(Memburu Fatamorgana) Yang Ringan Tapi Berbobot

Saat pertama kali saya berusaha menggauli novel setebal 300-an halaman ini, saya berusaha tak terpengaruh oleh latar belakang salah satu penulisnya yang kebetulan saya kenal melalui wadah jejaring sosial bernama Multiply. Bukan apa-apa, saya cuma tak ingin kenikmatan membaca disela dengan spekulasi atau tebak-tebakan tentang siapa tokoh yang mewakili penulis yang saya kenal tersebut. Seperti halnya membaca novel-novel lainnya, saya ingin bisa “tenggelam dan hanyut” dalam kisah dan karakter tokoh-tokohnya. Buat saya pribadi, tokoh/penokohan dan alur merupakan hal utama yang bisa mengikat pembaca.

Yang membuat tertarik untuk membaca Memburu Fatamorgana (MF) adalah latar tempatnya yang mengambil Abu Dhabi sebagai lokasi sentral. Membaca cerita di negeri nun jauh di sana selalu membawa kenikmatan tersendiri karena kita disodori hal-hal yang baru. Apalagi negara-negara Timur tengah telah mendapat stigma sebagai negara yang menerapkan syariat Islam dan pasti keras dan kaku.

Ternyata memang banyak hal baru yang terungkap dari MF. Bahwa negara2 Emirat Arab memang lebih moderat daripada di Saudi memang sudah pernah kudengar, tapi sebatas mana dan bagaimana kesan kaum pendatang yang ada di sana masih belum banyak aku ketahui. Dari MF kita tahu bagaimana minuman keras dan pelacuran masih ada meski untuk minuman keras dibatasi dan pelacuran masih terselubung. Kita jadi tahu bagaimana di balik cadar dan abaya para wanitanya, sebenarnya ada baju-baju mahal rancangan desainer internasional. Melalui dua tokoh utama wanitanya, yaitu Chloe dan Entin, MF mampu menyajikan banyak hal yang tidak terduga sebelumnya.

Kebanyakan novel berlatar belakang negara selain Indonesia sering terjebak dalam penjelasan yang bertele-tele mengenai deskripsi dari tempat dan juga keterangan mengenai prilaku orang-orangnya sampai-sampai porsinya bisa lebih besar daripada inti ceritanya sendiri. Sering juga latar tempat hanya sebagai tempelan yang terkesan dipaksakan demi memberi sebanyak-banyaknya tempat asing bagi para pembaca. Tapi untungnya, MF tidak terjebak dalam pola seperti ini. Masing-masing tempat punya sebab kenapa harus muncul, sehingga perjalanan Chloe ke daerah kumuh juga bisa dimengerti karena memang sesuai dengan jalan ceritanya.

Cerita yang berlatar tempat di negeri lain juga membuka kesempatan untuk terjadinya benturan budaya yang efeknya bisa membawa laju plot atau alur sehingga terangkai satu cerita yang utuh. Kebetulan masalah multikulturalisme merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian saya. Tapi selama ini masih sedikit novelis wanita Indonesia yang membahas masalah ini.

Alur cerita MF berkisar seputar bagaimana tokoh Chloe berusaha menyesuaikan diri dan memulai kehidupan baru di Abu Dhabi sebagai seorang karyawan tingkat bawah. Kehidupan di negeri ini berbanding terbalik dengan kehidupannya selama di Indonesia yang serba dimanja karena dia adalah anak orang kaya. Chloe ditemani oleh sahabat masa lalunya yang bernama Entin, yang sudah terlebih dahulu hidup di Abu Dhabi dan bahkan menjadi orang yang banyak menolong proses penyesuaian diri yang dialami Chloe. Selain dua karakter ini, terdapat pula tokoh Siti, seorang asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja untuk Chloe. Lalu ada juga beberapa tokoh pria berkebangsaan Prancis yang salah satunya kemudian, seperti bisa diduga, menjalin asmara dengan tokoh utama kita.

Kedua tokoh utama ini sangat bertolak belakang karakterisasinya, namun keduanya bukan tokoh yang datar karena banyak dimensi yang disorot. Chloe misalnya, manja sekali, terutama di awal cerita, namun bisa begitu berani memutuskan untuk bekerja di luar negeri, meninggalkan semua fasilitas yang biasa dinikmatinya. Artinya, ada sisi yang tidak manja dari Chloe, ada pride atau kebanggaan diri yang ingin diraihnya. Sedangkan Entin, merupakan karakter yang cukup unik karena seperti tanpa ragu mendobrak nilai-nilai tradisional dan sepertinya terlihat lebih berani dan mandiri dibandingkan Chloe, namun nantinyaa kita akan disodori sebuah kenyataan yang baru disadari Entin di akhir cerita.

Kekayaan karakter tokoh utama juga ditunjukkan dari tokoh Chloe yang ketika berpacaran dengan Raymond tergambar manja dan suka menuntut, namun tidak berani mengambil inisiatif dalam memulai hubungan asmara dengan Benoit dan hanya bisa memendam rasa dan menunggu seperti kebanyakan tokoh wanita yang tradisional. Dia juga suka dugem dan pesta-pesta tapi termasuk agak konservatif dalam berpikir, terutama mengenai hubungan pria dan wanita. Dia sempat mempertanyakan hubungan “kumpul-kebo” Entin dan Dennis meskipun tanpa protes terbuka karena dia menganggap temannya itu tidak merugikan siapa-siapa.

Memang observasi tanpa menghakimi ini menjadi semacam metode yang diterapkan dalam novel ini. Prilaku penyelewengan suami-istri, pelacuran, pelecehan terhadap perempuan yang dilakukan oleh supir taksi diangkat tanpa ceramah terselubung apalagi yang terbuka dan panjang lebar. Ini juga satu poin positif yang aku nilai dari MF. Gambaran mengenai tipisnya toleransi di Prancis, diangkat melalui percakapan antara Chloe dan Carol tentang wanita yang memakai jilbab dan abaya di Prancis dan Chloe berhasil menjawab protes Carol dengan cerdas. Tak ada ceramah berkepanjangan tentang toleransi, cuma disodorkan betapa masjid dan gereja bisa berdampingan dengan damai di Abu Dhabi dan pemerintah serta orang-orang asli Abu Dhabi tak mempermasalahkan model pakaian seperti apa yang dipakai para ekspatriat dan turis asing.

Selain konflik kecil antara Chloe dengan lingkungan barunya, terdapat konflik besar yang mengantarkan menuju klimaks dan akhir alur cerita yaitu misteri pemerkosa Siti. Di sini, penulis mencoba memasukkan unsur suspense atau ketegangan dalam alurnya yang memang cukup berhasil membuat pembaca ingin membalik terus halaman hingga terkuak siapa sebenarnya yang memperkosa Siti. Sayangnya konflik baru muncul di tengah-tengah, dan seperti tidak berhubungan dengan konflik awal yaitu antara Chloe dan latar tempat. Meskipun pada saat yag sama konflik baru ini membuat pembaca menjadi tidak bosan karena disuguhi lagi sesuatu yang baru.

Bumbu asmara yang juga disajikan di dalam MF tampaknya juga tidak menjadi fokus utama dari cerita. Meskipun cerita dibuka dengan konflik antara Chloe dan kekasih lamanya, namun “pencarian sang pangeran tampan” bukan hal yang menjadi perhatian utama. Hal ini mungkin mengecewakan bagi pembaca yang mengharapkan bacaan sebangsa novel romantika ala Barbara Cartland, namun untuk yang sudah jenuh dengan model cerita yang seperti itu, maka sedikitnya bumbu asmara dalam novel ini tidak menj
adi masalah besar.

Untuk sebuah novel perdana, MF mampu menawarkan sebuah rasa yang baru: ringan namun berbobot, seperti masakan yang serba pas bahan dan bumbunya, tidak terlalu mengenyangkan tapi juga tidak membuat lapar. Ringan karena pembaca tidak perlu berkerut kening untuk mengerti ceritanya, namun berbobot karena kisahnya kaya dengan hal baru yang berkaitan dengan latar tempat (setting), ada perkembangan karakter, dan ada alur menarik dengan berbagai masalah.

Kalaupun ada kekurangan mungkin justru masalah alur yang menurut selera saya agak terlalu cepat. Kalau mau novel ini bisa lebih dari 500 halaman karena banyaknya materi yang ditawarkan. Tapi ya, itu masalah selera saja karena banyak pembaca terutama di Indonesia mungkin lebih suka novel dengan plot cepat seperti ini.

Selain itu, hubungan antara para tokoh yang seputar para pendatang saja juga menjadikan saya haus akan eksplorasi akan hubungan langsung atau konflik antara tokoh utama dengan latar belakang Indonesia dengan penduduk asli Abu Dhabi. Sampai dengan akhir cerita, hubungan yang lumayan dekat cuma antara Chloe dan Mam Khadijah. Mungkin jika ada dibahas dengan beberapa tokoh dan lebih dalam lagi akan menjadikan keseluruhan cerita lebih kaya. Tapi di lain sisi, saya juga menyadari bahwa mungkin memang begitulah kondisi di Abu Dhabi. Seperti yang pernah saya baca di sumber lain memang penduduknya tertutup dan sulit menjalin pertemanan yang erat dengan kaum pendatang.

Secara keseluruhan, Memburu Fatamorgana merupakan novel yang memuaskan karena banyak hal menarik dan baru yang bisa kita dapatkan dari membacanya. Perpaduan karakterisasi yang cukup dalam tapi tidak berlarut-larut, alur yang dibumbui suspense dan kisah percintaan juga menjadikan inti cerita menjadi tidak membosankan dan membangkitkan rasa ingin tahu.

Jawaban Kuis:
Entin menentukan Abu Dhabi sebagai negara tujuan tempat bekerjanya dengan cara memutar jangka di atas lingkaran abjad A sampai Z. Jawaban ada di halaman 142.

Ditulis untuk mengikuti lomba penulisan resensi yang diadakan di sini.

Advertisements

94 thoughts on “(Memburu Fatamorgana) Yang Ringan Tapi Berbobot

  1. ohtrie said: Dan usaha orangtua Chloe untuk menjamu pacar bulenya dengan cara capek2 masak juga kurang di kembangkan, padhal kalo ngliat ini adalah bagian ‘habit’ dari orangtua yang borju (secara orang tua Chloe tajir gitu loh) khan sangat unik…. Tapi bisa dimengerti lahhh…

    Oh ya, itu kan pertemuan dua budaya juga antara Indonesia dengan Prancis. Makanya aku bilang mustinya dibikin 500 halaman lebih.

  2. anazkia said: Itu dia, Mbak..bener menarikDi satu sisi, orang Malaysia yang keturunan Indonesia mengakui bahwa kebudayaan2 nenek moyangnya adalah kebudayaannya. Tapi di lain pihak ketika berbenturan dengan dua negara ini menjadi masalah.Eh, tapi orang yang ngajakin nulis diem aja sekarang 😦

    Lah, kok yg ini keliwat. Sorry Naz. Iya, banyak benturan bahkan di MP pun pernah. Yang ngajakin nulis org Malaysia atau org Indonesia yang tinggal di Malaysia? Tagih aja Naz 😉

  3. tintin1868 said: hari ini terakhir ya.. ntar ku posting deh.. ku janji mo ripiu juga.. suka deh cara ambil angle fotonya.. pengen niru.. 😀

    Iya hari ini Mbak. Ayo buruan dong bikin resensinya. Makasih, cara ambil foto spontan aja, kayaknya bagus kalo di belakangnya MPnya Mbak Helene.

  4. anazkia said: Mahal diongkir, MbakAnaz belum kirim alamatnya 😦

    Heleh, wong Mbak Niez sudah bersedia kok. Sambut cepetan, sebelum dia berubah pikiran. kalo masih bilang nggak enak2, aku kasih garam looo.

  5. nitafebri said: kereen resnsisnyaa.. dikupas abis ama mba Irma…btw berapa lama baca buku ini??

    Makasih Nit. Bacanya cepat kok, cukup sehari semalam… sampai2 tidur malamnya lewat dr jam Cinderella.

  6. aghnellia said: anaz mana alamatnyaa?? jadi dikirimin hadiahnya gaak?? atu buat mbak niez aja? hihihihi

    Mel, kalo Anaz gak mau, kirimin ke aku aja deh. Si Anaz gimendong sih, udah ditanyain alamat berkali2 rupanya tapi gak jawab2.

  7. santipanon said: ada apa ini… ada apa ?? ngedenger ada yg bagi2 permen

    Ha…ha… Santiiii kemenong ajong? Dari kemaren gue nanya gitu mulu, bosen gak? Bagi2 permen cuma buat yg komen, San. Permen virtual tapinya…he…he.

  8. penuhcinta said: Aku banyak tulisan cuma bagian depannya doang terus gak diterusin krn berbagai hal. Memalukan yak, org sastra kok gak menulis

    Mbak Irma, maaf. Mbak Irma rupanya orang sastra yah? *baru tahu*

  9. penuhcinta said: Ha…ha… Santiiii kemenong ajong? Dari kemaren gue nanya gitu mulu, bosen gak? Bagi2 permen cuma buat yg komen, San. Permen virtual tapinya…he…he.

    ga bosen, seneng malah, berarti awarness nama gw masih ada lah hehehhe…. btw, untuk dapet permen virtual gimana cara??? komen apa gitu?? *dasar pemalas ga mau baca*

  10. anazkia said: Mbak Irma, maaf. Mbak Irma rupanya orang sastra yah? *baru tahu*

    Iya, gak keliatan yah dr tulisan2ku yg nyastra banget? Ha…ha…ha. Gak apa2 Naz, ada banyak hal yg aku juga gak tahu dari kontak2ku.

  11. santipanon said: ga bosen, seneng malah, berarti awarness nama gw masih ada lah hehehhe…. btw, untuk dapet permen virtual gimana cara??? komen apa gitu?? *dasar pemalas ga mau baca*

    Brand awareness ya jeung. Abisan dikau ngumpet melulu sih. Sejak afiftainment kehilangan pamornya, pada menghilang deh teman2 yg gue temui di situ. Komen tentang resensi gue, apaan kek gitu… penulis resensinya cakep banget misalnya…ha…ha..ha. Buruan deh, sebelum permennya habis.

  12. anazkia said: Mbak Irmaaaa…Ini Anaz serius minta maaf tentang tadi pagi yah? Anaz kepikiran nggak enak…Punteun yah, Mbak, atas kedudulan Anaz 🙂

    Ih Anaz, gak apa2 kok. Udah, jangan dipikirin lagi ya. Tenang aja.

  13. nonragil said: Irma….., pinginnya sih banyak lagi yg ditulis, tp di halaman 150, aku ama Wuwun dan ngos-ngosan tuh, hihihihihihihi. Makasih buat reviewnya….

    Ha…ha…ha… sama2 Mbak. Iya, aku maklum kok, nulis itu gak gampang. Aku sadar banget itu. Apalagi kita juga punya banyak kesibukan lain. Lagian pembaca pd umumnya gak tahan baca yang panjang2.

  14. santipanon said: wkwkwkwkkwkw…., okeh deh, kita balik ke kebun bunga virtual aja yuk, gw suka bunga soalnya… :))

    Nanti ya San, kalo kami jadi ke botanical garden yang di St. Louis aku pasang foto2nya. Berasa di surga…hi..hi.. lebai gak sih gue. Tapi memang di kebun bunga gitu berasa indah banget.

  15. penuhcinta said: kalo kami jadi ke botanical garden yang di St. Louis aku pasang foto2nya. Berasa di surga

    hmmmm, masih lama ya… wkwkwkwk ga sabaran gini coba :))

  16. eddyjp said: Selamat Irma, dikau menjadi pemenang ripiu..he.he.he

    Makasih dikasih tahu Mbah! Ha…ha…ha… Hore…hore.. aku masih joget2 kegirangan bener lo ini!

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s