Florida Trip Day 2-3: Nasi Goreng Ala Kadarnya dan Kesan Pertama

Malam pertama kami menginap di Hawaiian Inn, suhu udara yang tadinya hangat sekali sampai 75 F, tiba-tiba ngedrop jadi 35 F. Karena memang sampai sudah menjelang malam dan kondisi tubuh kami juga sangat lelah, maka malam itu yang bisa kami lakukan hanya mencari bahan makanan karena kulkas milik Marge kosong melompong. Yang tersedia malah sebotol white wine yang diberikan sebagai hadiah oleh Marge. Untung sudah bawa beras, jadi bisa segera dimasak di rice cooker yang sengaja kami boyong dari rumah.


Kami pun bergegas mencari toko terdekat yang alamak ternyata susah sekali. Karena kami tiba pas hari Natal, maka hampir semua toko tutup. Dengan dipandu GPS kami berkali-kali menemui toko yang tutup dan akhirnya malah mampir ke sebuah warung (toko kecil) yang tak terlacak di GPS yang kebetulan kami lewati. Karena berniat belanja lagi yang lebih lengkap esok hari, kami hanya membeli sedikit bahan makanan seperti telur dan kecap asin. Setelah itu kami langsung kembali ke hotel dan aku pun menyiapkan makanan. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika kami menyantap nasi goreng seadanya dengan lahap. Ternyata meski cuma berbumbu seadanya dan diisi telur saja, nasi goreng pertama ini terasa nikmaaat banget saat kami menyantapnya bersama.

Saat bangun pagi keesokan harinya kami baru melihat jelas pemandangan luar biasa yang menyambut kami. Tepat di bawah balkon kamar kami yang terletak di lantai 5 terhampar Daytona beach yang berwarna putih dan laut hanya beberapa meter saja. Aku coba mencerna semuanya, dari aroma laut, angin dingin musim dingin yang berhembus, dan juga suara burung camar yang bersahut-sahutan. Rasanya seperti mimpi. Sungguhkah aku sekarang di Daytona, Florida?


Darrel melihat ke luar dan berkata, “This is the first time I see the sea.” Oh iya, ini memang kali pertama dia melihat laut secara langsung, kalau Imo sudah berkali-kali diajak main ke pantai ketika kami masih di Jakarta. Tadinya aku khawatir jika dia akan takut melihat laut yang sedekat ini dengan hotel karena dulu sekali aku pernah menginap di sebuah hotel di pinggir pantai selatan dan agak ngeri karena deburan ombaknya terdengar nyaring dari kamar hotel. Tapi ternyata Darrel tak apa-apa dan nantinya aku akan menyaksikan sendiri betapa dia justru menyukainya.


Sayangnya, cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Di luar udara terasa dingin dan angin berhembus kencang. Kami melihat kolam renang besar berbentuk kepala Mickey Mouse yang terletak di luar tak ada pengunjung sama sekali. Begitu pula arena golf mini yang tersedia di bawah balkon kami. Kami yang tadinya telah melepas jaket saat memasuki Florida kemarin siang, pagi ini harus kembali memakai jaket saat berniat ke luar untuk berjalan-jalan di pantai.


Sebelum turun, aku sempat melihat dan memotret pemandangan dari balkon dan juga sayap hotel lain yang tertangkap dari balkon kami. Ternyata hampir semua balkon dan jendela sayap tengah telah dilucuti karena mereka memang dalam masa renovasi. Hotel-hotel di daerah yang tak mengenal salju seperti Florida memang biasanya melakukan renovasi di musim dingin, hal ini kami lihat sendiri dari banyaknya hotel2 di sepanjang pantai Daytona yang melakukan perombakan. Awal peak season mereka berlangsung di saat Spring Break alias liburan musim semi untuk mahasiswa/i kampus yang jatuh sekitar pertengahan Maret. Jadi mereka berusaha mengejar waktu agar saat Spring Break hotel mereka sudah siap untuk menyambut banyak tamu.


Sebelum ke luar, kami melintasi lobi hotel yang luas yang ditata ala Hawaii dengan perabotan rotan dan kipas besar berbentuk daun di langit-langitnya. Sarana hiburan yang tersedia adalah empat permainan seperti balap mobil dan pinball serta satu meja ping-pong.

Jalan menuju kolam renang dan pantai menjadi tidak indah karena tertutup tripleks dan rangka besi. Kami melihat kolam renang di luarpun tampak kotor. Ah… aku mulai merasa sedikit menyesal telah memilih hotel ini. Tapi melihat suami dan kedua anakku masih bersemangat untuk menyusuri pantai, maka aku cerah kembali.


Pantai sepi sekali, hanya ada kami berempat. Tapi kami melihat beberapa mobil diparkir di ujung sana. Pantai Daytona memang terkenal sebagai pantai yang bisa dilintasi mobil karena pasirnya yang padat dan lebar pantainya. Mobil-mobil hanya boleh melintas sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Sepanjang hari, mobil patroli pantai bolak-balik melintasi jalur sepanjang lebih dari 2,5 mil. Dahulu, pantai ini kerap dijadikan ajang balap mobil/motor dan arena percobaan mobil2 baru. Tapi kini, kecepatan maksimum yang dibolehkan di pantai itu hanya 10 mil/jam (16 km/jam).


Setelah berfoto-foto di tengah hembusan angin yang makin kencang, kami pun kembali ke kamar hotel untuk memutuskan tujuan pertama hari ini. Mudah-mudahan masih bisa menikmati meski cuacanya sangat dingin.





(to be continued)

Advertisements

24 thoughts on “Florida Trip Day 2-3: Nasi Goreng Ala Kadarnya dan Kesan Pertama

  1. nanabiroe said: Wow, jadi berasa nonton pilem2 hollywood yang latar belakangnya pantai…Jadi penasaran foto2nya..

    He…he… maksudnya Bay Watch ya? Foto2 baru aja aku pasang sebagian di sini, untuk lengkapnya harus tunggu dulu soalnya hard disc kepenuhan… gak bisa transfer… weleh.

  2. myshant said: ah….membayangkan poto bibir pantai dari balkon kamar tempat Darrel berkomentar šŸ™‚

    Iya, aku juga masih terbayang2. Heeehhh… coba bisa tiap hari liburan ya.

  3. agamfat said: Makanya Christmast break kudunya cari kehangatan di Indonesia. Teman2 kantor gw yg pulang ke negaranya pada mengeluh kedinginan

    Iya Gam, tapi mereka kudu ngumpul kan pasti ada acara keluarga. Maunya gue juga ke Indo aje, lebih mahal tapinya, belipet2.

  4. nitafebri said: Sepii yaa…klo musim panas pasti rame banget n klo mba Irma moto2 pasti cak Marto suka karena pantai getu loog banyak bikini berseliweran hahaha..

    Banget… tapi nanti hari2 berikutnya bakalan lebih ramai kok. Ho-oh, pasti doyan banget dia. Suamiku juga doyan kok, makanya dia berkali-kali bilang, “Salah waktu banget nih, kalo pas summer pasti pemandangannya (bikiniwati) lebih bagus.”

  5. ayuristina said: Sama2 pantainya, sama2 lautnya,,, tapi kok terlihat lebih asik dari indo? Apa krn udah biasa ya ama pantai2 indonesia?

    Warna pasirnya mungkin beda meski di Indonesia jg ada pantai berpasir putih. Bersihnya itu lo Ris, gak ada sampah sepotongpun.

  6. dysisphiel said: bersih banget pantanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Yap, bersih banget, Haya. Sepanjang aku di situ tak pernah liat sampah. Secara rutin sebuah kendaraan ATV “menyapu” dan memunguti sampah2 yang mungkin berserakan. Tapi memang hampir tak ada pengunjung yang membuang sampah sembarangan di pantai dan tempat2 sampah tersedia banyak sekali.

  7. martoart said: Gak renang?Lupa bawa burkini ya?

    Ha…ha…ha. Tahu gak kalau sampai sekarang si Imo menganggap burkini tuh sama aja dengan bikini cuma karena bunyinya mirip. Pertama, burkini muahalll… bisa $100. Harga diskon saja masih $80an. Daripada sekedar memuaskan hasratku berenang, mendingan buat senang2 seluruh keluarga. Kedua, suhu air lautnya masih duingiiin. Aku udah nyobain, celup2 dikit. Herannya kedua anakku, terutama Darrel, malah main air dengan riang seperti gak kedinginan.

  8. martoart said: nah, ntar kalo mayoritas berburkini, bikinilah yg jadi mahal. he he he

    Masih berhubungan sama aqua ya? Hi…hi…hi. Gak akan spt itulah, cukup sebagian pantai ditutup cuma utk perempuan. Di jaman Inggris masih puritan, kalau mau berenang di laut, perempuan pakai baju lengkap dan sembunyi di balik kereta kuda yang dibawa turun ke laut yang gak dalam.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s