Pekerjaannya? Di Kamar Melulu!

Aku memulai pekerjaan sebagai penerjemah lepas pantai (bayangkan Pamela Anderson berbaju renang merah lagi ngedeprok di depan lapie) dengan agak lebih serius bukan karena aku memang doyan, tapi karena keadaan dan kebetulan.

Setelah aku jatuh dari motor tahun 2003 yang menyebabkan kaki kananku somplak dan tak bisa digunakan, aku mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku sebagai pengajar di sebuah sekolah tinggi bahasa asing yang berlokasi di wilayah Jakarta Selatan. Sungguh aduhai karena di saat aku pakai kruk dan gips itu, penyakit cacar air menghinggapiku dan kemudian juga menulari Imo yang baru satu tahun.

Akhirnya aku terkurung di rumah selama berbulan-bulan. Untungnya masih ada dua orang asisten yang membantuku, yang satu khusus merawat Imo dan yang satu lagi mengurus rumah. Sebenarnya dilematis juga saat itu. Mempertahankan asisten berarti pengeluaran besar padahal pemasukan saat itu berkurang karena sumbernya sekarang cuma satu, dari gaji suamiku. Tapi untuk melepas mereka juga tak mungkin karena pergerakanku sangat terbatas. Mau balik ke rumah ortu? Ah, tak usahlah merepotkan mereka yang sudah banyak membantu kami.

Masa-masa itu aku sempat hampir frustasi. Selain karena kondisi tubuh dan adanya kemungkinan terburuk tak bisa berjalan normal lagi, juga karena masalah keuangan yang kian mencemaskan.

Tanpa disangka salah satu temanku, yang dulu mengajar di tempat yang sama, merekomendasikan namaku ke temannya yang bekerja di salah satu institusi keuangan negara. Mereka sedang cari penerjemah untuk mengalihbahasakan siaran pers mereka dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Jujur saja, menjadi penerjemah bukanlah pekerjaan impianku. Kayaknya aku sudah pernah menulis tentang ini, tapi diulang lagi deh biar makin mantaps jayah! Ha…ha..ha. Bahkan ni ya, aku sebenarnya kurang suka dengan pekerjaan ini. Bukan apa2, aku kan orangnya lincah dan ceriah (silakan cuih2 di sinih), gak bisa gitu terpaku di depan meja lama2. Apalagi kerjaan ini seperti gak ada kontak dengan manusia lain, cuma kerja sendiri . Lah, aku kan suka bersosialisasi, apa jadinya kalau aku cuma bisa bergumul dengan komputer?

Tambahan lagi, aku tuh (psssttt jangan bilang sama penerjemah lain yak!) sebenarnya paling anti baca buku terjemahan! Hi…hi…hi. Apalagi novel terjemahan dari Inggris ke Indonesia. Heleh, bahasanya suka ancur2an! Frase dan idiom bisa diterjemahkan mentah2, kata per kata, yang artinya bisa jauuuuuhhhhhhh banget dari makna sebenarnya. Belum lagi kalau lihat terjemahan film2 di TV atau film layar lebar. Don’t get me started! Beuhhh…. ancooorrr! Sungguh, bukan sok-sok-an, aku mendingan gak baca sama sekali itu subtitle daripada pusing sendiri dan merusak suasana. Mosok lagi nonton film horor terus jadi ketawa2 karena baca terjemahan yang lucu-lucu (baca: ancooorrr).

Jadi, aku tuh sempat empet banget sama penerjemah-penerjemah di Indonesia. Kalau gak bisa dan gak ngerti, mbok ya gak usah nekad nerjemahin. Daripada jadi perusak bahasa dan membingungkan seluruh manusia Indonesia, gitu looo!

Tapi, dasar jodoh dan rejeki tuh gak akan kemana yak. Ternyata di saat aku kalut, justru pekerjaan sebagai penerjemah yang menghampiriku. Benar2 menghampiri, karena aku memang gak nyariin die! Dan dengan kondisiku yang terjebak cuma bisa kayak anak baru belajar jalan, ngider2 dengan pakai kursi komputer yang ada rodanya atau jalan pakai kruk, pekerjaan inilah memang paling ideal untuk dilakukan. Aku gak usah pergi kemana-mana, komunikasi bisa per telepon dan lewat internet.

Maka, aku pun memulai karier tak berjenjang sebagai penerjemah lepas pantai. Aku mulai dari menerjemahkan siaran pers, kemudian berlanjut karena dipercaya untuk menerjemahkan buku laporan tahunan mereka. Ini benar-benar prestasi buatku. Rasanya seperti orang penting saja, bisa mengakses dan menerjemahkan dokumen2 penting. Padahal mah…he…he.. cuma penerjemah lo.

Konsekuensi dari pekerjaanku adalah aku banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, tempat komputerku berada. Alhasil sempat terjadi salah paham akibat ketidakmengertian kedua asistenku tentang jenis pekerjaanku ini. Saat ditanya oleh mertua kegiatanku apa saja di rumah, salah satu asisten menyebutkan bahwa kerjaanku cuma ngendon di dalam kamar saja! Ck…ck…ck.. sungguh pencitraan yang negatif. Keluarga suamiku jadi menafsirkan bahwa aku adalah istri yang pemalas. Dipikirnya aku cuma bobo kayak kebo aja seharian di kamar, ha…ha…ha.

Padahal sih, kenyataannya justru sebaliknya. Sering kali, saat tenggat sedang seru-serunya mengejarku, aku masih dengan mata nyalang memainkan jari-jariku di atas tombol komputer saat orang lain sudah tertidur dengan lelapnya. Begadang untuk mengejar setoran sudah sangat biasa aku lakukan. Saat akhirnya Darrel lahir, aku bahkan sering mengerjakan tugas sambil menggendong bayi yang terlelap di pelukanku.

Dasarnya aku memang suka mempelajari hal-hal baru. Pekerjaan yang sebenarnya kumulai dengan setengah hati ini, tetap aku jalankan dengan sungguh2 dan akhirnya aku mulai menemukan keasyikannya.

Pikirku, daripada sibuk menyalahkan orang tapi sebenarnya gak berbuat apa-apa, mendingan aku yang memang punya kemampuan turun gunung sekalian dan kalau bisa mewarnai dan memberi contoh… gene nehhhh terjemahan yang bener! Sok banget ya gue? Ha…ha…ha. Tapi bener kaaan?

Terjemahan juga sangat lumayan hasilnya dari segi finansial. Modalnya cuma listrik, komputer, beberapa kamus, internet dan otak kita. Tapi hasilnya jauuuuh lebih baik daripada aku bikin kue dan jualan misalnya. Soalnya aku juga pernah lo menjajaki bisnis kue-kuean, berhubung aku suka bikin kue.

Selain itu, aku juga punya pengalaman baru beberapa kali bertamu ke gedung birokrat yang penjagaannya lumayan ketat dengan lobi bak di hotel. Hi…hi… pengalaman baru nih buat orang kampuang kayak aku. Masuk gedungnya diperiksa dan pakai pendeteksi logam (metal detector), harus menyerahkan KTP di resepsionis, hanya bisa naik kalo ada janji yang terkonfirmasi, dan untuk melewati pintunya harus dengan kunci elektronik berbentuk kartu. Ini terjadi saat kakiku akhirnya sembuh dan sudah bisa kemana-mana lagi dengan normal (horeeee!).

Klien penting ini juga pernah mengirimkan orangnya ke rumahku untuk mengantar dokumen yang harus aku tanda tangani. Dan saat itu aku berujar ke asistenku, “Nah, itu tadi orang suruhan boss saya yang mengantar dokumen yang akan saya kerjakan di rumah. Dan kalau saya di dalam kamar ya untuk melakukan pekerjaan, bukannya cuma tidur2an!”

(bersambung)

Selanjutnya: Terjemahan dan aku saat sudah di ngamrikah!

Disclaimer: Karena ini bukan tulisan resmi dan bukan orderan, jadi jangan berharap tata bahasa dan penulisannya akan rapi jali yaaa…! Silakan dinikmati dengan segala keancooorannya.

Advertisements

83 thoughts on “Pekerjaannya? Di Kamar Melulu!

  1. rirhikyu said: Wkwkwkwkwkwk, trus kata asistennya gmn?

    Diem aja mereka. Mungkin gak ngerti juga…ha…ha…ha. Kan bayangan kerjaan lazimnya adalah pergi ke luar rumah, atau berdagang di rumah (ada barangnya). Nah aku kan jual jasa, barang jadinya cuma kertas2 berisi tulisan yang mereka gak paham. Ya sutralah… wong keluarga suamiku juga ada yang gak paham juga kalau dibilangin kerjaanku apaan. Dikiranya aku cuma di rumah, full ibu rumah tangga.

  2. myshant said: kenapa harus di kamar mbak ?padahal kan bisa mbak Irma nerjemahin di teras atau di pinggir kali …hihihi

    Sembari nyuci baju yaaaa? Ha…ha…ha. Kenapa di kamar? Karena lebih tenang, gak ada orang seliweran, gak ada suara TV. Mindahin kompie juga males, karena dulu kan punyanya desk top.

  3. srisariningdiyah said: yaelah itu mah salah tokonya dehhhhhhhgatau tuh waktu itu kan aku nubie banget, asal masih bertahan di kantor itu dan dapet akses banyak, aman aja rasanya haha bodoh juga dimanfaatkan banyak ya…

    Ha…ha… iyaaaahhh… itu mash salah tempat fotokopinya ajah. Iya Rie, masih lugu ya? Sama sih, aku juga dulu dikerjain melulu, pas ngajar dikasih jadwal ngajar yang orang2 lain gak pada mau ya manut wae…ha…ha…ha.

  4. trasyid said: **mencermati**suka subtitel inggeris aja, soalnya kadang subtitelnya enggak okeh! 🙂

    Bener Guh, kalau terjemahan suka ngaco yak? Lebih aman pakai yang Inggris, atau gak usah pake sekalian.

  5. penuhcinta said: Diem aja mereka. Mungkin gak ngerti juga…ha…ha…ha. Kan bayangan kerjaan lazimnya adalah pergi ke luar rumah, atau berdagang di rumah (ada barangnya). Nah aku kan jual jasa, barang jadinya cuma kertas2 berisi tulisan yang mereka gak paham. Ya sutralah… wong keluarga suamiku juga ada yang gak paham juga kalau dibilangin kerjaanku apaan. Dikiranya aku cuma di rumah, full ibu rumah tangga.

    wkwkwkwkwk.. yo wis gpp. yg penting suami tau kan ^_^en memang siy, mayoritas org masih berpikir kerja itu kudu keluar rumah

  6. Harusnya om gugel pake jasanya mb.Irma ya…Trus tekhnologinya, nggak pake sistim perkata gituKemaren ada temen FB-ku org Nigeria, berusaha komen statusku pake bahasa Indonesia, rupanya dia pake gugel translet, wah ancur jadinya hahaha

  7. yaaa..ame assisten ngapain dimasukin ke ati say?lagian emang betul kan dikamar aja?(tp jujur euy..semangat juangmu diacuingin jempol mba ir)tp koq suka banget sih bikin CerBung?bikin penasaran aja

  8. rirhikyu said: wkwkwkwkwk.. yo wis gpp. yg penting suami tau kan ^_^en memang siy, mayoritas org masih berpikir kerja itu kudu keluar rumah

    Iya, akhirnya aku biarkan berlalu. Terserah deh mau dianggap apa. Suami gue tahu dong, kan penghasilan dari terjemahan signifikan juga buat bantu2 dia.

  9. zaffara said: Harusnya om gugel pake jasanya mb.Irma ya…Trus tekhnologinya, nggak pake sistim perkata gituKemaren ada temen FB-ku org Nigeria, berusaha komen statusku pake bahasa Indonesia, rupanya dia pake gugel translet, wah ancur jadinya hahaha

    Oh mbak Win, Google translate memang suka ancooor. Kalau sudah masuk ke frase dan idiom suka mabok tuh die…ha…ha..ha. Aku kadang pakai sebagai kamus, jadi memang cuma satu-satu kata yang kucoba cari di situ. Kalau machine translation ya begitu mbak, beda dengan terjemahan karya manusia yang pakai logika dan rasa. Aku gak sarankan pakai Google translate, kecuali orangnya desperado banget dan itu bukan dokumen yang penting. Kalau itu dokumen penting yang menyangkut nyawa orang misalnya, seperti manual buat alat kesehatan… halahh… bahaya banget tuh kalo ngaco.

  10. rosshy77 said: yaaa..ame assisten ngapain dimasukin ke ati say?lagian emang betul kan dikamar aja?(tp jujur euy..semangat juangmu diacuingin jempol mba ir)tp koq suka banget sih bikin CerBung?bikin penasaran aja

    Ha…ha…ha… betul juga ya Ros. Tapi sudah bikin pencitraan negatif di kalangan mertoku dan iparku. Suamiku sampai kesal, kenapa mereka dengerin asisten sih? Makasih Ros, tetap cemangats dong ah.. ini mah gak seberapa dibanding banyak orang lain yang diberi cobaan lebih besar.Bikin bersambung karena aku takut kepanjangan Ros, namanya juga bacaan di layar kompie/hp.

  11. debapirez said: Wah tahu gt daku hire dirimu aja jeung utk translate buku annual report.biasanya baru ada order di awal tahun…

    Beneran nih Ded? Gak nyesel nih ngomong begini? Ha…ha…ha. Tahun depan yak!

  12. itu dua asisten kudu ditraining dulu, kalu nyonyanya di kamar itu bekerja.. karena keadaan jadi bekerja depan komputer mulu.. daripada nebak2 toh.. dan kelihatannya emang gitu lah..sama ma sepupuku deh, yang di kamar mulu, tapi bukan penterjemah, dia bekerja online gitu, jualan rumah.. tapi mertuanya ga suka.. seolaholah bekerja itu harus keluar rumah.. emang sih ga pake asisten tapi rumahnya rapi jali.. anaknya sudah besar sekarang dan masih tinggal sama mertua, dan masih dicela saja pekerjaannya, padahal kalu dapat proyek rumah, duitnya lebih gede ditotal dalam setahun dibanding gaji suaminya.. tapi ya itu tetep dicela mertua.. sedih ya..

  13. tintin1868 said: itu dua asisten kudu ditraining dulu, kalu nyonyanya di kamar itu bekerja.. karena keadaan jadi bekerja depan komputer mulu.. daripada nebak2 toh.. dan kelihatannya emang gitu lah..sama ma sepupuku deh, yang di kamar mulu, tapi bukan penterjemah, dia bekerja online gitu, jualan rumah.. tapi mertuanya ga suka.. seolaholah bekerja itu harus keluar rumah.. emang sih ga pake asisten tapi rumahnya rapi jali.. anaknya sudah besar sekarang dan masih tinggal sama mertua, dan masih dicela saja pekerjaannya, padahal kalu dapat proyek rumah, duitnya lebih gede ditotal dalam setahun dibanding gaji suaminya.. tapi ya itu tetep dicela mertua.. sedih ya..

    Nah, itu dia mbak. Persepsi masayarakat pada umumnya kan kerja harus pergi ke luar rumah dan ini masih sulit diubah, meskipun internet sebenarnya sudah merasuk kemana-mana. Tapi untuk yang gaptek ya susah menjelaskan pekerjaan online macam yang aku dan sepupunya mbak Tintin kerjakan. Aih, jualan rumah pakai sistem daring… mauuu…mauuu… kayaknya seru. (loh…kok jadi ngiler).

  14. penuhcinta said: Nah, itu dia mbak. Persepsi masayarakat pada umumnya kan kerja harus pergi ke luar rumah dan ini masih sulit diubah, meskipun internet sebenarnya sudah merasuk kemana-mana. Tapi untuk yang gaptek ya susah menjelaskan pekerjaan online macam yang aku dan sepupunya mbak Tintin kerjakan. Aih, jualan rumah pakai sistem daring… mauuu…mauuu… kayaknya seru. (loh…kok jadi ngiler).

    Pakai gips kira2 2 bulan, bisa jalan lagi 3-4 bulanan deh. Gak lama kan? Dokternya sok tahu bilang aku gak akan bisa jalan normal paling enggak dalam 10 tahun. Huuuu! Nakut2in aje!

  15. penuhcinta said: dan memberi contoh… gene nehhhh terjemahan yang bener! Sok banget ya gue? Ha…ha…ha. Tapi bener kaaan?

    SETOOOJOOOOO!!! novel terjemahan di Indonesia makin banyak yang memprihatinkan sekaligus mengkhawatirkan… bisa mengajarkan cerita sesat saking bikin pembacanya bingung lantaran ceritanya bisa keplintir-plintir ha ha ha

  16. rikejokanan said: SETOOOJOOOOO!!! novel terjemahan di Indonesia makin banyak yang memprihatinkan sekaligus mengkhawatirkan… bisa mengajarkan cerita sesat saking bikin pembacanya bingung lantaran ceritanya bisa keplintir-plintir ha ha ha

    Itu baru bicara kesalahan2 fatal ya Ke. Belum lagi kalau bicara bagaimana bisa menghantar “ruh” sebuah buku ke dalam terjemahannya. Kecuali penerjemahnya gape banget dan juga ngerti sastra, kayaknya susah memang membawa “rasa” yang sama ke sebuah novel terjemahan. Pak Sapardi pernah menerjemahkan cerpen2 Australia dan hasilnya bagus. Masalahnya, penerbit biasanya semangat banget menekan biaya sekecil mungkin untuk membayar penerjemah. Ya hasilnya sesuai deh dengan biaya ecek2 yang mereka keluarkan.

  17. Menanggapi mbak Tintin. Emang sebaiknya kalo udah berumahtangga mah jangan tinggal sama ortu or mertua. Hehehe. Sebenernya ini lebih MENEKAN sama diri sendiri sih Mbak Tin. Biar makin semangat cari uang.Ortu/mertua selalu anggap anak/mantunya bocah, dan geregetan kalo liat ada yang gak sesuai seleranya. Bagaimanapun, beda jaman udah beda macemnya ya. Jadi ya sebaiknya gak keliatan biar nampak semerbak wangi, kan kalo deket mah jadi bunga bangke.*Mengamati tingkah suami yang semanis kucing kalo cuman kami berempat, dan seganas singa kalo ada emaknya. Hahaha.*Maaf mbak Ir. Curcol banyak.

  18. Mbak Irma, penerjemah itu kereeeeeeen. Salah 1 profesi plg oke saat ini. Apalagi di jakarta. Yang MUACET, berdebu dan sumpek.Kalo aku memang mendamba banget profesi yang bisa dikerjakan di rumah.

  19. penuhcinta said: Beneran nih Ded? Gak nyesel nih ngomong begini? Ha…ha…ha. Tahun depan yak!

    mdh2an tahun depan msh dpt order yak.coz sejak jd PNS, agak seret neh. kmrn aja pas dpt order agak mendadak gt. saya cm dikasih waktu 3 minggu.

  20. penuhcinta said: aku kan suka bersosialisasi, apa jadinya kalau aku cuma bisa bergumul dengan komputer?

    Itulah sebabnya diciptakan Multiply, Facebook, Twitter dan segala derivasinya.Biar yang somplak-somplak masih bisa bersosialisasi via komputer.*grin

  21. Oh….ini toh ternyata behind the story, pas kita ngobrol tentang penerjemah.Dulu, pas lagi suka nonton DVD bajakan, pernah nonton film anak-anak berbhs P’cis, lha sub-titlenya yg pakai bhs Inggris untuk film XXX, waduh….beneran kacau!!!!hehehehehehehe

  22. sarahutami said: Menanggapi mbak Tintin. Emang sebaiknya kalo udah berumahtangga mah jangan tinggal sama ortu or mertua. Hehehe. Sebenernya ini lebih MENEKAN sama diri sendiri sih Mbak Tin. Biar makin semangat cari uang.Ortu/mertua selalu anggap anak/mantunya bocah, dan geregetan kalo liat ada yang gak sesuai seleranya. Bagaimanapun, beda jaman udah beda macemnya ya. Jadi ya sebaiknya gak keliatan biar nampak semerbak wangi, kan kalo deket mah jadi bunga bangke.*Mengamati tingkah suami yang semanis kucing kalo cuman kami berempat, dan seganas singa kalo ada emaknya. Hahaha.*Maaf mbak Ir. Curcol banyak.

    Sarah, kayaknya salah tempat deh ini. Mustinya ini buat postinganku yang sebelumnya ya?

  23. sarahutami said: Mbak Irma, penerjemah itu kereeeeeeen. Salah 1 profesi plg oke saat ini. Apalagi di jakarta. Yang MUACET, berdebu dan sumpek.Kalo aku memang mendamba banget profesi yang bisa dikerjakan di rumah.

    Makasih Sarah! Hi…hi…hi… jadi malu dibilang keren.

  24. debapirez said: mdh2an tahun depan msh dpt order yak.coz sejak jd PNS, agak seret neh. kmrn aja pas dpt order agak mendadak gt. saya cm dikasih waktu 3 minggu.

    Ho-oh, becanda doang kok Ded.

  25. revinaoctavianitadr said: Itulah sebabnya diciptakan Multiply, Facebook, Twitter dan segala derivasinya.Biar yang somplak-somplak masih bisa bersosialisasi via komputer.*grin

    Iyaaa…. eh tapi, aku suka bersosialisasi bukan berarti gak somplak lo ya..ha…ha…ha. Somplak banget malahan. Jaman 2003 belum ramai kan tuh yang namanya jejaring sosial. Dulu aku main2nya di mailing list Yahoo group.

  26. revinaoctavianitadr said: Halagh, udah sepanjang ini pun masih bersambung?!!Keterlaluan!*brffft (menutup mulut menahan ketawa)

    *Segera mencari tampah untuk siap2 menangkis ulekan*Namanya juga nenek2, Vin… cerewet gitu deh.

  27. nonragil said: Oh….ini toh ternyata behind the story, pas kita ngobrol tentang penerjemah.Dulu, pas lagi suka nonton DVD bajakan, pernah nonton film anak-anak berbhs P’cis, lha sub-titlenya yg pakai bhs Inggris untuk film XXX, waduh….beneran kacau!!!!hehehehehehehe

    Iya mbak…he….he. Jadi pengen nulis gini justru karena ngobrol sama mbak Helene.

  28. nonragil said: Dulu, pas lagi suka nonton DVD bajakan, pernah nonton film anak-anak berbhs P’cis, lha sub-titlenya yg pakai bhs Inggris untuk film XXX, waduh….beneran kacau!!!!hehehehehehehe

    Hah? Jadi, jadi, terjemahannya porno gitu? Astagah! Gawat banget deh.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s