lagi pada diriku sendiri: seperti halnya happiness is a state of mind, kenapa tidak berpikiran hal yang sama tentang lebaran? Kenapa juga harus terpuruk dalam kesedihan, meratapi “yang tak ada”? Padahal kalau mau dihitung-hitung, lebih banyak lagi nikmat yang aku dan keluargaku telah, sedang dan insya Allah akan rasakan.

Mendengar pertanyaan Imo yang penuh semangat: “Ma, besok Eid ya? One more day, Ma!”, aku jadi malu hati. Dia yang berpuasa nyaris penuh (cuma satu kali batal karena gak sahur dan lagi batuk) di tengah-tengah teman-temannya yang mayoritas tak berpuasa, bisa bersemangat begitu. Padahal tahu lebarannya bakal sunyi sepi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kenapa aku emaknya jadi mellow jello begini ya?

Akhirnya, sejak Sabtu minggu kemarin aku mulai berpikiran untuk melakukan hal-hal yang sudah lama tidak aku lakukan: persiapan lebaran. Aku mulai cari-cari resep kue dan masakan, serta mulai beres-beres rumah. Alhasil, setelah maraton bikin kue, kemarin tersedialah empat jenis kue di meja. Hari ini aku mau bikin macaroni schotel dan gulai ayam. Besok pagi bikin roti jala. Rumah sudah agak beres…he…he… gak didekor gimana2 sih, cuma akan dibikin beres, gak kayak kapal pecah seperti biasanya. Nanti sore mau ajak2 anak2 dekor jendela rumah dengan crayon khusus buat jendela yg nanti bisa dibersihkan dengan air. Siapin juga hadiah ah, buat treasure hunt Imo dan Darrel, jadi sepulang sholat Ied ada hal yang akan mereka tunggu2.

Rencananya nanti malam dan besok pagi, kami juga akan tele-conference dengan keluarga di Indonesia. Sudah ada teknologi, ya dimanfaatkan dong. Mereka selalu kangen pada Imo dan Darrel. Moga-moga saja Darrel mood-nya bagus dan mau diajak ngomong di Skype. Biasanya gak mau soalnya…ha…ha…ha.

Tak masalah, akan ada tamu yang datang atau tidak, yang penting Ied sudah akan dihadirkan di rumah dan di hati kami.

Selamat Iedul Fitri
untuk teman2 MP semua!

Mohon maaf lahir dan batin yaaa…
Semoga Ied kali ini juga hadir di hati kalian.

Advertisements

58 thoughts on “Lebaran: Hari Paling Menyedihkan

  1. t4mp4h said: Sugeng Riyadi Mbakyu !Biasanya tiap tahun ngumpul di rumah orang tuaku, meskipun bukan hari raya kami tapi sanak-saudara tetap datang ke rumah. Saatnya Takbiran, ada keluarga yg datang ke rumah membawa hantaran, dan kamipun sibuk memberi hantaran kepada keluarga lain. Ketika mendiang Om (Muslim dan haji) masih ada, beliau pasti tidur di rumah kami, dan turut mengumandangkan takbir di halaman rumah bersama adik sepupu. Sayapun kangen dengan suasana macam itu. Mungkin perasaaan Mbak Irma mirip perasaan kami ketika menjelang Natal tiba di tanah air, there’s nothing special day.

    Tadi siang/pagi kutulis hal yang hampir serupa Dabb…….Ada DISINI….!#nenekkk, numpang link yakk, nuwunn….

  2. Mbak Irma…*peluk, cipika cipiki*Long time no see u. *lah emang pernah ketemu?**tarik nafas dulu*Saya minta maaf, kalo ada salah kata2. Dan semoga kita semua termasuk orang yang hidup dalam keberkahan. Dan lagi, terutama, masup surga. *pede dikit boleh dong*

  3. tintin1868 said: maaf lahir batin ya.. ku lebaran di rs.. rasanya sepi.. tapi asikasik saja tuh..

    Loh? Mbak Tintin sakit? Mudah2an di RS bukan krn sakit yak. He-eh mbak, lebaran lebih di hati kok.

  4. sarahutami said: Mbak Irma…*peluk, cipika cipiki*Long time no see u. *lah emang pernah ketemu?**tarik nafas dulu*Saya minta maaf, kalo ada salah kata2. Dan semoga kita semua termasuk orang yang hidup dalam keberkahan. Dan lagi, terutama, masup surga. *pede dikit boleh dong*

    *Peluk Sarah erat2 sambil cubit2 pipi Zena*Maafkan dakoe juga Sarah! Aku pasti banyak salah secara ku suka banget nyablak dimana-mana…hua…huaaaa!Semoga ya Sar, kita bisa jadi manusia2 yg lebih baik lagi… aaaamiiiin. Makasih doanya ya!

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s