Menipu Anak

Orang tua yang baik seharusnya tidak berbohong pada anak, bukan begitu? Tapi kalau berbohong demi menyiapkan suatu kejutan buat anak tersebut, boleh gak ya?

Saat hendak pergi ke Chicago kemarin hari itu yang tujuan utamanya untuk mengurus surat2, aku sengaja tidak memberitahukannya pada anak-anak. Anak-anakku terutama Imo, biasanya peka sekali jika terlihat aku sibuk membuka halaman situs pemesanan hotel atau mulai asyik browsing sana-sini tentang satu kota tertentu. Dia biasanya sudah bisa menebak bahwa dengan gelagat yang demikian, berarti kami semua hemdak menempuh perjalanan panjang alias liburan.

Aku sengaja hanya buka-buka situs yang berhubungan dengan persiapan ke Chicago saat Imo dan Barrel masih di sekolah. Berkas-berkas hasil cetakan seperti pesanan hotel dan lain-lain juga aku sembunyikan di tempat khusus. Selain itu, pakaian dan perkakas lainnya tidak aku siapkan sampai dengan malam hari menjelang keberangkatan, saat mereka sudah lelap tertidur. Beresss… rahasia tertutup rapat sampai malam itu. Kami hanya bilang pada Imo bahwa hari Minggu itu kami akan pergi memancing.

Tadinya aku ingin semua barang sudah masuk bagasi mobil malam itu. Tapi karena baru bisa beres packing jam 2 dini hari, maka rasanya tak aman dan nyaman bila harus berdingin-dingin ke tempat parkir mobil selarut itu. Maka kami sepakat melakukan hal itu besok paginya saat anak-anak belum bangun.

Keesokan pagi, saat langit masih gelap, suamiku mulai memasukkan kopor ke dalam bagasi. Tiba-tiba Ino keluar dari kamarnya sambil mengucek-ngucek mata. Padahal masih ada dua kopor yang belum dimasukkan dam masih berada di ruang tengah. Aku langsung kecewa karena merasa kejutan akan gagal. Untungnya, karena dia ngantuk, dia tidak merasa ada yang aneh. Dia pikir ayahnya sedang menyiapkan barang-barang untuk pergi mancing. Padahal kan ada kopor ya…ha…ha… kok gak curiga? Saking percayanya sama emaknya ini kayaknya,

Saat kami akhirnya berangkat, anak-anak masih juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berulang kali mereka bertanya kami hendak memancing dimana, karena memang ada banyak alternatif tempat memancing di sekitar tempat tinggal kami. Kami katakan saja hendak memancing agak jauh, di danau yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Tapi makin lama, mereka makin keheranan. Saat perjalanan sudah lebih dari sejam, Darrel mulai melakukan teror dengan jampi-jampi bernama: Are we there yet? Berulang kali, sampai pegel jawabnya…he..he.

Setelah lebih dari setengah perjalanan, Imo akhirnya bertanya: “Kita mau mancingnya di Lake Michigan, ya? Hah! Terbongkar deh rahasia kami. Lake Michigan artinya Chicago. Tapi dasar keukuh, aku cuma bilang padanya untuk bersabar dan pasti akan tahu sendiri dimana mancingnya.

Tapi petunjuk demi petunjuk makin terbaca Imo. Dia membaca plang di pinggir jalan yang menunjukkan berapa lama lagi ke kota Chicago dan makin yakin bahwa kami sedang menuju ke Chicago. Ya sudahlah, kami buka saja rahasianya. Surprise! Kita mau ke Chicago!

Darrel masih bingung dan bertanya, kenapa mancingnya jauh banget…ha…ha..ha. Dan Imo tidak menyangka bahwa ada satu kejutan lagi buat dia. Apakah itu? Tunggu lanjutannya, soalnya aku nguantuuuk pollll…ha…ha…ha. Besok aja ya.

Advertisements

51 thoughts on “Menipu Anak

  1. rosshy77 said: wah..seru banget kl ginianmakin penasaran dng kejutan berikutnyaayo donk makk

    Iya nih, kok aku sukanya bikin sequel terus lama nyambungnya yak? Bener kata si Trie… njelehi….hiks.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s