Chi Town, Here We Come

Kisah perjalanan kali ini berawal dari tersadarnya sebuah keluarga, yang kita sebut saja sbg keluarga bajing krn personilnya yg imut2 dan menggemaskan, bahwa paspor mereka udah hampir abis dan kudu diperpanjang. Tempat terdekat utk memperpanjang yang pendek2 adalah ke Mak Erot. Eh… salah.. maksudnya ke KonJen yang ada di Chi Town yang “hanya” lima jam dari desa kecil tempat keluarga bajing berdomisili.

Seperti biasa si Emak Kece mulai menyiapkan akomodasi dan rencana perjalanan. Dasarnya si Emak ini seekor bajing betina yang pembosan, pengennya mencoba sesuatu yang baru dengan memesan hotel misteri. Hah? Apaan tuh? Hotel berhantu maksudnyakah? Tentu saja bukan.

Jadi ada situs bernama Hotwire dimana hotel2 yg ada gak disebutin namanya, cuma disebutkan kelasnya (bintang kejora atau bintang kecil gituhh), lokasinya (di pusat kota, pinggiran, dekat empang, dsb.), serta fasilitasnya (ada kolam renang apa enggak, ada internet kagak, disediain sarapan gak, dsb). Si Emak yang sebelumnya sudah pengen nyoba2 pesan hotel dr situ, akhirnya dapat lampu ijo dari si Ayah Ganteng. Maka dengan bersemangat, si Emak mencoba dan… berhasil! Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, keluarga bajing bisa mendapatkan kamar di sebuah hotel di TENGAH KOTA! (whistle blowing, audience clapping, heboh deh pokoknya) Tarifnya juga sangat rendah dibanding tarif biasanya, gak beda jauh dengan hotel di pinggiran kota. Ini benar2 sebuah prestasi. Oh si Emak Kece benar2 terharu, layaknya mendapatkan piala Oscar. Terima kasih Hotwire! Mhuaaach! Kau memang benar2 HOT!

Dasar si Emak, sepertinya jadi kecanduan untuk mencoba hal yang baru lainnya. Setelah 2 kali mengunjungi Chi-Town dan selalu terpana pada tarif parkirnya yang gila-gilaan, si Emak mengusulkan lagi agar mencoba transportasi umum yaitu bus kota dan kereta listrik yang disebut sebagai si L alias elevated train. Jadi yg disebut sebagi “subway” di sini bukan kereta bawah tanah, melainkan kereta di jembatan layang.

Kenapa pengen nyoba naik angkutan umum? Karena selama ini si Emak merasa belum sepenuhnya merasakan bagaimana hidup di Chi-town, membaur dengan warganya, bersama2 naik bus, kereta, menunggu di halte. Romantika yang wajar bukan? Kebanyakan org di situ memang memanfaatkan sistem kendaraan umum terpadu di bawah naungan CTA (Chicago Transit Authority) yang sangat komprehensif sampai2 rute bisnya saja ada lebih dari 150. Turis juga banyak yg ke situ tanpa mobil dan kemana2 naik kendaraan umum. Wong parkirnya muahaal sekali. Apalagi parkir di hotel tengah kota yang bisa 40-55 dollar sehari semalam. Bikin pengsan aje deh.

Sayangnya si Ayah Ganteng sama sekali gak tertarik pada ide berpetualang naik bus ala si Emak Kece. Yang bakal capek banget lah, bakal banyak waktu kebuang krn nunggu2 bus lah, yang repot lah, yang kalo anak ngantuk siapa yg mau gendong lah… begitulah sejuta alasan yang diberikannya. Si Emak gak kehilangan akal, dengan jurus rayuan maut 212, maka akhirnya, hanya dua hari menjelang keberangkatan, si Ayah Ganteng menyetujui proposal si Emak. Si Emak pun meloncat2 dengan girang tanpa tahu apa yang sedang menghadangnya.

(bersambung)

Advertisements

66 thoughts on “Chi Town, Here We Come

  1. rengganiez said: asyikk kalo seneng..tapi justru karena pengetahuannya gak banyak mbak, makanya nanya mulu hihihi..untung mb irma sabar ngadepinnya..cabe masih mahal mbak. ini makan mendoan gak pake cabe 😦 Hihihi…kalo mikir pake kurs..berasa cuintahhh buanget ama indonesia yah mba? :-))))

    Baru pertama kali ini ada yg ngecap aku sabar lo, Mbak..he..he. Aku kan tipe wanita sering keluar tanduk. Kalo di sini ada cabe tapi gak bisa bikin mendoan, wong tempe gak dijual lagi. Harus ke kota besar dulu.Ya tapi kalau gaji ngikuti standar sana ya… ya.. gimana ya? He…he… sama aja deh.

  2. rengganiez said: Trus skg yang pembatasan subsidi, angkot gak kena, karena katanya dampaknya akan renteng kemana-mana..

    Duh, kalo sudah dikasih fasiltas sewajarnya nurut ya, tapi kok ini malah terus dibiarkan saja. Gak ngerti deh pemerintah tuh ngapain aja sih kerjanya?Mbak Niez, polusi dan dampaknya kayaknya masih urusan ke seribu seratus sekian sekian dari daftar panjang PR negara kita ya? Padahal itu persoalan besar.

  3. rengganiez said: Nah pas pembagian keuntungan itu yang gak nemu solusi.

    Oh ngono to? Loh, sistem prosentase bisa toh? Besarannya pastinya ya yg jadi masalah. Heeeh… padahal itu juga belum tentu masuk ke kas negara, lebih banyak masuk kantong sendiri biasanya.

  4. nonragil said: Salah satu alasan kami jarang dan males jalan-jalan ke Paris walaupun jarak dari desa kami tinggal “cuma” 13 km , karena ongkos parkir yang mahal….dan susah.

    Deket tuh Mbak, lebih dekat drpd sini ke Chicago. Kalau naik transportasi umu bagaimana?

  5. agamfat said: Wuih, Jakarta bengetr tuh suami elu. Maunya naik mobil terus$ coba ke eropa dimana transportasi umum sangat memudahkan$ atau ke Jogja, naik becak saja hehehe

    Gam, pas di Jakarta mah keluarga gue kemana2 justru kalo gak naik kendaraan umum ya naik motor…he..he. Memang lebih ribet kalau bawa anak kecil soalnya, meskipun sarana trasportasi umum di Chicago cukup baik.

  6. sarahutami said: salahkah saya kalo udah gak kerasan tinggal disini. Mending kabur. Ntar kuposting di jurnal aaaaaaaaaah.

    Dulu aku ke sini bukan krn gak betah lo… suwer. Dan ini juga akan kembali kok.

  7. aghnellia said: keluarga bajing??? Haha sodaraan sama alfin and the chipmunk doongs!!Maaak potonya dong maaak!! Gak apdol kalo kagak ada poto

    Iyaaa… sama2 lucu kaaan? *maksa*

  8. penuhcinta said: Deket tuh Mbak, lebih dekat drpd sini ke Chicago. Kalau naik transportasi umu bagaimana?

    Untuk transportasi umum sih cukup bagus di sini, ketepatan waktu juga untku korerpondensi dari satu line ke line lain cukup teratur. Mungkin yang kurang nyaman di sini, krn metro Parisian adalah metro yg cukup tua (dibangun pd 1900), jadi jarang juga yg ada tangga berjalan dan cukup merepotkan utk ibu-ibu yg punya anak kecil atau org cacat.Tapi, memang spt apa Irma bilang, cukup repot utk bawa anak-anak dng kendaraan umum, dan kalau dihitung-hitung, kalau pergi sekel mending bawa mobil, selain biaya yg dikel impas ama biaya parkir, dan nggak ribet ama anak. Tapi, kalau aku sendiri lebih sering naik kendaraan umum, 25 menit dah sampai jantung kota Paris. Ayo ke sini, aku ajak ke rumahku yg di puncak bukit….,hehehehehehehe

  9. nonragil said: Untuk transportasi umum sih cukup bagus di sini, ketepatan waktu juga untku korerpondensi dari satu line ke line lain cukup teratur. Mungkin yang kurang nyaman di sini, krn metro Parisian adalah metro yg cukup tua (dibangun pd 1900), jadi jarang juga yg ada tangga berjalan dan cukup merepotkan utk ibu-ibu yg punya anak kecil atau org cacat.Tapi, memang spt apa Irma bilang, cukup repot utk bawa anak-anak dng kendaraan umum, dan kalau dihitung-hitung, kalau pergi sekel mending bawa mobil, selain biaya yg dikel impas ama biaya parkir, dan nggak ribet ama anak. Tapi, kalau aku sendiri lebih sering naik kendaraan umum, 25 menit dah sampai jantung kota Paris. Ayo ke sini, aku ajak ke rumahku yg di puncak bukit….,hehehehehehehe

    Biarpun sudah lebih dari seabad, tetap bisa berfungsi dengan baik ya? Hebat konstruksinya berarti. Wah, mau banget ke Perancis… hu…hu.. kapan ya? Mudah2an suatu saat nanti bisa. Makasih ya undangannya, Mbak!

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s