Erotic Translations?

Barusan aku mampir ke website tempat aku biasa cari kerjaan terjemahan. Eh ada satu lowongan kerja yang isinya mengagetkanku. Benar2 kaget, sampai-sampai langsung nulis di sini. Padahal gak biasa2nya aku posting sampai dua kali berturut2 begini.

Jadi ada agen terjemahan yang mencari penerjemah semua bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan salah satu syaratnya adalah:

“Translator must be familiar with adult content.”

Adult content? Loh? Loh? Maksudnya apaan ya? Kayaknya hubungannya sama yang seks nih. Eh, beneran, pas aku klik ke tautan agennya, ternyata nama agen tersebut adalah: EROTIC TRANSLATIONS! Jreng… jreng…jreng.

Setelah kasus judika kemarin itu, ternyata ada juga ya bagian pekerjaan terjemahan yang menyerempet-nyerempet wilayah yang “panasssss”. Ah, aku memang masih penerjemah amatir yang baru saja nyebur ke dunia internasional. Selain itu, mungkin aku kaget karena aku masih lugu nan polos…. cuihhhh. Ha…ha…ha!

Psssttt… kalo mau lihat situs web-nya, silahkan google sendiri yak! Dari tampilan awalnya aja udah menantang!





Advertisements

67 thoughts on “Erotic Translations?

  1. martoart said: Katakanlah, mungkin Miyabi ataupun Tera Patric suka dan punya jawaban akan profesinya, tapi menurutku, mereka bagian dari mesin peleceh perempuan via industri pornografi. Kinerjanya sejajar dengan para perempuan yang menyetujui poligami.

    Kalimat terakhirnya keras dan kontroversial tapi bener juga karena mereka sama2 bisa dilihat dari dua sudut pandang yang bertentangan.Jika pornografi dilakukan dengan alasan, cara, dan dan tujuan yang benar, apakah lalu bisa diterima sebagaimana pembelaan bahwa poligami jika dilakukan dng alasan, cara dan tujuan yang benar masih bisa diterima dan dibenarkan?Ada gak sih alasan, cara, dan tujuan yg benar untuk industri pornografi? Misalnya untuk memerdekakan wanita dari ketergantungan ekonomi, dan mengembalikan kendali seksualitas tubuhnya pada dirinya sendiri? Toh akhirnya industri ini dikendalikan dan dikonsumsi (utamanya) oleh pria. Jadi kesimpulannya, aku sejalan dengan sampeyan Cak, dalam kasus ini.

  2. martoart said: Menerima honor dengan menerjemahkan hal seperti ini menurutku adalah menjadikan diri sebagai kapitalis sekaligus turut merajang martabat perempuan. Sila direnungi.

    Aku memang cenderung menolak kok Cak.

  3. luqmanhakim said: Aku lumayan ngerti pola pikirnya Mas Marto ini Irma. Kalo mau tau, dia inilah orang yang ngomporin aku keluar dari antv dan bener-bener keluarlah aku dari industrinya Bakrie itu…

    Sudah kuduga. Kompornya ampuh banget yak. Tapi aku rasa, tanpa dikompori juga, kau pasti sudah gerah kerja di situ. Cak Marto cuma cuma tinggal memicu pelatuknya, peluru sudah dipasang dan senjatanya sudah dikokang.

  4. luqmanhakim said: Penjelasan Mas Marto ini masih bisa disanggah dalam sudut pandangku. Nggak bisa langsung disamakan kondisional profesi Miyabi, Tera Patrick dengan segala performanya pada perempuan penyetuju poligami. Mas Marto mungkin nggak ngeliat dari sisi Nina Hartley, bintang bokep yang punya gelar doktor, pun bisa jadi juga Mas Marto nggak kepikiran ada bintang bokep kayak Ran Asakawa bintang bokep Jepang yang rajin ngebokep ria di tahun 2002 sampe 212 judul film dia dapet Guinness Book of World Record atas peran terbanyak membintangi film porno dan belom ada yang ngalahin. Jangan lupa, Tera Patrick juga penulis buku, buku terakhirnya yang launching Rabu, 5 Januari 2010 kemarin, judulnya “Sinner Takes All”, diterbitin sama Penguin Gotham Books nyeritain perjalanan hidupnya sebagai bintang porno, segala kesepian, cinta, nafsu dan birahi yang ia alami. Miyabi sendiri juga bukan orang bodoh, bahasa Inggrisnya lancar banget juga bahasa Perancis.Nyalahin karena ini adalah industri? Ehmmm… Panjang jawabannya.Bisa jadi iya, jelas karena industri pornografi itu mesin uang. Tapi kalo ngeliat fenomenanya Nina Hartley, dia ngebokep sambil kuliah, lantas disertasinya itu malah dari bidang pornografi yang dia geluti, pun dibahasnya juga masalah pornografi dari sudut pandang keilmuan, kalo udah begini gimana?Aku ngeliatnya macam geliat mencari ilmu dalam bentukan riset. Ya, Nina Hartley itu ngeriset, seperti apa pornografi itu dan bentuk-bentuk fenomena yang ada, baik dari segi budaya, baik dari segi imbasnya ke masyarakat. Orang awam udah kadung ngeliatnya sebagai bintang pornonya aja, padahal nggak. Dia ini adalah orang yang menganjurkan safe sex lewat LSM-nya. Beberapa kali ceramah di universitas, pun sering banget dateng ke sekolah-sekolah buat nyuarain masalah safe sex ini.

    Luqman is playing the devil’s advocate. Tapi bisa juga dibantah Man. Justru ironis kalau perempuan sepintar Nina Hartley menyerahkan tubuhnya sebagai obyek, meski dia merasa dia yang menentukan. Keterlibatannya sebagai bintang porno justru seperti menempatkan sekat sehingga orang tak bisa melihat isi kepalanya tapi hanya bisa fokus pada isi beha dan celananya. Sayang sekali. Padahal kalau sekedar mau riset tanpa ikutan nyebur kan bisa aja.

  5. luqmanhakim said: Aku malah nganjurin diambil aja profesi itu. Sekalian belajar, seperti apa sih dunia pornografi, diliat dari kondisional aslinya, dari industri yang nawarin bentuk pekerjaan penterjemah untuk materi-materi pornografi. Dari situ bisa aja Irma ngeriset, bikin dalam bentuk tulisan ilmiah dan dijabarin lewat hipotesa dan sudut pandang keilmuan.Ambil aja Ir, itu sih saranku…

    Ha…ha…ha… kalau aku malah kepikiran bikin riset dari segi sastranya. Erotika juga salah satu genre dan di Inggris juga pernah jadi hits, terutama dalam drama. Lady’s Chatterley’s Lovers yang dianggap vulgar misalnya, ternyata kalau dibahas dari berbagai segi justru sangat kaya dan sampai sekarang bertahan sebagai karya kanon. Bisa jadi karya2 erotika lain di masa kini justru punya layers yang bisa dikupas dan dibahas. Dengan tambahan pengetahuan mengenai industrinya, bahasannya bisa lebih kaya lagi.Jadi gimendong dong? Ambil kagak yak?

  6. martoart said: tapi kalau kelak ada gender equality, industri pornografi pasti makin menggairahkan

    Coba digambarkan, Cak. Kira2 industri porno yang makin menggairahkan kayak apa? Maikin ramai atau makin melindungi hak perempuan?

  7. luqmanhakim said: Ada gerakan feminisme radikal di Amerika, tokoh utamanya Nina Hartley, mereka bilang bahwa laki-laki itu sudah mendominasi segala bentuk kehidupan dan ini harus dilawan, minimal di kamar tidur. Nggak heran, tokoh-tokoh feminis radikal ini asalnya kebanyakan para bintang bokep dan film-film mereka kentara banget sisi feminisme radikalnya.

    Ini dia salah satu argumen feminis dalam melihat pornografi. Dua sisi yang bertentangan memang, antara menjadi obyek dan menguasai tubuh sendiri.

  8. martoart said: Yaaaahhh… gw ngomong panjang x besar buat memilah jadi bahan renungan Irma kan biar doi bisa nentuin keputusan Man.Makanya gw sengaja pilah itu. Yaudah deh keputusan ada di tangan Irma.

    Betul sekali. Ane masih bingung Gan, tapi cenderung nolak sih.

  9. agamfat said: Omong-omong, ada Dr Victoria Zdrok, mantan playmate & pet, meraih doktor psikologi hukum.Tapi omong2 pasca Jameson (lupa nama depannya), siapa raty bintang porno ya?

    Banyak yg pinter memang Gam. Jenna Jameson juga lo, sampai pernah jd pembicara di kampus terkenal (lupa Harvard atau mane ye) membahas industri pornografi. Si Jenna bukan cuma pemain film, tapi juga jd produser dan pemilik website porno. Jadi dia juga business woman yang handal.

  10. penuhcinta said: Jenna bukan cuma pemain film, tapi juga jd produser dan pemilik website porno. Jadi dia juga business woman yang handal.

    Dan dia salah satu bintang yang kelewat disayang sama Steve Hirsch, Yahudi pemilik Vivid Entertainment…

  11. penuhcinta said: Luqman is playing the devil’s advocate. Tapi bisa juga dibantah Man. Justru ironis kalau perempuan sepintar Nina Hartley menyerahkan tubuhnya sebagai obyek, meski dia merasa dia yang menentukan. Keterlibatannya sebagai bintang porno justru seperti menempatkan sekat sehingga orang tak bisa melihat isi kepalanya tapi hanya bisa fokus pada isi beha dan celananya. Sayang sekali. Padahal kalau sekedar mau riset tanpa ikutan nyebur kan bisa aja.

    Kadung kecebur Ma… Gw pernah nulis kok di MP, Masa Pensiyun Para Bintang Porno

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s