Kisah BaM dan BuM

Hari Senin ini tanggal merah di sini dalam rangka Memorial Day. Hari Minggunya, kami bertemu seorang bapak dari Malaysia saat sedang sama-sama memancing di danau. Entah gimana, tiba-tiba antara suamiku dan si bapak itu bersepakat untuk mengadakan piknik di hari pahlawannya bangsa ngamrikah ini. Mereka akan bakar-bakar alias barbekyuan dan makan bersama.

Bapak dari Malaysia, sebutlah namanya BaM (BApak dr Malaysia), sedang mendampingi istrinya BuM (iBU dari Malaysia) yang sedang ambil phd di kampus yang ada di kotaku dan dia menjadi bapak rumah tangga dan mengasuh keempat putri mereka. Kebetulan kami beberapa kali bertemu si BaM baik di supermarket maupun saat mancing. Orangnya memang ramah sekali, begitu juga anak-anaknya. Aku ingat pertama kali bertemu dengan BaM adalah saat kami belanja di Aldi dan si BaM sedang bersama seorang wanita berjilbab yang langsung kami tafsirkan sebagai BuM. Kami sempat ngobrol sebentar dengan mereka, biasa lah tanya dari mana, lagi kuliah apa enggak, kuliahnya ambil apa, tinggalnya dimana, dst. Setelah itu kami hampir tidak pernah melihat BaM berdampingan dengan istrinya karena si BuM seringkali sibuk kuliah atau belajar di Student’s Center.

Saat tadi kami bertemu di taman pinggir danau, si BaM sudah nongol duluan dan mempersiapkan alat pemanggang. Tak berapa lama datanglah serombongan perempuan dewasa dan anak-anak. Salah satunya adalah seorang perempuan setengah baya berbusana muslim yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Kupikir dia adalah salah satu mahasiswi Malaysia. Warga Malaysia di sini memang erat kekeluargaannya. Mereka sering mengajak warga Malaysia lain untuk datang ke acara kumpul-kumpul macam ini.

Setelah membantu siap-siap, aku duduk di sambing wanita setengah baya ini dan mengobrollah kami.

Aku keceh (AK): “Kuliah di SIU?”
Wanita Malaysia (WM): “Iya.”
AK: “Belajar apa?”
WM: “Economy, sedang ambil PhD.”
AK: “Oh, sama dengan Mbak L (org Indonesia) dan istrinya BaM.”
WM: “Oh, saya istrinya BaM.”
AK: “Hahhhhhh??? Loh? Terus waktu itu BaM jalan sama siapa ya?”

Sesaat terdiam dan berpikir tentang betapa penuh implikasinya pertanyaan ini. Lalu mulai putar otak untuk menghapus kesalahan pertanyaan tadi.

AK: “Waktu itu ketemu orang mirip BaM lagi belanja. Istrinya tinggi dan pakai jilbab juga. Apa ada keluarga Malaysia lain yang suaminya mirip dengan BaM?
WM: “Oh mungkin keluarganya Kak Prikitiw (bukan nama asli), agak mirip suaminya dengan suami saya.”
AK: “Ya, mungkin itu dia ya. Aku juga lupa-lupa ingat. Makanya tadi aku tak menyangka kalau mbak ternyata adalah BuM. Maaf yaaaaa.”
WM: *ketawa mesem*

Setelah acara piknik selesai, di mobil aku ceritakan obrolan tadi pada suamiku. Reaksi pertamanya adalah ngetawain aku. Reaksi kedua adalah dia menjadi sama bingungnya dengan aku.

“Loh, bapak2 yang kita temui di Aldi waktu itu bilang anaknya ada empat, perempuan semua dan yang besar sudah SMA bukan?” tanya suamiku.

“Iya! Aku ingat itu. Makanya kita sempat heran ya Yah… itu istrinya sudah punya anak empat dan ada yang sudah gadis segala, kok penampilannya masih termasuk muda ya? Gak kelihatan sudah punya anak remaja,” sambungku.

Berarti memang yang kami temui itu si BaM dong ya! Lalu, lalu? Jadi siapa dong perempuan yang bersama BaM saat belanja di Aldi itu? Temannya sesama orang Malaysia mungkin ya, yg kebetulan belanja bersama saat istrinya sedang kuliah? Hmmm. Husss.. gak baek curiga. Pasti temennya deh, sudah anggap saja demikian. Jangan jadi pitnatun jaenatun yaaakkk…

Yang jelas lucu aja aku keceplosan tanya: “Loh… jadi perempuan yang lain itu siapaaaahhhh?” Dalam hati aku berdoa, semoga obrolan tadi itu tak bikin masalah di rumah tangga BaM dan BuM.

Advertisements

60 thoughts on “Kisah BaM dan BuM

  1. nitafebri said: yaa sapa tau itu ibu BaM juga…

    Hi…hi…hi.. enggak deh kayaknya. Gimana bisa berganda kalo ngurus satu keluarga aja kelimpungan kok… anaknya 4 gitu loh.

  2. penuhcinta said: Oh ya, pernah liat juga di Wal-Mart. Di kailnya gak dipasang apa2 lagi ya mbak? Aku belum pernah pakai umpan yang begini soalnya.

    gak dipasang apa2 lagi. Pemancingnya aktif, dalam arti kail dilempar ditarik, lempar lagi trus ditarik, lempar tarik. gitu terus sampe dapat ikan. Beda dengan umpan hidup yang didiemin sampe dapet ikan.

  3. enkoos said: gak dipasang apa2 lagi. Pemancingnya aktif, dalam arti kail dilempar ditarik, lempar lagi trus ditarik, lempar tarik. gitu terus sampe dapat ikan. Beda dengan umpan hidup yang didiemin sampe dapet ikan.

    Oh ya, aku pernah lihat pemancing yang kayak begitu caranya. Mau cobain ah umpan kayak gini, kayaknya mantep banget tuh mata kailnya sampai 3 begitu!

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s