[NYC series part 5] Tak Berjodoh dengan Lady Liberty

Catatan ini merupakan lanjutan dari catper yang ini.

Hari pertama kami akan menjelajah kota diwarnai dengan sedikit kekhawatiran karena kami belum mengenal medan tempur padahal kami sudah berniat hanya akan menggunakan sarana transportasi umum berupa bus dan kereta bawah tanah (subway). Karena kesalahan persiapan, aku tak memiliki peta Brooklyn dan hanya berbekal peta Manhattan dan sekitarnya. Jadi kami cuma berniat akan naik bus menuju terminal subway terdekat dan kemudian membeli tiket di situ serta mengambil peta subway dan bus yang meliputi seluruh wilayah NYC, termasuk Brooklyn.

Halte bus ternyata tak terlalu jauh dari rumah Joan, hanya sekitar satu blok saja (5 menit berjalan kaki) dan tempatnya juga enak, banyak tempat duduk dan teduh karena dinaungi pepohonan. Letak halte ini berbatasan dengan sebuah lapangan basket dan tenis yang memang disediakan untuk warga di sekitar situ. Tiap hari juga ada patroli petugas penyeberang jalan karena lapangan bermain tadi tepat bersebelahan dengan sebuah sekolah.


Untungnya lagi, MTA (Metropolitan Transportation Authority) juga memiliki situs web yang sangat bagus, sehingga setiap rute sudah bisa kita rencanakan sebelum bepergian. Cukup dengan menuliskan lokasi asal dan lokasi berangkat, maka kita akan disodori pilihan rute bus dan kereta yang menghubungkan dua lokasi tersebut beserta jam kedatangan dan waktu tempuhnya. Situs ini bisa diakses dengan HP pulak. Cuma karena HPku murmer jadi bisa ditebak deh kecepatan unduh informasinya seberapa…he…he…lelet bak keong racun.

Saat naik bus, suamiku sempat diomeli oleh supir bus, seorang wanita berkulit hitam. Pasalnya suamiku hendak membayar ongkos bus dengan uang lembar lima dolaran. Supir itu ngomel bukan karena kami minta kembalian karena kami ngerti banget kalau di sini bayar harus pakai uang pas. Tapi ternyata bus di sini tidak menerima uang lembaran. Jadi pembayaran hanya bisa dilakukan dengan menggunakan uang receh 25 sen alias quarters. Walah! Dan kami gak bawa uang recehan yang semuanya ditinggal begitu saja di tempatnya Joan.


Suamiku yang bingung harus bayar pakai apa, bertanya pada si supir, “So, what should we do, then?”

Supir itu, tetap menjalankan bus dan berkata: “Meneketehe!” (hi…hi…hi…pake bhs Inggris la yaw).

Untung saja si supir tidak menendang kami turun dari bus. Dia tanya apakah kami akan naik subway dan kami iyakan. Lalu dia memperbolehkan kami naik busnya karena memang setiap orang yang naik subway boleh naik bus dengan gratis!

Sudah dipermalukan di depan seisi bus sedemikian rupa, kami masih ketawa2 aja. “Biarin aja ya orang2 jadi tahu kalau kita turis. Emang turis sih,” ujarku pada suamiku. Ya, namanya juga bukan penduduk sini, wajar dong ya kalau banyak gak tahunya.

Karena baru sekali itu naik bus, kami cuma bisa menebak-nebak akan turun dimana. Petunjuknya adalah kalau sebagian besar penumpang turun maka kami harus turun juga. Dan ternyata memang benar, saat hendak mengikuti arus penumpang yang turun, aku bisa melihat pagar hijau bertuliskan Flatbush Ave. beserta tulisan nomor2 di dalam lingkaran beraneka warna yang menuju ke bawah tanah.

Setelah menuruni tangga, kami menemukan loket tiket dan beberapa mesin otomat. Kami memilih beli tiket di loket, biar bisa sekalian tanya2. Agar praktis dan hemat, kami membeli tiket pass untuk 7 hari yang bisa dipakai sebanyak mungkin, all you can ride gitu deh. Tiketnya berbentuk kartu tipis terbuat dari plastik berwarna kuning bertuliskan logo MTA.

Yang pernah lihat film dengan adegan di subway pasti tahu kalau tiket ini bukan tiket yang harus ditunjukkan ke kondektur karena memang tak ada kondektur sama sekali di dalam keretanya. Tiket ini fungsinya adalah untuk membuka gerbang berpalang putar menuju platform atau peron dengan cara digesekkan ke bagian khusus di gerbang tersebut yang kemudian akan terbuka kuncinya. Selain gerbang dengan palang putar, juga ada gerbang berupa pintu besi khusus untuk penumpang berkursi roda atau emak2 yang bawa stroller.

Kesan pertama tentang stasiun subway: PA
NAS! Yap, panasnya luar biasa dan baunya juga aduhai, apalagi di dalam elevatornya. Di beberapa elevator subway baunya begitu pesing membuat kami yakin bahwa ada manusia2 tak beradab yang pernah pipis di situ. Tapi begitu masuk ke dalam keretanya, maka udaranya langsung adem karena pendingin ruang yang kencang. Baunya juga tak terlalu semriwing karena rajin dibersihkan.


Pertama kami memasuki peron, kami melakukan kesalahan karena menunggu di peron yang salah! Mustinya kami menyeberang ke peron sebelah sana, bukan di bagian yang dekat dengan loket tiket, dan karena ketidaktahuan kami, kami rugi waktu sekitar 15 menit karena harus menunggu kereta berikutnya.


Hari itu kami berniat mengunjungi Patung Liberty yang merupakan ikon tak hanya bagi kota New York namun juga ikon Amerika Serikat. Dari situs webnya, aku sudah tahu bahwa tempat ini termasuk tempat favorit bagi para turis dan antreannya bisa dipastikan sangat puanjaaaang. Antrean menjadi panjang selain karena memang banyak peminatnya, juga karena prosedur pemeriksaan keamanan yang mirip dengan yang di bandara. Meskipun kami sudah memegang tiket City Pass, bukan berarti kami tak harus mengantre. Untuk wahana satu ini, kami tidak diberikan keistimewaan untuk bisa memotong antrean, seperti halnya di beberapa tempat wisata lainnya.


Untuk bisa menuju Liberty Island, kami harus naik kapal feri dari Battery Park, sebuah taman kota yang dalam sejarahnya pernah menjadi benteng dari serangan suku-suku Indian. Di dekat taman ini juga ada sebuah terminal kapal yang cukup terkenal yaitu Staten Island Terminal yang menyediakan sarana feri gratis untuk mereka yang akan menuju pulau Staten. Tapi feri yang akan mengantar kami menuju Liberty Island tidaklah gratis. Yang gratis adalah memasuki pulau itu sendiri serta memasuki Ellis Island yang merupakan pulau yang pernah menjadi tempat penampungan dan pendaftaran imigran-imigran yang baru saja datang di AS dalam periode tahun 1892 hingga 1954. Bundel tiket City Pass yang telah kami beli sebelum berangkat ke sini berisikan tiket feri menuju Liberty Island dan Ellis Island.

Kami tiba di Battery Park pukul 11 pagi dan ternyata antreannya sudah mengular naga panjangnya bahkan sampai meliuk-liuk. Hayah! Langsung ciut niat kami untuk menengok Lady Liberty. Dengan lesu kami terduduk di bangku taman. Anak-anak malah sibuk mengejar-ngejar burung dara yang banyak sekali di taman-taman kota ini. O ya kegiatan mengejar burung dara ini menjadi salah satu kegiatan favorit anak bungsu kami yang baru lima tahun selama di kota New York.


Setelah omong-omong sebentar, akhirnya kami putuskan untuk berpindah lokasi saja dan menunda kencan dengan Lady Liberty menjadi esok pagi. Tentu saja dengan tekad bahwa besok harus berangkat sepagi mungkin agar antreannya tidak keburu panjang banget seperti sekarang.

Untuk hari ini, kami berniat mengunjungi Museum of Natural History yang letaknya berseberangan dengan Central Park. Maka, kami kembali menuju stasiun subway untuk menaiki kereta yang menuju museum tersebut.

(bersambung)

Note: Foto2 lebih banyak akan diposting khusus untuk kontak di album foto.

Advertisements

71 thoughts on “[NYC series part 5] Tak Berjodoh dengan Lady Liberty

  1. agamfat said: Elu sambil bayangin naik krl + metromini ya, sekali ketinggalan, nunggu 30 menit

    Masih mending 30 menit Gam. Kalo di dusun kayak Dale, nunggu bisa selanjutnya bisa satu jam!

  2. penuhcinta said: Mana? Mana? Lah, begitu udah terpojok terus kabur? Loh, kok mirip sama yang itu ya? Ha…ha..ha.

    nih: http://thetrueideas.multiply.com/notes/item/1359, kepepet biki postingan baruTrus bikin postingan baru: http://thetrueideas.multiply.com/notes/item/1360udah lama pengen ngebantai orang ini. ngomong seenak udelnya tanpa otak. cuman aku nggak punya landasan yang kuat. kalau berdasarkan emosi thok, bisa glagepan aku. Untung ada lawan yang seimbang, diuber terus. kuapokkkk.aku cuma ngintip aja ngliat diskusi mereka sambil dalam hati bilang, makanya jadi orang jangan sok bener. Dikasih masukan ngotot, Manusia itu kan mahluk sosial tho. Hidup berdampingan rukun damai sentosa. Jalankan prinsipmu tanpa mengganggu yang lain. Gak usah pake mengolok ngolok yang nggak sejalan selama itu nggak mengganggu.

  3. penuhcinta said: Di Dale sistemnya bayar cash mbak, gak pakai tiket2an segala. Kalaupun ada kartu pas, yg bisa dapat hanya mahasiswa/i dan keluarga mereka. Kalau orang umum ya bayar 1 dolar tiap kali naik dan anak2 di bawah 5 tahun gratis.

    Heh?? 1 dolar? Luarang yo. Trus kalau kartu pas, bayarnya gimana? pake kartu mahasiswa?Duluth cuma 0.75 dolar per orang, kalau jam sepi. Jam rame 1.50 dolar. Itu berlaku sejam. Jadi kalau perginya gak jauh dan cuma sebentar, ya udah pake satu tiket itu aja selama gak melewati sejam. Mahasiswa/i malah gretong. Di Duluth ada 3 univ. UMD (University of Minnesota Duluth), LSC (Lake Superior College) dan CSS (College of St. Scholastica). UMD milik pemerintah federal sedang LSC dan CSS swasta. Nah di UMD, ada ketentuan minimal kredit untuk dapet fasilitas DTA gratis, yaitu minimal 6 kredit. Kalau LSC dan CSS aku gak tau ada ketentuan itu atau enggak. Aku tau di UMD begitu, karena kuliah disana. Dan aku ngambil kredit diatas 6 biar dapet angkot gretongan. Katanya suami, baru kali ini ada orang kuliah alasan utamanya biar bisa dapet angkot gratis. kwkwkwkwkwkwkwk…..

  4. enkoos said: nih: http://thetrueideas.multiply.com/notes/item/1359, kepepet biki postingan baruTrus bikin postingan baru: http://thetrueideas.multiply.com/notes/item/1360udah lama pengen ngebantai orang ini. ngomong seenak udelnya tanpa otak. cuman aku nggak punya landasan yang kuat. kalau berdasarkan emosi thok, bisa glagepan aku. Untung ada lawan yang seimbang, diuber terus. kuapokkkk.aku cuma ngintip aja ngliat diskusi mereka sambil dalam hati bilang, makanya jadi orang jangan sok bener. Dikasih masukan ngotot, Manusia itu kan mahluk sosial tho. Hidup berdampingan rukun damai sentosa. Jalankan prinsipmu tanpa mengganggu yang lain. Gak usah pake mengolok ngolok yang nggak sejalan selama itu nggak mengganggu.

    Oalah, ini sih aku pernah baca juga. Ha…ha…ha. Emang senang berantem mungkin, kalau gak gitu gak bahagia hidupnya. Ada satu mbak2 di situ yang selalu berani menentangnya. Seru juga baca perdebatannya.

  5. enkoos said: Heh?? 1 dolar? Luarang yo. Trus kalau kartu pas, bayarnya gimana? pake kartu mahasiswa?Duluth cuma 0.75 dolar per orang, kalau jam sepi. Jam rame 1.50 dolar. Itu berlaku sejam. Jadi kalau perginya gak jauh dan cuma sebentar, ya udah pake satu tiket itu aja selama gak melewati sejam. Mahasiswa/i malah gretong. Di Duluth ada 3 univ. UMD (University of Minnesota Duluth), LSC (Lake Superior College) dan CSS (College of St. Scholastica). UMD milik pemerintah federal sedang LSC dan CSS swasta. Nah di UMD, ada ketentuan minimal kredit untuk dapet fasilitas DTA gratis, yaitu minimal 6 kredit. Kalau LSC dan CSS aku gak tau ada ketentuan itu atau enggak. Aku tau di UMD begitu, karena kuliah disana. Dan aku ngambil kredit diatas 6 biar dapet angkot gretongan. Katanya suami, baru kali ini ada orang kuliah alasan utamanya biar bisa dapet angkot gratis. kwkwkwkwkwkwkwk…..

    Memang mahal dan tidak ada ketentuan jam-2an seperti yang mbak ceritakan. Makanya aku jarang jalan2 pake bus…ha..ha…ha. Dulu kaman kuliah, aku pakai kartu mahasiswa yang bisa digesek kayak kartu kredit ke perangkat di bus dan kita bisa naik sesuka hati, berapa kalipun ya gak bayar. Eh, sebenarnya bayar lo karena itu udah masuk fees yang kita bayarkan tiap semester ke sekolahnya. Nah, keluarga mahasiswa/i bisa dapat kartu juga dengan membayar, tapi murah dibandingkan kalau tiap bepergian harus bayar. Kartu utk anggota keluarga gak pake digesek, cuma ditunjukkan saja ke supir busnya. Emang unik mbak kalau kuliah biar bisa dapat angkot gratis…ha…ha…ha. Susahan kuliahnya deh.

  6. penuhcinta said: Lalu dia memperbolehkan kami naik busnya karena memang setiap orang yang naik subway boleh naik bus dengan gratis!

    how lucky you are… btw, ini peraturan resmi atau krn supirnya emang ga ada kembalian?dulu,pas Indonesia dpt sumbangan bis dr Jepangyg model kayak gt, awal2 penumpang agak disiplin bayar uang pas dimasukkan ke bolongan gt (whatever lah namanya). tp krn ribet banyak yg ga bawa uang pas dan ga bayar (kayaknya ini alasan yg paling tepatnya hehe…), trpaksa tuh bis pk kernet lg..

  7. debapirez said: how lucky you are… btw, ini peraturan resmi atau krn supirnya emang ga ada kembalian?dulu,pas Indonesia dpt sumbangan bis dr Jepangyg model kayak gt, awal2 penumpang agak disiplin bayar uang pas dimasukkan ke bolongan gt (whatever lah namanya). tp krn ribet banyak yg ga bawa uang pas dan ga bayar (kayaknya ini alasan yg paling tepatnya hehe…), trpaksa tuh bis pk kernet lg..

    Memang aturan resminya demikian Ded. Jadi, semacam bus transfer dari subway ke tempat tujuan kita. Iya yak, jaman kapan tuh pernah ada model bus tanpa kenek? Kalau bus di desaku, Ded, orang yg gak bawa uang pas ya gak boleh naik. Tegas banget supirnya.

  8. perjalanan panjang mau ketemu lady liberti ya Mbak :pternyata subway disana pun nga terawat berarti bener ya di film2 kalo di subway tengah malem suka banyak orang jahat hihihi *kebanyakan nonton film impor*

  9. fendikristin said: perjalanan panjang mau ketemu lady liberti ya Mbak :pternyata subway disana pun nga terawat berarti bener ya di film2 kalo di subway tengah malem suka banyak orang jahat hihihi *kebanyakan nonton film impor*

    Stasiun subwaynya memang gak nyaman, kumuh gitu. Eh, tergantung lokasinya sih. Ada stasiun subway yang rapih juga, seperti di Times Square. Kejahatan udah menurun, Kris sejak Walikota Giullani berkomitmen memberantas kejahatan di NYC.

  10. martoart said: foto gedung dengan jendela lingkar itu apakah yg pernah ditinggali Andy Warhol?anyway…

    Malah gak tahuuuu… mosok sih? Dia tinggal di wilayah mana? Ini sih bukan distrik kesenian/galeri.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s