Untung Datang

Hari Jumat kemarin, seharusnya aku bersiap menuju sekolah Darrel, padahal Darrel sudah tidak sekolah lagi alias sudah liburan. Lalu kenapa ke sekolahnya? Di sekolahnya diadakan ceramah umum oleh seorang pakar pendidikan Dr. Siu Runyan yang merupakan ketua National Council of Teachers of English. Entah kenapa, aku yang sebenarnya termasuk orang tua tidak aktif dan jarang menghadiri acara2 di sekolah anak2 yang tidak wajib seperti ini, merasa tertarik. Mungkin faktor pembicaranya yang pakar pengajaran bahasa Inggris, atau mungkin juga karena ceramah ini gratis tis tis tis (dasar emak-emak), atau karena aku memang lagi “waras” saja. Bisa jadi karena acaranya berlangsung di sekolahnya Darrel yang cuma 15 menit berjalan kaki dari apartemenku dan acaranya berlangsung di musim semi, saat udara tak lagi terlalu dingin.

Acaranya jam 1 sampai 2 siang dan paginya aku harus beres-beres dulu. Dasar penganut mepetism, menjelang jam 11.45 aku masih memandikan kamar mandi. Sambil menggosok tembok keramik yang sudah disemprot cairan pembersih, aku sempat merasa ragu dan ingin urung datang ke acara itu. Waktunya terlalu mepet dan akupun sebenarnya tak apa-apa bukan kalau tak datang? Tapi aku sudah pesan tempat dan bilang akan datang. Kalau ternyata peminat acara ini banyak dan ada yang tidak kebagian tempat karena aku dan kemudian ternyata aku gak datang, duh kasihan banget ya.

Ya sudah datang saja lah. Toh tempatnya dekat, sekalian olah raga deh meski tengah hari. Akhirnya tepat jam 12.45, aku dan Darrel berangkat. Aku berjalan kaki dan Darrel naik sepeda.

Sampai di sana pas banget jam 1 dan ternyata hanya beberapa peserta yang datang, tak sampai sepuluh orang! Mendatangkan pembicara kelas nasional seperti Dr. Siu-Runyan ini kan gak gampang, kok disia-siakan sih? Saaahh belagu… padahal tadipun aku berpikiran untuk batal datang. Dari beberapa orang itu, tiga orang diantaranya ternyata warga internasional, termasuk aku.


Begitu aku duduk, acaranya langsung mulai. Topik tentang membacakan cerita untuk anak mengalir dari pembicara yang meski audiensnya sedikit tapi tetap sangat bersemangat. Lucunya, di tengah-tengah presentasinya, dia sempat punya agenda politik sendiri, yaitu menentang kebijakan testing atau ujian di sekolah-sekolah. Dia bilang testing tidak valid dan dibikin sebagai proyek cari uang. Loh, ternyata sama ya dengan apa yang dicemaskan oleh para pendidik yang “melek” di Indonesia? Selain masalah tes, dia juga memprotes kebijakan-kebijakan lain seperti anggaran pendidikan yang disunat (ding… sama lagi deh), dan intinya sih menggugat sistem pendidikan “No Child Left Behind” yang mulai digalakkan di masa George W. Bush (2001).

Program No Child Left Behind (NCLB) adalah “reformasi” yang menetapkan standar bagi pendidikan dasar di Amerika yang disesuaikan di masing-masing negara bagian. Negara bagian yang tidak menyelenggarakan tes untuk menilai kemampuan siswa tidak akan menerima dana pendidikan dari pemerintah federal. Sekolah yang hasil tes muridnya mengalami penurunan akan dikenakan berbagai sangsi. Jadi ini semacam pemaksaan yang efeknya membuat guru jadi mengajar semata untuk perisiapan tes. Banyak sudah para pendidik dan ahli pendidikan yang memprotes NCLB dan menyangkal keefektifannya, dan kabarnya Obama sudah berujar akan mengganti sistem ini.


Mengenai Reading Aloud to Children sendiri yang merupakan topik utama yang dibawakan Dr. Siu-Runyan, lebih membahas manfaat dan tips-tips membacakan buku untuk anak. Mungkin nanti aku akan bikin postingan tersendiri yang khusus membahas hal ini.

All in all, aku merasa beruntung bisa datang ke acara ini. Topiknya menarik dan pas untuk emak2 seperti aku, serta bermanfaat. Keuntungan lainnya, yang kuanggap sebagai bonus adalah diberikannya sejumlah buku bacaan anak kepada setiap peserta. Jadi, Dr. Siu-Runyan, bukan sekolahnya Darrel ya, membawakan segambreng buku bacaan yang akan dia bagiakan ke semua peserta. Berhubung pesertanya cuma delapan orang, maka tiap orang bisa membawa lebih dari satu buku.


Pucuk dicinta ulam tiba! Dasar emak2 penggemar gratisan, begitu acara selesai, saat peserta lain masih malu-malu dan menatapi buku-buku yang dipajang di beberapa meja, aku langsung baca judulnya sebentar saja dan tanpa berpikir lama-lama langsung meraup sejumlah buku. Dan tanpa malu-malu pulak, aku minta kantong plastik pada panitia agar bisa membawa tumpukan buku hasil jarahanku. Ha…ha…ha. Salah sendiri sih, orang mata bukuan ditawarin buku gratisan… ya terima deh risikonya… ha…ha…ha! Jangan kuatir, peserta lain kulihat ambil bukunya juga segambreng kok.

Advertisements

57 thoughts on “Untung Datang

  1. rosshy77 said: kapan lagi dpt gretongan ya mak ^_^knapa yah di system indonesia pendidikannya makin lama makin hancur??apa para petinggi gak tau?pusiiiing banget dng peraturan2 yg tiap saat berubah2hehe koq jadi curcol yaa?? maafkeenn

    Iyaaa…. ha…ha…ha. Yang gratis2 aku sukaaaa.Gak apa2 Ros, aku juga sering curcol di marih. Sebenarnya berubah kalo jadi lebih baik sih gak apa2. Ini sih malah jadi sarana eksperimen dan cari duit segelintir orang aje. Emang pusing deh. Padahal pendidikan modal ya untuk generasi masa depan.

  2. sarahutami said: senada tp tak seirama dengan pertanyaan mas lukman hakim. Berjilbab disana baik2 aja mbak?boleh request jurnal tentang ‘itu’ gak? Dyah ambigu deh si sarah.Tentang pendidikan : no comment. Mumet ruwet.

    Baik2 aja Sar, terutama kalau di kota yang majemuk, gak homogen. Kalo kita ke desa2nya yg homogen (kebanyakan kulit putih, Anglo-Saxon, Protestan/WASP) maka kita akan dipelototin juga.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s