[NYC series part 4] Akhirnya Sampai Juga

Setelah beristirahat cukup, bahkan terlalu berlebihkan karena si Bungsu sulit sekali dibangunkan, kamipun bersiap menuju si Apel Besar. Setelah mandi, kami sarapan di ruang makan hotel yang letaknya dekat dengan meja resepsionis. Sarapan yang tersedia terdiri dari bagel (donat keras), muffin, toast, serta sereal. Gak ada yang sreg di lidah saya, tapi tetap saya santap bagel dengan olesan cream cheese. Untungnya anak-anak sudah terbiasa makan sereal. Yang paling tersiksa tentu saja suami saya yang lidahnya terasa belum makan kalau tak ketemu nasi. Tapi dia paksakan diri untuk memakan muffin demi tenaga buat nyupir selama kira-kira 7,5 jam ke depan.

Perjalanan masih menempuh wilayah pegunungan, tapi belokannya sudah tidak seseksi saat sebelum bermalam. Kami sempat mampir ke sebuah resto bernama Crown Kitchen yang menyediakan makanan ayam goreng dan gyros. Anehnya, kami tak bisa makan di dalam resto karena tidak ada bangku atau meja sama sekali. Jadi, cuma tersedia ruang kosong dan meja kasir sekaligus pemesanan makanan yang dilapisi kaca tebal. Agak was-was juga melihatnya, mengingat adanya kaca pelapis itu bisa berarti bahwa daerah itu rawan perampokan. Saat menunggu makanan kami siap, sempat ada seorang lelaki kulit hitam yang mengucap salam pada kami. Kami sempat ngobrol sebentar yang diawali dengan pertanyaan: “Are you Suni?” (Suni atau Sufi… gitu kali maksudnya). He…he…he.. lucu juga ya pakai ngecek dulu. Kalau aku jawabnya aliran kebatinan atau sungai Musi, bakal terus diajak ngobrol gak ya?

Selesai makan siang di dalam mobil, yang lumayan enak, kami langsung berangkat lagi. Perjalanan nyaris tanpa hambatan berarti kecuali satu kali saat GPS alias Mbak Lori tiba-tiba jadi kumat ngaconya dan membawa kami tersasar ke jalan yang sedang ditutup untuk diperbaiki. Bukan hanya kami yang menjadi korban petunjuk sesat GPS dan ketiadaan petunjuk jalanyang memadai, beberapa mobil lain juga terlihat mendadak berhenti dan memutar balik begitu melihat tanda jalan sedang ditutup untuk diperbaiki. Tumben-tumbenan nih orang sini ngaco begini. Biasanya kalau ada perbaikan jalan, seminggu sebelum jalan ditutup sudah ada tuh papan jalan sementara/portabel dengan lampu kedap-kedip yang menyatakan bahwa jalan akan ditutup.

Sesudah makan siang, kami langsung melaju menuju Nyuyok. Sempat mampir di beberapa kota untuk isi bensin. Yang unik waktu mampir di Hoboken New Jersey yang pompa bensinnya lengkap dengan petugasnya yang menerima uang dan menjalankan prosedur isi bensin. Lah, ini persis kayak di Indonesia. Kok beda sendiri ya? Dimana-mana kalau isi bensin di Ngamriki sih biasanya pengemudi mobilnya mengisi sendiri setelah sebelumnya membayar di kasir. Rupanya di New Jersey hukumnya memang berbeda. Namanya juga negara Federal yak, hukum di tiap negara bagian memang bisa berbeda-beda.

Karena jam berangkat yang kesiangan dan pake nyasar-nyasar pulak, perkiraan akan sampai sekitar jam 4 sore langsung molor dan saya menelepon Aunty Joan untuk mengabarkan keterlambatan ini. Sebelumnya Joan memberitahukan pada saya bahwa dia dan suaminya akan pergi bakar-bakar alias barbequing yang merupakan tradisi di sini bukan hanya saat 4th of July tapi juga sepanjang musim panas. Untungnya Joan membatalkan rencana perginya sehingga saya juga lega, gak merasa bersalah sudah membuat orang menunggu-nunggu gara-gara keterlambatan kami.

Kami memasuki New York City melalui Holland Tunnel yang langsung membawa kami menuju Canal street yang ternyata bagian dari China Town. Oh ya, kami harus membayar tol untuk bisa melewati Holland Tunnel. Ada dua terowongan panjang yang menghubungkan New Jersey dengan NYC: Holland Tunnel dan Lincoln Tunnel dan untuk melewati keduanya kita harus bayar tol.

Alih-alih berharap melihat gedung-gedung tinggi nan megah, justru daerah agak kumuh yang ramai orang dengan sampah bertebaran yang kami lihat untuk pertama kalinya saat menjejakkan roda di NYC. Di sepanjang trotoar banyak orang berjualan, dari makanan, buah-buahan, sampai tas-tas bermerek palsuan. Anehnya, melihat pemandangan semrawut seperti itu, kami malah feel right at home. “Kayak Jakarta ya!” seru suami saya dengan senang. Ha…ha…ha. Beneran, berasa di Glodok karena hampir semua gedung bertuliskan aksara Cina yang berdampingan dengan tulisan latin.

Sayangnya tak banyak foto yang bisa saya ambil karena mobil harus melaju dengan cepat dan lincah karena suami saya harus menyesuaikan diri dengan kegalakan pengemudi kota NYC. Yap, seperti bisa diduga, tabiat pengemudi di NYC ternyata jauuuh sekali dari pengemudi di desa kecil kami. Di NYC pengendara mobil lebih meliuk-liuk, salip sana-sini dan gak sabaran.

Perasaan lelah hilang seketika saat menyadari bahwa kami sudah tiba di NYC. Oh leganya! Meskipun pandangan pertamanya belum sampai menyentuh Manhattan dan ikon-ikon lainnya karena kami harus segera membelok ke kanan menuju Brooklyn. Kami berharap GPS akan membawa kami melintasi Brooklyn Bridge yang terkenal itu, tapi sayangnya justru dibawa menuju Manhattan Bridge. Dan ternyata jembatan Brooklyn sedang diperbaiki sehingga beberapa bagiannya diplester yang mengurangi keindahannya.

Kesan pertama saat melihat Brooklyn hampir sama seperti saat sampai di China Town, kok mirip dengan di Indonesia ya? Bangunan di Brooklyn kebanyakan kecil-kecil, bukan gedung2 tinggi pencakar langit. Dan di sepanjang jalan-jalan utamanya penuh toko yang bertebaran dan tampak tak beraturan. Jalan-jalannya juga tidak terlalu mulus, ada bagian-bagian jalan yang bukannya bolong sih, tapi jegluk-jegluk tak rata. Saya perhatikan ada banyak sekali toko buah, toko-toko etnik dan resto Cina di Brooklyn.

Lingkungan tempat rumah Joan berada ternyata tidak begitu jauh dari keramaian, hanya beda satu blok sudah banyak toko-toko kecil. Tapi di sekitar rumah Joan sendiri hanya ada rumah-rumah yang hampir seragam bentuknya. Rumah Joan yang bertingkat tampak seperti rumah Barbie karena warna pastel dan bentuknya.

Pasangan Joan dan Carl menyambut kami dengan ramah. Mereka berkulit hitam dan usianya mungkin 45-an. Carl beraksen Jamaica yang sangat kental, saya langsung teringat lagu-lagunya Bob Marley. Ternyata studio yang akan kami tempati itu ada di ruang bawah tanah alias basement! Oalahhh… pantes murah. Pakemnya memang ruangan di basement sewanya lebih murah karena lokasinya dan biasanya kurang penerangan dan ventilasi. Untungnya studio ini didesain sangat apik oleh Joan dan Carl sehingga tidak terasa seperti gudang yang dipaksakan jadi kamar. Mereka memberi penjelasan yang sangat mendetail mengenai studio mereka, sampai cara menyalakan lampu aja dijelaskan…ha…ha…ha.

Setelah Joan dan Carl meninggalkan kami, baru kami bersiap beres-beres pakaian dan pernik2 lainnya. Sayangnya semua ruang penyimpanan, baik closet maupun lemari dikunci atau digembol rapat oleh yang punya rumah. Akhirnya semua pakaian kami biarkan ada di dalam kopor dan barang2 berserakan di ruang tamunya. Jadi berantakan deh.

Rencananya kami mau melihat kembang api dalam rangka perayaan 4th of July di Sungai Hudson. Tapi karena “orientasi” yang diberikan Joan memakan waktu lama, dan dengan pertimbangan bahwa jalanan pasti akan macet total, kami terpaksa membatalkan niat tersebut. Kami malahan pergi mengunjungi sebuah resto Cina halal untuk membeli makan malam.

Pengunjung resto ini lebih banyak yang memesan lewat telepon dan menjemput makanan yang telah siap. Untuk makan di tempat tidak terlalu nyaman karena tempatnya sangat sempit dan banyak… tukang minta-minta. Inilah fenomena kota besar, ada yang bisa menjadi kaya sekali sampai punya gedung sendiri seperti Rockefeller dan Donald Trump, dan ada juga yang tersuruk dan menemukan nasib kurang baik.

Setelah makan malam di rumah Joan, kamipun bersiap tidur sambil membayangkan tempat-tempat yang akan kami kunjungi dalam 7 hari ke depan. “Akhirnya sampai juga ke New York ya Ma,” ucap suami saya sambil tersenyum lebar sebelum kami tertidur. Alhamdulillah.

(bersambung)

PS: Foto-foto ada di sini dan situ.

Advertisements

37 thoughts on “[NYC series part 4] Akhirnya Sampai Juga

  1. penuhcinta said: PS: Foto-foto lebih banyak akan menyusul.

    Lebih disukai jika foto-fotonya adalah foto cewek single bule muslim, buat dijodohin sama saya πŸ™‚ *ngilang*

  2. Waktu ke New York, mampir ke White Lake, Bethel town nggak Ma?Gila, itu sejarah awalnya Woodstock Music Festival, apalagi pas tanggal-tanggal Woodstock konser. Ditunggu deh jurnalnya Irma pas ada acara itu dan Irma sekeluarga ikutan nonton.Tapi pertanyaannya, Irma suka sama musik rock nggak ya?Kalo nggak suka sih wajar, tapi kalo nggak suka pake rok, suka yang polos-polosan aja, berbahaya! Di depan suami sih nggak apa, he he he…* Binun, komentar gw jadi kaco-balo begini…

  3. hihihihihi…semrawut identik dengan Jakarta. China Town dimana mana sama, semrawutnya. Di SF iya. Kalau di LA Latino. Trus keliling NYCnya naik apa? Mobil juga? Parkir di NYC nggilani pol, sejam (atau sehari ya?) USD 8. Mending pake tiket angkot harian. Yang di bawah umur kalau gak salah gretongan.

  4. luqmanhakim said: Tapi pertanyaannya, Irma suka sama musik rock nggak ya?Kalo nggak suka sih wajar, tapi kalo nggak suka pake rok, suka yang polos-polosan aja, berbahaya! Di depan suami sih nggak apa, he he he…* Binun, komentar gw jadi kaco-balo begini…

    *pletaxxxx

  5. penuhcinta said: Bukan hanya kami yang menjadi korban petunjuk sesat GPS dan ketiadaan petunjuk jalanyang memadai, beberapa mobil lain juga terlihat mendadak berhenti dan memutar balik

    Semoga pada disadarkan bahwa petunjuk jalan yg benar adalah Quran.Buang GPS kalian, jauhi berhala duniawi.Allahuakbar!*ehem, ..

  6. nitafebri said: ruangannya di poto gak..kayak apa siih ruang bawah tanahnya.

    Difoto donk, tapi pas hari terakhir Nit, karena pas hari pertama keburu capek dan ruangannya berantakan gara2 tas2 kami ngejegrak dimana-mana.

  7. aguskribo said: Lebih disukai jika foto-fotonya adalah foto cewek single bule muslim, buat dijodohin sama saya πŸ™‚ *ngilang*

    Please deh Gus… foto ruangan yak, mosok jd foto cewek?

  8. luqmanhakim said: Waktu ke New York, mampir ke White Lake, Bethel town nggak Ma?Gila, itu sejarah awalnya Woodstock Music Festival, apalagi pas tanggal-tanggal Woodstock konser. Ditunggu deh jurnalnya Irma pas ada acara itu dan Irma sekeluarga ikutan nonton.Tapi pertanyaannya, Irma suka sama musik rock nggak ya?Kalo nggak suka sih wajar, tapi kalo nggak suka pake rok, suka yang polos-polosan aja, berbahaya! Di depan suami sih nggak apa, he he he…* Binun, komentar gw jadi kaco-balo begini…

    Man! You’re back! Hi..hi…hi… akhirnya ada lagi deh komen edannya Luqman. Kayaknya itu agak jauh deh Man dari NYC. Gue pan muter2nya di dalam kota aja. Lagian gue kagak terlalu doyan rock… batu2an kan? Gak enak dikunyahnya atuh, kerasss!

  9. enkoos said: hihihihihi…semrawut identik dengan Jakarta. China Town dimana mana sama, semrawutnya. Di SF iya. Kalau di LA Latino. Trus keliling NYCnya naik apa? Mobil juga? Parkir di NYC nggilani pol, sejam (atau sehari ya?) USD 8. Mending pake tiket angkot harian. Yang di bawah umur kalau gak salah gretongan.

    Aku curiga memang sengaja didiamkan saja biar semrawut, mbak. Mosok yang biasanya rapi, membiarkan saja satu wilayah jadi berantakan gitu? Aku keliling NYC naik bus dan subway, mbak. Kalau pake mobil sih gak ku-ku bayar parkirnya. Waktu baru datang dan berencana lihat kembang api sih niatnya naik mobil karena pertimbangan belum tahu medan, udah malam, dan takut kemalaman gak ada bus lagi (pedehel ada bus 24 jam).

  10. pingkanrizkiarto said: Nunggu poto ah…Eh tumben satu mpe lima gak diborong sendiri…

    Aku lupa mborong je mbak! Ha…ha…ha.. keburu mau kabur ke supermarket beli school supply buat anak2.

  11. martoart said: Semoga pada disadarkan bahwa petunjuk jalan yg benar adalah Quran.Buang GPS kalian, jauhi berhala duniawi.Allahuakbar!*ehem, ..

    Hi…hi…hi… kok tahu kalo si GPS gue sembah2 sampe bongkok?

  12. tintin1868 said: walah kaya di indo saja ya mo makan ada tukang mintaminta.. kog ga protes gitu ma joan ga dikasih lemari kosong aja?

    Ho-oh, aku juga mikirnya gitu. Yang kurang cuma tukang ngamen aja. Eh tapi tukang ngamen ada lo di NYC, cuma mereka gak jalan2 dan meneror orang2 yg lagi makan.Aku cukup protes tertulis saja, karena aku anggap gak terlalu darurat, mbak. Baju2 masih bisa di kopor.

  13. fendikristin said: sampai juga di New York…New Yooorrrrkkkk *lagu New York* hahahhaaMbak..foto-nya doonnkkkk πŸ˜€

    Loh, kan udah aku pajang Kris…hmmm.. belum kasih link-nya ya. Edit dulu deh.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s