Dari Otak, Mumi, Hingga laba-Laba

Celoteh Darrel Part Kesekian

Jadi ortu memang harus menyediakan telinga 24 jam, 7 hari seminggu buat anak-anak. Apalagi kalau anaknya seperti Darrel yang ceriwis bukan main. Terus terang kami berdua masih suka terheran-heran kalau mendengar celotehnya. Masalahnya, sampai berusia 15 bulan dia tuh dieeeeem banget dan cuma bisa mengeluarkan bunyi-bunyi gak jelas, bahasa bayi yang cuma bisa dimengerti dengan menebak-nebak.

Eh, pas sudah bisa bicara, byuurrrr… seperti air bah yang membedol bendungan. Pokoknya, selama dia melek, gak makan atau minum atau asyik main sendiri, pasti dia ngoceh. Perkecualiannya hanya kalau dia sedang di tempat umum alias bukan di rumah sendiri. Apalagi di sekolah, pasti langsung ceppp diam. Meskipun laporan terakhir gurunya menyebutkan bahwa dia sudah mulai rajin tunjuk tangan dan bicara di kelas (hanya kalau diminta atau ditanya).

Siang ini, seperti biasa emaknya nongkrong depan lapie. Dia mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara random. Pertama dia tanya soal otak;

DC (Darrel Cakep): “Ma, does the brain control us or do we control the brain?”
EK (Emak Kece): Hmmm… (garuk2 kepala)… apa ya?
DC: “Or is it both?”
EK: “Nah iya nak, kayaknya dua-duanya deh. Jadi contohnya adek pengen pegang mobil2an ini, terus adek bilang ke otak untuk pegang mobil itu, otak kirim sinyal ke tangan untuk bergerak dan mengambil mobil2an tersebut.” (sambil berharap semoga emak satu ini tdk menyesatkan anaknya)

Jujur aja, begitu si Darrel menanyakan hal ini, aku langsung berpikir macam-macam baik ke arah jaring religius maupun filosofis. Bingung bagaimana menjawabnya supaya tidak menciptakan polemik baru buat anak baru lima tahun gitu loh. Wong aku juga bingung kok.

Penasaran, aku tanya si Mbah G. Thank God for Internet yak, dengan sekali geser dan ketak-ketik langsung muncul berbagai pilihan. Bah, ternyata orang dewasa pun gak ada yang sanggup memberikan jawaban yang pasti. Yang ada adalah berbagai pilihan dan bahkan ada yang bilang gini:

“We won’t ever know. And if our brains do control us, they’ll never allow us to know. EVER

Beberapa diskusi tentang pertanyaan Darrel tadi ada di sana dan sini. Ada juga artikel ilmiah dari Cambridge, tapi pas bukanya lambat banget… gak jadi lihat deh. Jangan2 boongan.

Lah, terus jawaban gue yg tadi gimenong dong? Ah biarlah, simplistik tapi kan nyambung juga…ha…ha…ha. Mudah2an gak terlalu menyesatkan.

Setelah ngobrol yang lain-lain ngalor-ngidul, Darrel menanyakan pertanyaan lain yang muncul di benaknya;

DC: “Mama, why do mummies have wraps on their bodies?”
EK: “Hmm… (kumat gilanya) Maybe because they have bubus (luka) all over their bodies.” (seluruh tubuhnya luka kali nak, makanya diperban).
DC: “Hah?” (ketawa geli, tahu mamanya gak serius) “Really? Are you serious? You’re joking, right?” (kebingungan karena mulai ragu antara mamanya serius apa becanda neh)

Mau jawab buat preservation alias supaya awet, takutnya malah bingung buat apaan sih diawetin segala. Lalu aku tanya lagi si Mbah G. Ada situs menarik ternyata yang berupa game yang disertai keterangan tentang proses membuat mumi. Ini tautannya. Sempat kuatir gimana reaksi Darrel kalau melihat kartun proses pembuatan mumi yang pakai acara mengeluarkan otak segala, tapi ternyata dia baik-baik saja malah becanda-becanda. Beres deh, akhirnya dia ngerti kenapa mumi mesti dibungkus pake perban panjang kayak gitu.

Berhenti sampai sini ocehannya? Ya enggak…ha…ha…ha. Saat aku menemukan seekor laba2 besar di kamar mandi dan menangkapnya untuk diobservasi oleh anak-anak, maka kami berdua ngobrol soal jenis apakah laba-laba itu. Setelah konsultasi lagi sama si Mbah, kami menyimpulkan bahwa itu jenis Wolf spider yang lumayan beracun tapi gak mematikan. Musim semi begini memang saatnya laba2 pada berkeliaran dan di daerah kami, wolf spider dan brown recluse merupakan dua jenis laba2 sangat beracun yang sering ditemui bahkan di dalam rumah.

Begitu jam 3 sore kakak Imonya pulang, polemik tentang laba-laba mulai bergulir. Kakak Imo yakin banget kalo si laba2 ini jenisnya adalah brown recluse karena punya ciri ini dan itu, dari mulai corak di badannya, bentuknya, warnanya, sampai pembuat jaring laba2nya. Daripada ribut berkepanjangan, buka lagi aja situs yang tadi untuk tahu sebenarnya siapa yang benar. Ternyata memang benar itu wolf spider bukan brown recluse.

Percakapan demi percakapan, pembelajaran demi pembelajaran terus berlangsung sampai saatnya anak-anak mulai resah melihat cuaca di luar yang cerah dan hangat. Setelah tadi diberi izin, sekarang mereka sedang bermain di luar. Sebentar lagi aku akan menyusul sembari menunggu masakan untuk makan malam matang di oven. Mungkin nanti akan kuajak mereka jalan-jalan keliling lingkungan sekitar sambil aku berburu bunga2.

Just a daily life of a mom, nothing special. Tapi tiap hari aku selalu dibuat amazed sama dua bocah ini. Moga2 telingaku, pikiran dan hatiku terus dibuka ya untuk melayani celoteh ramai mereka.

Advertisements

37 thoughts on “Dari Otak, Mumi, Hingga laba-Laba

  1. Aku geli pas baca si Darrel Cakep geli ngetawain emaknya njelasin mummy korengan… Nek aku anake, langsung mutah-mutah mbayangin mummyy korengan… Top tapi DC bisa maksa emaknya control her brain and be controlled by brain hi hi hi.

  2. penuhcinta said: DC (Darrel Cakep): “Ma, does the brain control us or do we control the brain?”

    huwaaa…pertanyaan berattt…. hiks :(#lanjutin baca

  3. penuhcinta said: Masalahnya, sampai berusia 15 bulan dia tuh dieeeeem banget dan cuma bisa mengeluarkan bunyi-bunyi gak jelas, bahasa bayi yang cuma bisa dimengerti dengan menebak-nebak. Eh, pas sudah bisa bicara, byuurrrr… seperti air bah yang membedol bendungan. Pokoknya, selama dia melek, gak makan atau minum atau asyik main sendiri, pasti dia ngoceh.

    Ngomentari yang aku quote aja.Hal hal seperti itu biasa terjadi pada anak anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual, trilingual, multilingual deh. Lambat untuk bisa bicara, tetapi begitu bisa bicara kayak ngocor aja gitu Ir.Ada contoh anaknya temenku. Temenku keturunan Cina, menikah sama orang Jerman. Tinggalnya di Jerman yang berbatasan dengan Perancis. Sampe si anak berumur dua tahun, belum bisa ngomong apa apa. Ibunya udah kuatir aja. Begitu udah bisa ngomong (lupa umur berapa, kayaknya belum genap 3 tahun deh), segala macam bahasa keluar dari mulutnya. Dan hebatnya, si anak tahu kapan berbahasa Perancis (kalau lagi di lingkungan kawan2nya. udah sekolah di playgroup), kapan berbahasa Jerman (sama bapaknya), kapan berbahasa Mandarin dan Indonesia (sama ibunya). Ibunya sampe melongo dan sering kewalahan dengan kecerewetan anaknya. Anakku juga gitu. Meskipun waktu pindah ke Shanghai umurnya 8 tahun. Hari hari pertama di sekolah diem banget. Gurunya sempet kuatir, nih anak nggak ngerti. Memasuki minggu kedua, udah mulai keluar aslinya. Main tendang2an (anakku perempuan), dan ngoceh ngalor ngidul. Di sekolahnya juga diajarin bahasa Mandarin sehari satu kali selama satu jam. Di lingkungan tempat tinggal kami, ngomong sama anak2 sebaya yang semuanya orang lokal ya pake bahasa Mandarin. Lebih jago dari emaknya yang juga ikut kursus Mandarin.Setelah pulang kandang di Amerika, bahasa Mandarinnya lenyap deh karena jarang dipake. Sayang banget.

  4. penuhcinta said: Kece

    Astaga!Ini bener-bener membuktikan dari angkatan berapa dirimu berasal, Ir! haha …Jaman-jamannya LUPUS masih berjaya.Kalo enggak salah, memang Hilman yang mempopulerkan istilah tersebut apa, ya?Dan sequel plesetan dari kece itu adalah kecemete.Jadi kalo ada yang narsis bilang, “Gue kece, kan?”, maka biasanya akan langsung di-snap oleh temennya, “Iya! Kecemete …”Duuuh, jokes jadul memang banyak yang garing, ternyata! πŸ˜€

  5. enkoos said: dingklik

    Ngomongin dingklik, langsung keingetan m’Trie (ohtrie).Dulu blio sempet cerita kepleset misuh ke orang bule.Instead bilang, “SHIT!”, ternyata keliru ngomong, “SIT!”.Lha, dingklik-e endi?? πŸ˜€

  6. penuhcinta said: mummies

    Sekadar info enggak penting, baru aja kemaren (hari Selasa, 10 Mei 2011) kami nonton 3D di 63 Building (Sun Building) yang sedang menyajikan (iya, sedang. Karena secara berkala, filmnya diganti. Dan yang jelas, enggak melulu memutar film tentang mantan Jenderal yang pake baju batik lagi pada disungkemi anak cucunya kayak disono. :p) film tentang Mummies (The Secret of Pharaoh).Duh, terus terang kisah tentang Egypt dan segala derivasinya selalu intriguing, yes?

  7. inyong said: anak pinter,…. anaknya sapa sihhh

    Entahlah…loh? Makasih kang Inyong, aku sih gak bilang pinter, cuma rasa ingin tahunya yg suka bikin kewalahan emak kecenya ini.

  8. rikejokanan said: Aku geli pas baca si Darrel Cakep geli ngetawain emaknya njelasin mummy korengan… Nek aku anake, langsung mutah-mutah mbayangin mummyy korengan… Top tapi DC bisa maksa emaknya control her brain and be controlled by brain hi hi hi.

    Jangan dibayangin dong… aku jug geli…hiii. Gak harus korengan toh, bisa luka berdarah aja sekujur tubuh…hahh…sama seremnya yak? Ish, kalimat terakhir boleh tuh Ke. Bener juga soalnya.

  9. revinaoctavianitadr said: Ngomongin dingklik, langsung keingetan m’Trie (ohtrie).Dulu blio sempet cerita kepleset misuh ke orang bule.Instead bilang, “SHIT!”, ternyata keliru ngomong, “SIT!”.Lha, dingklik-e endi?? πŸ˜€

    *ngakak*

  10. enkoos said: Hal hal seperti itu biasa terjadi pada anak anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual, trilingual, multilingual deh. Lambat untuk bisa bicara, tetapi begitu bisa bicara kayak ngocor aja gitu Ir.

    Iya Mbak, saat cemas kemaren itu aku buka2 bacaan dan menemukan hal yang sama. Sayangnya aku saat ini gak bisa menyebut anak2ku bilingual karena aktifnya mereka hanya pakai Inggris. Imo sih masih bisa berbicara bhs. Indonesia, tapi Darrel gak bisa. Hiks.

  11. enkoos said: Setelah pulang kandang di Amerika, bahasa Mandarinnya lenyap deh karena jarang dipake. Sayang banget.

    Memang sayang banget ya. Ada teman cerita gitu juga, lama di amrik dan pas pulang ke Indonesia dalam beberapa tahun langsung hilang tuh krn gak dipraktekkin.

  12. nitafebri said: Susah bgt yaa pertanyaan darrel..Emak yang ngakunya kece aja sampe binun.. :)besok2 msh bnyk lg yaa nanyanya..

    Masih Nit, sampai malam menjelang tidur aja dia masih nanya2 melulu. Emaknya pusing.

  13. agamfat said: Internetnya cepe ya. Enak. Gw susah kalau mau internetan dari laptop, biasanya via hape saja, termasuk buka yutube

    Gak sampai cepek kok cuma 50-an mbps soalnya gue ambil paket paling murah. Ini aja udah seneng banget karena benar2 unlimited. Kayaknya pake HP bakal jd pilihan gue juga nantinya kalau di sana.

  14. anazkia said: Mbak, butuh pengasuh gak? :Dyang diasuk lebih bijak dari pada yang ngasuh πŸ˜€

    Oh… butuh banget. Tapi harus tahan ditanya2 dan diajak main seharian.

  15. rosshy77 said: wuih..sampe terpana dng pertanyaan Darrelhebat betul mamaku aja jadi mikir..does the brain control us??

    Sama Ros… aku juga bingung mikirinnya. Darrel memaksaku utk belajar lagi. Padahal emaknya lbh suka ngempi…ha…ha…ha.

  16. revinaoctavianitadr said: Astaga!Ini bener-bener membuktikan dari angkatan berapa dirimu berasal, Ir! haha …

    Ha…ha…ha… dan yang bisa mengenalinya juga berasal dari generasi yang sama kaaan?

  17. revinaoctavianitadr said: Duuuh, jokes jadul memang banyak yang garing, ternyata! πŸ˜€

    Belum tentu. Garing apa tidaknya sebuah joke juga ditentukan dari kondisi mental saat membaca/mendengarnya. Kalau hati lagi ceria berbunga2, joke paling garing sekalipun paling tidak akan membawa senyuman di bibir orang tersebut. Sedangkan kalau sedang jutek, biar selucu apapun ya nggak akan bikin ketawa. Kedekatan antara penyampai joke dengan yang menerimanya juga jadi faktor penentu lo. Jadi dibahas sih? He…he…he.. kurang kerjaan soale.

  18. revinaoctavianitadr said: Ngomongin dingklik, langsung keingetan m’Trie (ohtrie).Dulu blio sempet cerita kepleset misuh ke orang bule.Instead bilang, “SHIT!”, ternyata keliru ngomong, “SIT!”.Lha, dingklik-e endi?? πŸ˜€

    Ya, maklum banget… masalah lidah soalnya.

  19. revinaoctavianitadr said: btw, seperti yang udah aku bilang berkali-kali, anak2mu itu emang cerdas semua, Ir.DNA enggak bakal bohong lah …

    Ish, alhamdulillah… beneran aku makasih. Tapi sungguh yang aku ingin garis bawahi di sini justru kegagapan si emak kece (teteuppp) akan perkembangan anaknya.

  20. revinaoctavianitadr said: Sekadar info enggak penting, baru aja kemaren (hari Selasa, 10 Mei 2011) kami nonton 3D di 63 Building (Sun Building) yang sedang

    Inilah enaknya tinggal di negeri orang (yg lebih maju). Banyak fasilitas yang bisa kita manfaatkan untuk perkembangan anak2 kita. Sun Building ini keren banget ya, ada observation deck, sea world, dan imax theater-nya. Mesir kuno termasuk budaya tertua dan tercanggih di masanya soale. Imo juga belajar banyak tentang bangsa ini di kelas AT-nya.

  21. debapirez said: mantaf. Darrel bacaannya NatGeo atau Discovery Channel ya hehe…

    Gak Ded… dia sih bacaannya ya bacaan anak2 biasa seperti Dr. Seuss dan buku bergambar (picture books).

  22. rirhikyu said: yang pasti bukan anaknya yang demen pake ipadehhh emaknya demen pake ipad kaga yah?

    Hi…hi… gak demen Feb, mahal soale dan masih betah pake gadget yang biasa2 aja tp fungsional.

  23. rirhikyu said: emaknya parah… muminya luka semua*emangnya zombie?

    Pan lagi kumat gilanya. Abis pertanyaannya bikin gue mikir…ha…ha… gue becandain aje sekalian. Kemarin itu termasuk “fase ledakan pertanyaan” kayaknya. Hari ini dia kalem aja, belum ada pertanyaan yang bikin emaknya gundah (ceileee).

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s