[FF] Gilang

Pertama kali bertemu dia adalah saat aku menunggu angkot menuju terminal Lebak Bulus di halte sebuah kampus di Depok. Hari yang panas terik memaksaku mengorek-ngorek kantung depan tas ranselku untuk mendapatkan beberapa logam uang ratusan untuk ditukar dengan sebotol teh manis dingin. Penjualnya anak lelaki kecil, mungkin usia 10 tahun-an. Rambutnya keriting tebal dan tubuhnya kurus. Dengan cekatan dia mengambil sebotol teh dari kotak pendingin, membuka tutupnya dan menyodorkannya kepadaku. “Makasih,” kataku sambil menyerahkan uang ke tangan mungilnya.

“Sekolah gak?” tanyaku iseng.

“Iya, Mbak. Masuk pagi,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kok jualan,” tanyaku sambil sedetik kemudian menyesali pertanyaan bodoh itu. Tak perlu ditanya, pasti sudah tahu jawabannya.

“Bantu orang tua, Mbak.”

“Duitnya semua dikasih ke orang tua apa buat jajan?’

“Sebagian dikasih ke ibuku, sebagian ditabung, Mbak.”

“Oh, pinter. Iya, rajin menabung ya, kebiasaan bagus itu.” Percakapan kami harus diakhiri dengan singkat karena angkot yang kutunggu telah merapat di tepi jalan tepat di depan halte.

“Mbak pergi dulu, tetap sekolah dan rajin menabung ya Dek!” aku lalu melangkah pergi.

* * *


Siang itu, setelah kuliah dan mampir sebentar ke rumah kontrakan kereta api temanku, aku bergegas menyeberangi jalan, lalu menyeberangi rel kereta api yang membelah dua badan jalan. Ini termasuk rute maut karena sudah banyak korban yang tersambar kereta api saat menyeberang. Entah kapan akan dibangun jembatan penyeberangan yang dijanjikan itu. Yang jelas, tiap tahun, pasti ada korban yang meninggal di rute ini dan juga di beberapa titik lain tempat mahasiswa banyak menyeberangi rel kereta demi mencapai kampus dengan lebih cepat.

Hujan mulai turun dengan derasnya saat aku berada di pinggiran rel. Sambil tengok kiri kanan dan berdoa, aku menapaki papan kayu dan batu kerikil dan melangkahi besi-besi hitam. Lamat-lamat aku mendengar ada seruan. Saat sudah sampai di seberang rel, dengan kelegaan yang amat sangat, aku mendengar seruan itu makin keras, “Mbaaaak!”

Ternyata anak itu. Penjual minuman dingin yang biasa mangkal di halte bus berdiri tepat di sampingku sambil memegang payung besar berwarna hitam. “Mbak, pakai saja payung ini.”

Sedetik aku heran melihat tubuh kurusnya basah kuyup, padahal dia membawa payung. “Kamu ngojek payung juga?” Dia mengangguk sambil tersenyum, seperti biasa.

Tak sempat kami bicara lebih banyak, karena arus kendaraan yang sempat lengang menandakan kami harus segera menyeberang. Sesampainya di seberang, di halte tempat dia biasa berjualan, aku merogoh kantung sambil mengembalikan payungnya.

“Gak usah, Mbak,” katanya sambil tertawa, meski kulihat badannya menggigil.

“Loh? Eh, jangan begitu,” aku tetap nekat menyorongkan dua lembar seribuan kepadanya.

Dia menggeleng lalu balik badan dan menghampiri orang lain yang bersiap menyeberangi jalan dalam derasnya hujan.

“Hei, namamu siapa Dek?” aku berteriak ke arahnya.

“Gilaaaaang!” teriakannya terdengar sayup-sayup dan dia melangkah menjauh mengiringi penyewa payungnya.

Sampai dia menghilang di seberang jalan, aku baru ingat bahwa aku lupa mengucapkan terima kasih padanya.

* * *


Beberapa hari kemudian, aku sengaja berniat pulang dengan naik angkot ke Lebak Bulus. Sebenarnya, aku juga bisa mencegat bus centil warna ungu bertajuk Deborah jika ingin lebih cepat sampai di rumah, karena jalurnya jauh lebih pendek dibandingkan angkot merah merona yang rutenya seperti orang kebingungan, berputar-putar tak karuan ini. Tapi aku memang ada niat khusus.

Begitu turun dari bisa kuning, aku langsung menuju tempat penjual minuman dingin. Aku sudah menyiapkan satu amplop berisi sebagian dari tabunganku di dalam ranselku. Perasaanku bersemangat sekali. Tapi, kulihat di situ duduk seorang anak lain, bukan Gilang.

“Dek, kemana Gilang? Bukannya dia yang biasa jualan di sini?” tanyaku langsung.

Anak itu tampak heran, “Mbak siapa? Gilang sudah gak ada, Mbak. Tiga hari yang lalu dia tertabrak kereta saat sedang ngojek payung.”

Aku langsung terduduk di bangku semen halte bus itu. Tiga hari yang lalu? Itu hanya sehari setelah aku bertemu dengannya.

Dengan tangan gemetar, aku keluarkan amplop putih dari tasku. “Dek, ini buat kamu, dari Gilang. Ditabung ya.” Aku raih tangannya dan kuletakkan amplop itu di tangannya. Dia makin heran, tapi sebelum dia berkata apa-apa, aku berlari menuju angkot yang sudah siap melaju.

Tamat

Advertisements

22 thoughts on “[FF] Gilang

  1. nitafebri said: jiaaaah… berarti yang mba Irma temui situ siapaa.. siapaaa????eh ini FF atau cerita pengalaman yaa…

    FF berdasarkan pengalaman Nit, karena aku memang pernah ketemu sama si “Gilang”. Ketemu sama Gilang dong ah, kan meninggalnya sehari setelah ketemu aku di rel kereta.

  2. nanabiroe said: FF-nya baguuuus tapi panjang bener yak…

    Mosok sih panjang? Bukannya syaratnya minimal 200 kata? Eh, itu QN Toby ding…he…he. Makasih ya Na! Mhuaaah! *kasih mangkok kembang2*

  3. rengganiez said: haduhhhh jadi merinding…nanti kalau gilang dateng pas aku turun di stasiun depok, piye mba? ๐Ÿ˜ฆ

    Ya turun aja, jangan kelewatan spt pas naik trans Jakarta ke tempatnya Bu Peb.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s