Florida Trip Day 1-1: Dikejar Salju dan Nashville

Maksud hati ingin menulis jurnal perjalanan secara rutin kala masih di perjalanan. Tapi apa daya, waktu rasanya begitu sedikit dan tenaga juga sudah habis dibawa keliling-keliling. Sehingga sekarang hanya kenangan yang bisa terekam yang bisa kau tuliskan di sini. Mudah-mudahan cukup lengkap, maklumlah sudah tuwir dan pikun.

Hari Jumat tanggal 24 Desember 2010, kami berniat pergi jam 6 pagi, saat Carbondale masih gelap gulita dan segera setelah sholat subuh. Perjalanan panjang kami akan memakan waktu 14-16 jam dan melintasi 4 negara bagian, jadi semakin awal kami berangkat akan semakin baik. Tapi persiapan terakhir dan segala tetek-bengek membuat jam berangkat molor menjadi jam 8 pagi. Itu juga dengan panik karena salju mulai turun rintik-rintik. Padahal ramalan cuaca menyebutkan salju baru akan turun di siang hari, tapi ternyata mereka turun lebih awal seolah menegaskan kepergian kami yang memang mencari kehangatan ke arah selatan.

Salju yang turun pagi itu merupakan salju yang bisa membuat impian white Christmas bagi yang merayakannya menjadi kenyataan dan ini adalah yang pertama kali dalam 5 tahun terakhir di wilayah tengah Amerika. Biasanya salju baru akan turun menjelang tahun baru.



Maka, di tengah rintik salju yang makin deras, mobil tua kami melaju menuju kota Nashville yang merupakan kota persinggahan pertama yang akan kami jadikan tempat mencari makan siang sekaligus tempat sholat Jumat. Ini sepertinya pertama kali kami nekat melaju di tengah hujan salju. Di tengah jalan, salju makin deras dan kami seperti dihujani kapas dari arah depan. Rasanya ajaib, indah tapi sekaligus mengkhawatirkan. Untungnya jalan tak sempat tertimbun salju karena kami melintas kala salju belum turun terlalu lama. Tak sampai satu jam, kami sudah berada di wilayah yang tak terkena salju sama sekali.


Beberapa kali kami singgah di pompa bensin untuk mengisi tangki mobil kami dan membeli kopi untuk suamiku. Udara masih cukup dingin, sehingga kami berempat masih mengenakan jaket tebal. Pemanas di mobilpun masih dinyalakan untuk mengurangi hawa dingin. Anak-anakku cukup tenang di jalan meskipun mantra: “Are we there, yet?” masih sering diucapkan oleh si kecil Darrel. Mereka cukup terhibur dengan adanya mainan Leapster yang memang sengaja aku beli untuk mengisi waktu mereka kala perjalanan panjang.


Kami agak deg-degkan karena berusaha mengejar waktu sholat Jumat di kota Nashville yang jaraknya sekitar 3,5 jam dari kotaku. Kami mulai memasuki wilayah Nashville menjelang jam 1, padahal waktu dzuhur sekitar jam 12. Ya sudah, kami pasrah. Tak dapat sholat Jumatnya ya gak apa-apa, yang penting bisa tetap sholat dzuhur dan ashar.

Kami tiba di masjid yang dijaga polisi dan sangat sunyi karena orang yang datang langsung masuk masjid dan tak ada percakapan ramai di muka masjid. Kenapa dijaga polisi? Ah, anggap saja untuk menertibkan lalu lintas karena memang arus mobil yang parkir cukup banyak. Tapi kemudian suamiku membisiki bahwa serangan terhadap masjid pernah terjadi di Tenneesssee. Rupanya di bulan Agustus 2010 telah terjadi pembakaran (arson) di masjid Murfreesboro, TN, yang menyebabkan kecemasan muslim di wilayah Tennnessee dan masjid/Islamic Center di Nashville termasuk salah satu yang meningkatkan keamanannya. Oh, rupanya itu sebabnya kenapa suasananya sedikit mencekam.


Aku pikir kami sudah telat sholat Jumat, tapi saat berwudhu terdengar suara adzan yang hanya dikeraskan di dalam masjid. Oh, rupanya belum ketinggalan! Langsung aku bersiap sementara dua anak dan suamiku ada di ruang khusus laki-laki. Sholat Jumat berjalan lancar dan khotbahnya lamaaaa sekali. Masjid kecil ini juga terisi sesak di bagian wanitanya sampai2 kami harus sedikit berdesak-desakan. Setelah selesai, aku langsung ke luar dan menuju mobil yang sudah ditunggui oleh suami dan anak2. Komentar pertama kami, “Lama banget ya sholatnya!” Kami memang mengejar waktu agar bisa sampai bermalam di kota Macon yang cuma dua jam dari kota Atlanta. Lamanya kami di Nashville akan membuat jadwal yang sudah tersusun akan menjadi molor dan bisa-bisa kami baru sampai ke Macon di tengah malam.

Setelah makan siang yang praktis saja (baca: jajan junk food), kami pun melaju menuju kota Atlanta, Georgia. Perjalanan sedikit terganggu karena suamiku sakit gigi. Selama ini memang giginya ada yang keropos dan akibatnya bisa kumat sakit gigi. Kasihan sekali dia, karena dengan sakit gigi masih harus menyetir berjam-jam. Bahkan setelah dihajar obat penahan sakit, masih saja sakit giginya terasa. Moga-moga sakitnya itu tak membahayakan perjalanan kami kali ini.

Next stop, kami akan melintasi kota Atlanta dan menginap semalam di kota Macon. (to be continued)

Advertisements

27 thoughts on “Florida Trip Day 1-1: Dikejar Salju dan Nashville

  1. nanabiroe said: Wow,jadi juga ke selatan ya teh…Salatnya lama bgt? Emang bacaan suratnya apa teh? Anak2 juga betah di mobil, hebat ey..

    Lamanya di khotbah Jumatnya Na. Untung aja pake bahasa Inggris. Masjid2 di sini ada juga yang khotbahnya pake bahasa Arab. Anak2 cukup betah di mobil karena selain ada mainan juga aku kasih camilan. Kalau mampir ke pom bensin, mereka juga ikut turun meski gak selalu. Lumayan deh jadinya gak bosen.

  2. tiarrahman said: Ya pengen ngerasain aja. Di dieng yang katanya dingin banget, aku jarang pake di sana. Pengen buat foto salju juga.

    Insya Allah suatu saat kesampaian ya, Bang. Aku juga awalnya gak pernah mimpi bisa merasakan singgah di negara 4 musim.

  3. myshant said: sakit gigi sambil nyetir ? *nyodorin ponstan ke suwaminya mb Ir*

    Itu sudah minum obat berkali-kali, tapi gak ampuh. Kayaknya ada hubungannya antara getaran mobil dan sakit gigi.

  4. nitafebri said: berita2 di Inet bukannya di AS n Eropa saljunya parah banget yaa..udah kebayang dingin kayak apaaa..uaah..

    Iya, tahun ini di AS parah. Bahkan bagian yg biasa hangat kayak Florida kena imbasnya larena udaranya jadi duingin sampai di bawah nol derajat celcius dan di beberapa tenpat turun salju tipis. Tapi, pas aku balik ke Illinois, udaranya malah gak begitu dingin dan sisa salju yg turun kemarin sudah hilang sama sekali.

  5. martoart said: so beautiful!

    Tetap syahdu memang tanpa dikeraskan kemana2. Tapi ada kalanya aku ingin dengar suara takbir saat lebaran yang didengungkan ke luar masjid karena kangen kampung halaman.

  6. nitafebri said: berarti klo cuma di keraskan di dalem masjid..tuh masjid gak pake TOA yaa di atapnya..yang kayak pemancar

    Enggak, cuma ada pengeras di dalam masjid jadi yang bagian perempuannya masih bisa mendengar. Gak ada masjid di sini yang pengerasnya dipasang di luar. Bisa2 diprotes banyak orang, cari masalah aje…he…he. Lagian sudah ada jam dan waktu sholat, pake Internet juga bisa tahu kapan waktu sholat.

  7. tintin1868 said: oh mama kog sakit giginya saat berlibur.. tapi dinikmati juga ya..

    Iya Mbak, pas berangkat belum kumat eh di tengah jalan malah kumat. Dia tetap tabah sampai akhir…hi..hi.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s