[NYC series part 3] Perjalanan Penuh Tantangan

Seperti biasa, sebelum berangkat saya selalu bercita-cita bahwa semua barang sudah dipak rapi dan sudah masuk bagasi, semua berkas-berkas perencanaan sudah dicetak, disimpan di map, dan siap dibawa, dan malam sebelum berangkat kami semua bisa cukup tidur. Tapi apa daya, tiap kali hendak bepergian jauh, justru saya dan suami selalu telat tidur, biasanya di atas jam 12 malam. Ini karena kami pasti masih sibuk mengepak dan beres-beres.

Seperti malam sebelum keberangkatan ke NYC, saat jam menunjukkan jam 1 malam, saya masih beres-beres bersama suami. Padahal besok ingin berangkat pagi-pagi sekali. Kalau bisa sih sehabis sholat subuh langsung berangkat. Tapi ya… begitulah. Kami akhirnya berangkat jam 8.30 pagi. Kesiangan sebenarnya untuk sebuah perjalanan jauh. Tapi sudahlah, daripada menyesali, mendingan menikmati perjalanan.

Si Hejo, mobil Hyundai keluaran 2000 (bilangin juga udah jompo2) yang jadi andalan keluarga kami akhirnya melaju menuju NYC. Rute yang akan kami tempuh akan melewati negara-negara bagian berikut ini: Indiana (IN), Kentucky (KY), West Virginia (WV), Pennsylvania (PA), Maryland (MD), New Jersey (NJ), dan akhirnya New York (NY).

Di kota Lexingtin, KY kami berhenti sejenak untuk makan siang yang sangat telat karena sampai di sana sudah jam 3-an. Untungnya selama di jalan kami sudah sarapan cukup berat dengan bekal arem dan tahu isi, jadinya tak terlalu kelaparan. Karena didera sakit perut selama perjalanan, saya tak memesan makanan. Resto bernama Taste of Chicago #5 ini menyediakan makanan khas Ngamrikah seperti sub, burger, hot dog, dan sayap ayam goreng. Menurut suami, makanannya cukup enak. Tapi untuk icip-icip saja, saya tak berminat karena perut mules bukan main.

Sakit perut saya baru mereda setelah minum obat. Belakangan, saya tahu bahwa sakit perut itu disebabkan tamu bulanan. Saking sibuknya persiapan kok sampai gak ngeh sama jadwal sendiri ya? He…he.

Dan karena minum obat pula, saya teler sepanjang jalan setelah Lexington. Di tengah perjalanan, saya terbangun dengan tiba-tiba dan sangat kaget karena di depan mata terlihat bahwa moncong depan si Hejo sudah akan menabrak sebuah kapal bermotor yang sedang diangkut di atas trailer yang ditarik sebuah truk bak terbuka. Jaraknya sudah dekaaaat sekali, tinggal beberapa inci saja. Saya langsung refleks menepuk lengan suami sambil berkata kalem, “Yah, hampir nabrak tuh!”

Suami saya langsung terbangun. Hah, terbangun? Yap, dia ternyata tertidur sambil tetap mengemudi! Bahaya banget, kan?

Kalau saja saya tidak tiba-tiba terbangun lebih dulu dan membangunkannya, mungkin kami tak akan pernah tiba di NYC. Saat itu kami cuma bisa mengucap syukur berulang-ulang karena kejadiannya sulit dipercaya. Seolah memang ada yang membangunkan di detik-detik terakhir.

Karena peristiwa hampir menabrak itu, suami saya malah setelah itu hilang ngantuknya dan kami melaju terus sampai mulai memasuki wilayah West Virginia. Kami kemudian berniat mampir ke masjid untuk beribadah. Dari situs Zabihah, saya sudah menemukan sebuah masjid di kota Charleston WV. Ternyata masjid itu sepi sekali, tak ada orang selain kami. Karena sepinya, seekor rusa betina sampai tak malu-malu menunjukkan sosoknya di balik pepohonan. Bukannya buru-buru sholat, kami malah potret-potret rusa dan diri sendiri dulu deh.

Lucunya, ternyata pintu utama masjid itu dikunci. Dan hanya satu pintu yang bisa dibuka, yaitu pintu samping menuju ruang pertemuannya. Masih dengan tertawa-tawa karena senang baru melihat rusa, kami masuki ruangan dan mencari tempat berwudhu. Saat itu saya mendengar suara “nguing-nguing” aneh yang makin lama makin keras. Ternyata suara itu adalah suara alarm! Wah gawat! Rupanya pintu yang bisa dibuka itu dipasangi alarm. Berarti kami bisa dianggap breaking and entering neh! Kriminal tuh!

Saya langsung deg-degkan dan suami langsung mengomando kami untuk… kaboooor. Ha…ha…ha. Lucunya, saat melihat bahwa di tempat parkir ada kamera, suami langsung ngomong ke kamera itu, “We just wanted to pray.” Daripada jadi masalah. Kalau sampai ditangkap polisi cuma gara-gara salah paham kan berabe. Lagian kenapa sih masjid dikasih alarm begitu? Heran deh.

Akhirnya kami sholat di salah satu rest area yang selalu tersedia setiap berpuluh mil. Wudhu hanya dengan air minum botolan dan sholat dengan duduk di mobil. Ya mau gimana lagi.

Setelah beristirahat sejenak di Rest Area, kami melanjutkan perjalanan. Dan mulai terasa bahwa jalan yang tadinya lurus-lurus saja, mulai lebih banyak kelokannya. Alamak, ternyata yang akan kami lewati adalah wilayah pegunungan. Jalannya penuh tikungan dan dibatasi tebing-tebing batu yang dipapas. Indah sekali pemandangannya, apalagi kami menempuhnya saat menjelang matahari terbenam.

Selain indah, jalan bernama I-79 ini juga berisiko tinggi karena tikungannya banyak yang tajam dan panjang. Kami pun berniat akan segera mencari penginapan sebelum hari bertambah gelap, karena tampaknya jalan di pegunungan ini lumayan jauh jarak tempuhnya. Gak habis-habis gitu lo kelokannya.

Seperti sudah bisa diduga, tidak banyak pemukiman di tepian jalan I-79 ini. Yang namanya wilayah pegunungan atau hutan di sini pasti cuma menyediakan sedikit jalan keluar dari Insterstate (jalan antar kota). Jalan keluar dari Interstate biasanya akan menuju sebuah kota kecil yang menawarkan beberapa fasilitas seperti pom bensin, restoran, dan penginapan. Namun, karena hanya ada sedikit kota persinggahan di sepanjang rute jalan ini, maka pencarian hotelpun menjadi sulit.

Loh, bukannya sudah dirancang akan transit di kota mana saja? Ya… begitu deh. Karena keterlambatan waktu keberangkatan, rencana kota transit pun buyar. Meskipun saya sudah membuat ancang-ancang akan sampai di kota mana, tapi kenyataannya sudah jam 9 malam dan kami masih jauuuh dari kota transit tujuan. Akhirnya kami terpaksa berburu penginapan dengan cara tradisional: mengandalkan GPS dan Internet di HP.

Hotel pertama yang kami datangi terletak di atas bukit. Padahal cuma hotel kelas 2, tapi mereka menetapkan tarif 95 dollar, belum termasuk pajak. Sialan! Segitu sih bisa dapat hotel tengah kota Chicago. Saya langsung minta suami untuk cabut dan menuju kota pemberhentian selanjutnya dan berburu penginapan di sana saja.

Langit sudah sangat gelap, ditambah lagi dengan penerangan di jalan raya yang sangat minimal. Kamipun menerapkan strategi konvoi, berusaha sedekat mungkin mengikuti mobil di depan supaya ada temannya. Ternyata pengemudi mobil-mobil lainpun memiliki pikiran yang sama. Maka berderetlah mobil-mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang berbahaya ini. Lucu, seperti main ular naga panjangnya.

Tanpa sadar, bensin di tangki semakin menipis. Tahu-tahu, sudah hampir mendekati garis merah batas bawah. Panik, suami saya langsung membelok menuju jalan keluar berikutnya tanpa melihat tanda di pinggir jalan apakah tersedia bensin atau tidak. Ternyata tidak ada pom bensin! Dan sialnya saat hendak kembali ke Interstate, suami saya salah ambil jalan dan kami akhirnya menuju arah sebaliknya! Waks! Alhasil, kami harus cari jalan keluar berikutnya, yang jauuuh sekali, dan memutar balik. Tetap, tanpa menemukan bensin. Perkiraan saya, daerah yang sedang kami lewati pasti daerah udik banget yang sampai pom bensinpun tak ada.

Rasanya deg-degkan banget saat itu. Bayangan bahwa kami akan terdampar dalam mobil tanpa bensin di daerah pegunungan yang tak berpenghuni mulai menghantui. Eh mungkin juga ada penghuninya di hutan-hutan, soalnya beberapa kali kami melihat tanda “Awas ada kijang dan beruang” yang mengingatkan pengemudi untuk berhati-hati, takutnya ada hewan liar yang menyeberang jalan.

Padahal waktu ke Florida kan sudah pernah ya kejadian nyaris habis bensin? Lalu kenapa sekarang berulang sih? Meski kesal, tapi saya gak ngomong apa-apa. Selain bakal nambah masalah karena pasti bakal berantem, saya juga gak mau menambah kepanikan suami. Berdoa saja deh agar bisa segera menemukan pom bensin dan penginapan.

Hari semakin gelap dan seramnya, kilat mulai terlihat. Dan terjadilah hal yang paling tidak ideal. Dengan bermobil yang nyaris habis bensin, di tengah kegelapan malam, dalam keadaan hujan lebat, kami berusaha melintasi jalanan penuh kelokan di wilayah pegunungan. Sempat menyesal juga sih, kenapa tadi tak menginap di hotel tadi ya. Kalau sudah risiko tinggi begini, selisih berapa puluh dollar tak ada artinya, bukan?

Sekarang tak ada yang bisa dilakukan selain tetap berjalan dan berharap ada kota terdekat yang muncul di depan sana. Setiap rambu penanda jalan saya baca lekat-lekat di balik kaca mobil yang terguyur hujan.

Syukurlah tak berapa lama, saat hujan sudah mulai mereda, tampaklah sebuah kota yang cukup besar. Dari rambu-rambu sebelum memasukinya, kami tahu bahwa ada beberapa hotel dan pompa bensin di situ.

Urusan bensin aman. Namun untuk hotel, kami tetap berusaha mencari yang lebih murah dan menemukannya di kota Bridgeport, WV. Dengan tarif di bawah yang dianggarkan dan fasilitas sarapan pagi, kami merasa motel Super 8 ini cukup layak untuk diinapi.

Anak-anak yang sedari tadi terlelap kami gendong menuju kamar motel. Barang yang dibawa hanya tas kecil berisi pakaian ganti untuk semalam dan sikat gigi, serta makanan yang akan kami simpan di kulkas. Sesampainya di kamar, anak-anak malahan bangun dan jadi lincah sekali. Menginap di tempat baru biasanya memang membuat anak2 jadi excited. Si Bungsu menjelajah kamar, melakukan inspeksi sampai ke kamar mandi. Meski sudah pukul 11 malam, tapi mereka masih mau diminta untuk mandi dengan air hangat dan setelah sikat gigi mereka baru tidur kembali.

Lega rasanya berhasil tiba di satu titik pemberhentian setelah melalui banyak sekali kejadian di sepanjang perjalanan tadi. Semoga besok perjalanannya lebih lancar dan bisa selamat tiba di NYC.




Foto-foto perjalanan bisa ditengok di sini. Cekidot Gan!

(bersambung)

Advertisements

96 thoughts on “[NYC series part 3] Perjalanan Penuh Tantangan

  1. enkoos said: BWHAHA.. HAHA.. HAHAAHAHAson too hot? kwkwkwkwkkwk…hadoh hadohhhhhhson = anak laki2too hot = terlalu panasjadi maksute opo? anak terlalu panas?

    sun maksudku bukan son, tapi pelapalane kedenger son as a “anak”jadi matahari terlalu panas, lah aku khan ya bingung, dadi nambah lehku edyan taaa… :))

  2. ohtrie said: sun maksudku bukan son, tapi pelapalane kedenger son as a “anak”jadi matahari terlalu panas, lah aku khan ya bingung, dadi nambah lehku edyan taaa… :))

    son to it? hot jadi it?

  3. enkoos said: son to it? hot jadi it?

    yups…kedenger dikupingku dan kuping temen2ku adalah “santu’it”so dia minta AC ditambah dinginnya.. :):))

  4. ohtrie said: yups…kedenger dikupingku dan kuping temen2ku adalah “santu’it”so dia minta AC ditambah dinginnya.. :):))

    *masih ngikik*jadi kedengeren redundant. sun itu dah panas. dikasih too hot ya jadi gimana gitu deh. maklum aja trek, bukan bahasa mereka.Kita sendiri kan juga banyak yang begitu, belepotan berbahasa semut rang rang. Yang penting tahu kapan dan dimana menggunakannya.

  5. enkoos said: Kita sendiri kan juga banyak yang begitu, belepotan berbahasa semut rang rang. Yang penting tahu kapan dan dimana menggunakannya.

    Nah point nya sebenernya disini mBakk…Bisa menghargai karya lain, kalopun ada yang mau didebat n didiskusiin ya musti gentle n make-sense taa….

  6. ohtrie said: Nah point nya sebenernya disini mBakk…Bisa menghargai karya lain, kalopun ada yang mau didebat n didiskusiin ya musti gentle n make-sense taa….

    Seratus buat gotrek!!!Tumben serius trek? Nyamar jadi sapah?

  7. enkoos said: wow….pake bahasanya wong kampungan (Inggris). nak jadi budaknya semut rang rang?kwkwkwkwkkwkw*nyamar jadi Mutitem*

    Mutitem nggemesin deh kamuuu! Pengen aku pites.

  8. ohtrie said: wakakaka…5 hari aku ketemu tamu group Arab n China mBakkk…Linggise parahhhh, aku dadi melu nambah goblokeeee…… ana basa kok santu’it = son too hot = begahhh… jengkel tapi ngakak :))

    Santu’it… beda banget dari sun too hot…kalo itu maksud mereka ya. Tapi buat beberapa bangsa, pelafalan Inggris memang sulit cuuu. Contohnya orang Jepang, aksennya saat bicara bahasa Inggris pasti terdengar dan sulit dimengerti.

  9. penuhcinta said: Contohnya orang Jepang, aksennya saat bicara bahasa Inggris pasti terdengar dan sulit dimengerti.

    emm, emmmm, plis konek mi tu kicing…. ==> Japaneseplease cconnect me to kitchen, maksude…. 🙂

  10. nonragil said: Wih….ngeri juga tuh suami sempat ketidur, Ir. Tapi, untung Irma sekel masih dlm lindunganNYA. Perjalanan yg banyak deg-degannya….ya? hehehehehe

    Ho-oh mbak, aku merasa bisa bangun pas mau banget mau nabrak itu juga karena kuasa Tuhan. Iya, perjalanan paling menegangkan.

  11. ohtrie said: emm, emmmm, plis konek mi tu kicing…. ==> Japaneseplease cconnect me to kitchen, maksude…. 🙂

    Hua…ha…ha… kicing? Cicing…cicing kalo kata orang Sunda.

  12. kehabisan bensin ? berasa deja vu beneran niy yg baca …hueheheheheayo mb IR…teruskan…aku paling seneng niy baca2 kisah perjalanan bermobil melintasi banyak negara bagian gini*kemaren baca kisah persiapannya tapi lupa komen*

  13. myshant said: kehabisan bensin ? berasa deja vu beneran niy yg baca …hueheheheheayo mb IR…teruskan…aku paling seneng niy baca2 kisah perjalanan bermobil melintasi banyak negara bagian gini*kemaren baca kisah persiapannya tapi lupa komen*

    Makasih dukungannya ya Shant. Jangan lupa vote untuk aku di…hi…hi…hi.Makanya, habis bensin kok jadi berulang begini sih? Doyan kaleee.

  14. penuhcinta said: Ayo Saaa…. segera ke sini. Jadi kan berburu beasiswa?

    jadi dong! tp keluarga lebih prefer aku ke negara matahari dulu mbak. ntar deh aku cari joint research ama amrik. hope 2 years again I can step on in the California. and we will create a “kopdar” ^___^.v

  15. srisariningdiyah said: weh aku juga pernah tu tidur sambil nyetir ya gitu deh kalo udah mendadak bangun jantung rasanya udah copot aja *cengengesan*

    Nah kan? Kalo nyetir jarak jauh bahayanya kan memang ngantuk. Untung gak apa2 ya.

  16. isaanshori said: jadi dong! tp keluarga lebih prefer aku ke negara matahari dulu mbak. ntar deh aku cari joint research ama amrik. hope 2 years again I can step on in the California. and we will create a “kopdar” ^___^.v

    He…he… amiiin. Jangan membatasi diri, Sa. Semua aja dilamar karena itu dulu yang dilakukan banyak rekan2ku. Mereka lamar kemana2.

  17. penuhcinta said: He…he… amiiin. Jangan membatasi diri, Sa. Semua aja dilamar karena itu dulu yang dilakukan banyak rekan2ku. Mereka lamar kemana2.

    hehe.. ngga kok mbak. aku lamar semua dulu. ntar setelah keterima semua baru aku pilih 🙂

  18. isaanshori said: hehe.. ngga kok mbak. aku lamar semua dulu. ntar setelah keterima semua baru aku pilih 🙂

    Iya, memang seperti itu yang lebih masuk akal. Mudah2an berhasil ya Sa.

  19. tintin1868 said: ngakak baca ada alarm.. dan itu kog kejadian lagi kehabisan bensin? lain kali bawa jerigen sajalah..

    Ha…ha…ha… iya mbak… kok gak kapok2 kehabisan bensin yak? Kayaknya musti tuh bawa jerigen.

  20. fendikristin said: aku baca-nya sampe melotot…deg2an banget perjalanan-nya Mbak Irma…tapi fun banget deh! *punya mimpi juga jalan2 jauh naik mobil sendiri*

    Hi…hi…hi… iya, memang ini yg paling menegangkan. Apalagi aku suka nonton horor dan pernah nonton satu film judulnya Wrong Turn tentang org2 yg nyasar ke daerah hutan dan menemui nasib yang hiiiyyy… enggak banget deh. Jadi pas kemarin itu, aku berusaha menenangkan diri sendiri saja dan menyingkirkan pikiran horor. Pasti bisa, Kristin… pasti bisaaaa. Dengan rencana matang lebih bagus lagi.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s