Jejak Kita

Kemarin, saat hampir tengah malam, tiba-tiba seseorang menyapaku di FB chat yang kebetulan saat itu sedang aku buka. “Masih ingat aku, nggak?” Begitu tanyanya. Karena foto profilnya cuma secuil dari wajahnya, tepatnya cuma mata sebelah dan namanya juga kecowok-cowokan, aku berterus terang bahwa aku gak ingat siapa dia. Aku langsung buka FBnya, dan ndalalah, ternyata teman SD yang beberapa waktu sempat aku jadikan teman FB namun belum sempat bertegur sapa lebih lanjut. Sebut saja namanya W, dan dia dulu termasuk salah satu sahabat masa kecilku. Waktu kecil aku memang termasuk suka sekali berteman, sering bertandang ke rumah teman-teman, dan bersepeda sendirian sambil berpetualang.

W ini dulu termasuk “sainganku” saat mengikuti lomba nyanyi keroncong. Suaranya bagus sekali dan dia lebih pe-de untuk menyanyi di depan orang banyak dibandingkan aku. Dia juga teman yang pernah berkolaborasi denganku untuk menari bersama di acara perpisahan sekolah, saat kami kelas 5 SD.

Dari pembicaraan penuh nostalgia kemarin malam itu, ada satu hal yang membuat aku sempat terhenyak. Dia bilang begini: “Dari dulu kau sudah suka banget membaca. Tiap habis membaca sesuatu, pasti langsung kau ceritakan pada teman-temanmu. Aku ingat banget dulu kau bilang bahwa mayat yang dikubur pada hari keempat akan meledak badannya.”

Yang bikin aku terhenyak:
1. Buset deh… waktu kecil kok aku sudah suka hal2 yang gory alias seram seperti itu sih? Dan kenapa juga bagi-bagi informasi horor kayak gitu ke teman-teman? Apa gak bikin mereka mimpi buruk?

2. Kebiasaan menceritakan apa yang sudah aku baca ini mirip sekali dengan kebiasaannya… Imo! Yap, dia sampai kami juluki ensiklopedia berjalan karena suka suka sekali menuturkan fakta/trivia mengenai berbagai hal yang didapatinya dari buku yang dibacanya.

Dan yang terakhir, yang bikin aku benar-benar termenung adalah kenyataan bahwa aku sendiri sudah LUPA bahwa aku pernah cerita tentang mayat meledak itu pada teman SD-ku ini.

Ternyata tanpa kita sadari, kita bisa meninggalkan “jejak” yang tak terlupakan pada diri orang-orang yang pernah kita temui, pada teman-teman kita. Apa yang kita anggap gak ada artinya atau hanya hal sepele, bisa berarti sangat besar dan bisa menempel sangat erat pada ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan kita.

Jadi cemas, jangan-jangan jejak yang aku tinggalkan lebih banyak yang “memedihkan” daripada “membahagiakan.” Jadi bertanya-tanya, jangan-jangan pernah atau bahkan sering nyenggol perasaan orang tanpa sadar dan berlalu melenggang begitu saja dengan tanpa merasa bersalah. Lebih susah lagi kalau kemudian tali silaturahmi terhenti dan tak sempat mengetahui jejak apa saja yang pernah kita tinggalkan di kehidupan orang lain.

Hmm… susah ya jadi manusia? Makanya dulu waktu kecil aku pernah pengen jadi sendal jepit. Ha…ha…ha.

Advertisements

163 thoughts on “Jejak Kita

  1. zaffara said: Benerrr…asalnya pengen jadi tanah aja. Tapi jijik pas liat cacing, jadi aku pilh jd batu kerikil yg di sungai :)))

    Hi…hi…hi… iya juga ya, kalo kerikil sambil berendem, adem.

  2. tintin1868 said: wah imo, udah cetakan emaknya tuh suka laporan..sendal jepit emang enak jadi sendal jepit? kan suka ngeinjek orang..

    He-eh mba, ceriwisnya juga niru emaknya banget. Gak tahu deh dulu kenapa milih sendal jepit ya? Mungkin karena sendal jepit yang setia nemenim aku kemana-mana.

  3. rengganiez said: wkwkwk…mbak Irma akan berbesar hati untuk cerita kok..masak kalah ama Mbak Arni :-p

    Berbesar badan adanya sih…hua…ha…ha. Hatiku sudah terlanjur terluka! Huh!

  4. itsmearni said: Mbak suuummmmmAku sudah bikin pengakuan tuhDaripada dipermalukan mb niez padahal udah nyogok, pan rugi dua kali jadinyaMendingan bongkar sendiri dah hahahaAyo, nungguin mb sum buat pengakuan juga :-)))

    Hua…ha…ha… tunggu saja tanggal mainnya.

  5. srisariningdiyah said: ya gitu deh hehekalo orang lain menganggap begitu kan yawes yahhhh :p

    Kalo orang lain anggap begitu ke aku, ya jahat dong artinya. Tapi kalau aku sendiri berusaha gak gitu ke orang… meskipun susaaaaah sekali menerapkannya.

  6. rosshy77 said: Tenaang … Tenang mba irTulisan daan bayolanmu meninggalkan jekak fresh koqBtw, mayat meledak hari ke4 dp info dr mana jaman itu?

    Hah beneran Ros? Makasih ya? *cium2 ketek* Iya, emang segar banget! Hi….hi…hi.Aku juga lupa dari mana, tapi kayaknya di buku ilmiah kok, bukan buku agama.

  7. luqmanhakim said: Gimana sama Bayu tuh, sejak lo tinggal di FSUI beberapa tahun lalu, keadaan otaknya makin kacau dia…

    Bayu kenape emangnya, Man? Kacau karena kebelet kawin ama Selly kaleee.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s