Emak Yang Kurang Bijak

Tadi malam Imo susah sekali diminta untuk pergi tidur. Meski sudah minum susu dan sikat gigi, dia masih ngedeprok di ruang tengah dengan buku Harry Potter di pangkuannya. Sampai jam 10 malam, dia masih juga tak berhenti membaca buku setebal 759 halaman itu.

Setelah kutanya-tanya, ternyata dia lagi kejar setoran, berusaha menyelesaikan buku itu malam ini juga karena ingin mengikuti tes AR (Accelerated Reading) keesokan harinya. Sebagai keterangan, biar gak bingung, AR adalah program pelajaran membaca yang diikuti setiap murid di sini sejak kelas satu SD. Tiap anak boleh memilih buku sesuai dengan level mereka dan setelah selesai membaca, mereka akan mengikuti tes di komputer. Tesnya sendiri semacam reading comprehension. Hasilnya akan menentukan poin yang akan kemudian menaikkan level mereka.

Kenapa harus ikut tes besok? Karena hari Selasa minggu depan mereka sudah mengadakan AR party alias pesta makan-makan merayakan pencapaian target AR semua anak2 di sekolah itu. Artinya, kesempatan untuk ikut tes memang tinggal hari Jumat ini.

Aku kecewa sekali sama Imo. Bukan karena itu artinya dia tak bisa mencapai target AR yang dia tentukan sendiri (kalau target dari gurunya sudah lewat dari kemarin-kemarin), tapi karena ketidak disiplinannya. Kalau memang punya target ikut tes Jumat ini, mustinya dari kemarin fokus dong ke bacaan Harry Potternya itu.

Yang bikin tambah kesal, selama minggu-minggu terakhir Imo berturut-turut mendapatkan nilai 77 untuk spelling testnya (biasanya 95 ke atas) dan juga dia tidak lolos dalam kompetisi Spelling Bee di sekolahnya. Please don’t get me wrong, aku bukan tipe emak2 yang ambisius, ingin anaknya selalu berprestasi, siap dengan pecut di tangan untuk memacu anak belajar beberapa jam dalam sehari. Nooo… aku jauh banget dari yang seperti itu.

Tapi aku kecewa karena kulihat sejak hawa liburan sekolah mulai berhembus sejak bulan Mei ini, Imo tampak lebih banyak bermain dan menonton TV daripada fokus ke membaca buku atau belajar spelling. Nilai yang turun, gagal ikutan spelling bee, hanya merupakan indikator dari kegagalanku dalam mendidiknya untuk lebih disiplin dan pintar mengatur waktunya sendiri.

Dasar emak yang kurang bijaksana, saat kulihat dia masih sibuk membaca, berusaha mengebut dalam rangka kejar setoran, aku malah menyuruhnya untuk berhenti sambil berkata, “Gak mungkin bisa selesai. Masih ada lebih dari 100 halaman bukan? Sudah tidur saja. Terima akibat dari terlalu banyak bermain!”

Muka Imo langsung lesu dan dengan gontai dia akhirnya masuk kamar. Aduh. Salah ya?

Aku langsung berpikir ulang. Imo anaknya peka sekali tapi semuanya dipendam. Aku gak mau dia malah jadi stress dan sedih berkepanjangan karena impiannya mengejar target dipadamkan seketika oleh si emak satu ini.

Aku hampiri dia di tempat tidurnya. “Imo, sedih ya? Maaf ya. Imo bisa gak minta tesnya hari Senin atau Selasa pagi sekali, first thing in the morning? Coba ngomong lagi sama Mrs. Ross.”

Imo mengangguk, “Iya, Ma. I will ask her if I can finish the book over the weekend.”

“Lain kali jangan terlalu banyak main ya Mo. Nanti musim panas juga kita banyak latihan spelling ya, biar Imo bisa ikutan kompetisinya tahun depan.” Imo mengiyakan lagi.

Kalau Imo jadi banyak main, pastinya juga karena emaknya kurang bisa mencontohkan yang baik buat dia. Gak mungkin minta dia disiplin waktu sementara akunya juga seenaknya aja. Dimulai dari mana? Dari disiplin waktu ngempi kali yeeee…he…he… glek.

Gambar nyomot dari sini

Advertisements

74 thoughts on “Emak Yang Kurang Bijak

  1. martoart said: Wah, iki wis tuwek manja, teko2 mellow..Sana latihan baca, ntar tak tes AR

    Bacaannya kang Inyong kan teks lagu sebangsa Gelas-Gelas Kaca gitu. Gimana mau dites? dasar Mellow-Man.

  2. anotherorion said: ow gitu hihihi sip sip, jadi ngerti saiki, ternyata malah ga ono grammare yo :Dmungkin karena terbiasa yo? jadi kelingan konco kuliahku dekne iri ndelok bayi bule sik luwih lanyah lhe boso inggrisan mbange dekne, yo iyo siji bocah bule siji lair neng jowo kok wkwkwkkwkwk

    Iya, bahasa masalah penggunaan dan kebiasaan. He…he… gak usah minder tapinya. Orang Indonesia rata2 juga multilingual kok, bisa bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

  3. nanabiroe said: Wajar… Kan kita mau yang terbaik buat anak…So semangat ya Imo, moga2 besok2 bisa lebih disiplin lagi 🙂

    Iya Na. Aku suka takut kalau anak2ku mewarisi kendablekan emaknya ini. Hiks. Padahal kan ya mereka gak bisa menghindar dr meniru.

  4. nonragil said: Sama nih, Ir, 2 minggu terakhir ini, nilai-nilainya si Yves juga turun, senewen juga sih. Tapi, kesalahan bukan cuma dari dia, aku juga sering-sering di depan komputer, dianya sih hip-hip hura-hura, efeknya ya itu….nilainya turun. Aku mau sedikit mengurangi keluyuran di MP dan lebih disiplin ama waktu nih, Ir.

    Ah… sama memang Mbak. Mungkin juga karena hawa liburan sudah terasa, jadinya seperti sudah malas2an saja bawaanya. Apalagi anak di sini kan tidak ada ulangan umum.

  5. puritama said: semangat semangat semangat imo… Kayaknya anak SD disini jarang ada yg mau baca buku setebal itu.. ^^a

    Makasih ya Ver. Makasih juga udah diingatkan. Iya…ya… soalnya emaknya juga suka baca HarPot, jadi kok ya gak nyadar bahwa anak2 Indonesia seusia Imo kebanyakan ya belum mau baca buku setebal itu. Tapi kalau di negeri-negeri berbahasa Inggris, ya banyak juga sih yang suka baca HarPot meski masih kecil.

  6. rikejokanan said: Iya, Mak… Dia lihat emaknya hahahihi di Empi aja bisa migrasi ke Amrik jadi dia nyantai aja hi hi hi…

    Hayahhhh!!! Ngenyek! Hi…hi…hi. Emaknya dulu babak belur lo utk bisa ke sini, sampai sempat nangis kejer di depan dosen segala lo!

  7. tintin1868 said: imo diajak chatting sama tante tintin saja deh.. sambil cerita soal harry potter.. maniak HP nih..

    Mbak Tintiiiiiinnn! Beneran maniak HarPot? Aku juga suka banget, tapi gak sehafal Imo dalam hal jampi2, dan nama2 tokoh di luar tokoh2 utama.

  8. rirhikyu said: *Ngoookkkk, emaknya juga tuh :pSusyah yah ngilangin habit ngeMPi. Fiuhhhhh

    Iya… gimana dong. Kayaknya perlu panti rehab buat nyembuhin kecanduan ini. Hiks!

  9. rikejokanan said: Weh… Digebuki karo wong Fulbright yak? Jarene “Nek ra mangkat, tak dendho!!!” Wakakakaaaaak

    Hua…ha…ha… digebukin sampe berdarah2 ya? Bukan gitu lo Ke, pihak sininya merasa rugi kalau aku gak dateng, krn sudah terlanjur mereka ngirim beruang madu ke Indonesia, tapi kok badak Jawanya gak dikirim2 ke sana. Katanya pertukaran… tapi kok gitu.

  10. dysisphiel said: hahaha.. emaak.. 😀 keren juga ya, masih kelas 1 SD lo 😀

    Bukan kelas satu…hi..hi…hi… ajaib banget ah kalau kelas 1, baru bisa baca udah melahap HarPot. Ini sudah kelas 3 dan dia bukan satu2nya yang sudah baca itu sebagai bagian dari AR.

  11. keren banget ya program skul begitu mba irbtw, aku setuju dng cara mba irma mendisplinkan begituartinya anak kan jadi tau konsekwensi dari pilihan yg dia ambil selama liburanmakin banyak belajar ni aku dari mba ir..tp aplikasi koq msh belum2 yaK??

  12. rosshy77 said: keren banget ya program skul begitu mba irbtw, aku setuju dng cara mba irma mendisplinkan begituartinya anak kan jadi tau konsekwensi dari pilihan yg dia ambil selama liburanmakin banyak belajar ni aku dari mba ir..tp aplikasi koq msh belum2 yaK??

    Iya Ros, program yang bagus karena memacu anak untuk membaca sebanyak-banyaknya. Bagusnya juga ada alternatif bantuan utk anak2 yang ketinggalan. Syukurlah kalau ada yg bisa diambil dari curhatan emak2 ini ha…ha…ha. Sesuaikan saja sama karakter anak, Ros. Kadang yang bisa dipraktekkan ke satu anak belum tentu bisa dilakukan ke anak yg lain.

  13. sarahutami said: Menurut mbak Ir, bagusan kurikulum indo atau ngamrikah sanah?

    Karena bukan ahlinya, aku cuma bisa bilang yang mana yang jadi preferensiku ya Sar. Aku lebih suka kurikulum di sini karena lebih membebaskan anak2 untuk kreatif, berani ngomong dan tidak semata-mata menghafal. Tapi tentu saja bukan tanpa kekurangan karena menurutku kurikulum di sini kurang memperhatikan masalah science. Anak2ku banyak tahu tentang biologi, matematika dsb dari buku-buku di luar buku sekolah. Pengetahuan tentang dunia luar juga kurang banget, semuanya berpusat ke diri sendiri (ultra nasionalis). Makanya orang Amerika sudah dikenal sangat bodoh dalam mata pelajaran geografi. Kalau orang tuanya tidak rajin2 memasok bahan pengetahuan lain, apa yang mereka pelajari di sekolah sebenarnya sangaaaaat sedikit. Aku lihat yang dikembangkan memang frame of mind atau cara berpikir, berlogika, dan berbahasa (kemampuan membaca, menulis).

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s