Koleksi ‘Mainan’ Masa Kecilku

Dua anak lelakiku sangat hobi bermain dan mengoleksi LEGO. Begitu sukanya sampai-sampai ketika ditanya hadiah apa yang diinginkan untuk ulang tahunnya, maka si Sulung menjawab: “All the LEGOs in the world.” Namanya anak kecil, kalau sudah gemar akan suatu hal bisa fanatik sekali sampai-sampai hanya itu-itu saja yang dimintanya jika pergi ke toko mainan.

Aku jadi ingat akan dua sepupu jauhku yang punya koleksi boneka Barbie banyak sekali. Dari bonekanya sampai pernik-pernik seperti pakaian, rumah, mobil, lengkap dimiliki oleh mereka. Salah satu teman SMAku juga mengoleksi boneka-boneka lembut berbentuk berbagai hewan. Saat aku menengoknya dikala ia sakit, di tempat tidurnya penuh dengan boneka-boneka tersebut. Lalu aku pulang dan menengok kamarku, heleh…tak ada sepotong boneka pun di dalamnya.

Apa ini efek dari aku yang memang dulu agak tomboy ataukah ortuku memang gak pernah mau membelikan boneka ya? Iseng aku tanyakan pada Ibuku, “Bu, kok aku dulu gak pernah dibelikan boneka sih?” Ibuku malah heran. Lalu jawabnya dengan sederhana, “Kamu gak pernah minta. Sedari dulu kamu selalu minta dibelikan buku, bukan boneka.”


Rupanya memang demikian. Kamarku tidak dipenuhi mainan khas anak perempuan, namun juga bukan dipenuhi mobil-mobilan. ‘Mainan’-ku adalah sesuatu yang genderless bernama buku. Sejak bisa membaca di usia 4 tahun, orang tuaku berlangganan majalah Bobo supaya aku gak rebutan baca koran dengan Bapakku. Oya, salah satu cerita ‘legendaris’ yang selalu diulang-ulang oleh Papaku adalah saat ia pertama kali mengetahui bahwa aku sudah bisa membaca. Saat beliau sedang membaca koran, aku tiba-tiba datang dan duduk di pangkuannya lalu mulai membaca nama koran tersebut. Papaku takjub dan tak percaya. Disangkanya aku cuma bisa baca judul koran karena memang sudah tahu duluan. Lalu dia menyodorkan baris-baris tulisan yang lain, dari judul artikel yang besar sampai isinya yang kecil-kecil. Ternyata bisa! Wah, Papaku senang sekali sampai panggil-panggil Ibuku untuk memberitahu kabar gembira itu.

Sejak saat itu, semua bahan bacaan aku lalap dengan lahapnya. Koleksi bukuku beraneka ragam, dari mulai komik Tin Tin, buku-buku karya Enid Blyton, Astrid Lindgren sampai cerita misteri karya Agatha Christie. Karya penulis nasional juga aku suka, namun kok nama penulisnya dan judulnya tak lengket di ingatan ya? Ada dua buku karya penulis negri sendiri yang sangat berkesan. Salah satunya tentang minyak dari biji bunga matahari, yaitu tentang seorang anak yang menanam bunga matahari supaya bisa membuat minyak yang lebih baik untuk kesehatan kakeknya. Sedangkan buku yang satunya lagi adalah cerita fiksi ilmiah dimana si tokoh utamanya seorang anak laki-laki yang berpetualang dari masa-ke masa dengan mesin waktu.

Tiap kali aku berkunjung ke rumah sanak keluarga atau teman orang tuaku, maka sasaran pertamaku adalah majalah atau buku (jarang sih dipajang di ruang tamu mereka) yang ada di situ. Kebanyakan yang kutemui adalah majalah untuk Ibu-Ibu yang tetap saja aku babat. Kalau tak ada bacaan sama sekali, maka aku bisa cepat merasa bosan dan maunya cepat pulang. Sebaliknya, saat mengunjungi seorang saudara Papa di daerah Tebet, aku malah tak mau pulang. Gara-garanya, anaknya yang sebaya denganku punya koleksi buku sampai dua rak besar.

Kedoyananku akan membaca juga menjadi hikmah tersendiri buat Ibuku yang dengan gagahnya mengurusi segala tetek-bengek kegiatan dalam rumah, mengurus 3 anak masih kecil, sekaligus berbisnis kecil-kecilan dengan berjualan kain batik. Saat aku yang sekarang ini saja sudah merasa kerepotan dengan hanya 2 anak menanyakan resepnya dulu bisa tanpa asisten dan tetap bertahan, maka beliau membeberkan rahasianya: “Loh, kamu kan gampang, tinggal kasih buku langsung duduk tenang di pojokan sampai berjam-jam. Kalau adikmu ya main mobil-mobilan. Makanya Ibu bisa urus ini-itu tanpa bantuan asisten.” Oooo…begitu ya. Rupanya buku juga bisa berfungsi seperti halnya baby-sitter…he…he.

Kenapa aku bisa begitu sukanya pada buku dan kegiatan membaca? Hmm…selain daya tarik hiburannya, hal lain yang bikin aku kesengsem sama buku adalah kemampuannya untuk membawaku terbang ke dunia yang tak pernah aku pijak sebelumnya.
Georges Rémi alias Herge, penulis Tin Tin, komik yang legendaris itu, tak pernah keliling dunia namun berkat hasil riset (baca: membaca buku) dia bisa menggambarkan keadaan di berbagai negara. Hal yang sama juga dirasakan oleh penulis puisi favoritku Emily Dickinson;

There is No Frigate Like a Book


There is no frigate like a book
To take us lands away,
Nor any coursers like a page
Of prancing poetry.
This traverse may the poorest take
Without oppress of toll;
How frugal is the chariot
That bears a human soul!

Tak ada kapal yang bisa seperti buku
Yang membawa kita jauh berkelana,
Dan tak ada kuda yang bisa seperti halaman
Puisi yang berderap kencang.
Haluan ini dapat ditempuh oleh orang yang termiskin
Tanpa harus membayar apapun;
Betapa murahnya kereta kencana
Yang menerbangkan jiwa manusia!

(terjemahan bebas sekali, mohon maaf jika kurang pas…memang puisi termasuk hal-hal yang sangat kehilangan ‘rasanya’ jika diterjemahkan)


Bonus: Bahkan si Marlyn-pun membaca!


sumber gambar: dari mana2…comot sana-sini tanpa ijin…hayoooo.

Tulisan ini dibuat dalam rangka curhat yang terinspirasi oleh sayembaranya Mbak Uci di SINI.

Advertisements

84 thoughts on “Koleksi ‘Mainan’ Masa Kecilku

  1. ohtrie said: cuer ki “cair” mBakkkk…..otaknya Gundhul khan kadang emang sering meler karena cair itu… ;))

    Ohhhh…iya kan mirip ya bunyinya. Cairnya cairan apa dulu. Kalo umbel kan percuma..he..he. Jorok ah…ganti jangan nyebut umbel2 melulu. Ayo sana cuci muka, cuci tangan, cuci kaki dan cari kutu bersama.

  2. penuhcinta said: ‘Wayah’ itu sodaranya ‘uyah’ bukan sih? Ahhh….bahasa Sansekerta aja deh sekalian. Hi..hi..hi.

    wayah = waktusak wayah-wayah = every time….

  3. penuhcinta said: Jurnal yang dia simpan Indomie di lacinya sementara bumbunya udah dimakan duluan? Ngliwet apaan tuh? Bikin nasi liwet maksudnya. Nasi liwet sih aku doyan. Kirimin dong…dang ding dong.

    ho’oh benulll…… hihihi……yups ngliwt ya bikin nasi liwet ta mBakk….

  4. ohtrie said: wayah = waktusak wayah-wayah = every time….

    Oh…nambah lagi deh kosa katanya. Duh lambat kayak siput nih tambahannya soalnya para Javanese people ini suka gak mau lempar kamusnya ke sini. Makasih yo Trek. Memang cocok banget kau dan Gun saling padhu. Lucu soalnya. Serasa nonton Srimulat.

  5. ohtrie said: ho’oh benulll…… hihihi……yups ngliwt ya bikin nasi liwet ta mBakk….

    Huuu…huuuu…jadi nangis inget nasi liwet. Kalau pulang ke rumah (alm) Mbahku dulu di Solo pasti mampir ke emperan makan nasi liwet.

  6. penuhcinta said: Memang cocok banget kau dan Gun saling padhu. Lucu soalnya. Serasa nonton Srimulat.

    aissyyy emoh aku kalo musti di cocok cocokin ama Gundhul mBakk……dia makannya banyak, badannya aja gedhe sak hohah lhooo……kalo diajak main malu maluinn, beneran kadang maeman ya di kantongin sihh….;)) Mlayuuuuuuu……..

  7. penuhcinta said: salah bukunya apa emang orangnya ya yang daredevil alias terlalu berani? Yakin deh, pasti pengalaman2 yg kau ambil inspirasinya dari buku itu khas anak2 cowok, terutama yg pecicilan…he..he. Tulis dong Man di blogmu…bakal kocak kayaknya. Aku bisa membayangkan betapa deg2kannya Ibumu dulu itu ya.

    Pengen juga sih Mbak, tapi aku lagi meminimalisir menulis tentang pribadi. Soalnya nggak semua orang seneng baca hal-hal subyektif tentang diri seseorang, lain cerita kalo emang sengaja buat jadi bahan obrolan umum, sharing, kayak apa sih masa kecilnya kita-kita dulu

  8. Majalah (bobo dan kawanku) dan buku cerita di rumahku nggak pernah awet, dibaca 6 orang anak bergantin…Tapi di keluarga suamiku awet lho….waktu bognkar rumah untuk renovasi, semept lho nemu buku buku wayang koleksi suamiku waktu kecil….

  9. ohtrie said: aissyyy emoh aku kalo musti di cocok cocokin ama Gundhul mBakk……dia makannya banyak, badannya aja gedhe sak hohah lhooo……kalo diajak main malu maluinn, beneran kadang maeman ya di kantongin sihh….;)) Mlayuuuuuuu……..

    Ha..ha…ha..malu2in tenan. Tapi kan kalo pas Iedul kurban bisa dijual.

  10. thebimz said: huwaa pinjem koleksinya mbak.. 😀

    Kalau buku2 masa kecil ya sudah tak tahu kemana. Kalau koleksi yg sekarang sih banyak. Buku2 semasa di Indonesia aku titip ke tetangga lengkap dengan rak bukunya.

  11. luqmanhakim said: Pengen juga sih Mbak, tapi aku lagi meminimalisir menulis tentang pribadi. Soalnya nggak semua orang seneng baca hal-hal subyektif tentang diri seseorang, lain cerita kalo emang sengaja buat jadi bahan obrolan umum, sharing

    Takut terdeteksi wartawan gosip ya Man? Hi..hi..berasa salep eh seleb. Kalau aku malah suka curhat gak jelas kayak gini karena ge-er, menganggap kehidupanku menarik utk dibagi…ha…ha. Sesekali gak apa2, biar kita punya bahan celaan…loh?

  12. rinita said: Majalah (bobo dan kawanku) dan buku cerita di rumahku nggak pernah awet, dibaca 6 orang anak bergantin…Tapi di keluarga suamiku awet lho….waktu bognkar rumah untuk renovasi, semept lho nemu buku buku wayang koleksi suamiku waktu kecil….

    Berebutan gak tuh? Dulu aku sih gak rebutan, soalnya cuma bertiga dan adik2ku gak terlalu hobi baca…jadinya aku bisa meratulela. Iya, pas diinget2 lagi, mustinya masih ada deh beberapa buku masa kecilku di rumah ortuku. Mrk gak pernah buang2 buku soalnya.

  13. havitdema said: endisik aku moco si kuncung jeng…..,

    Kuncung kayaknya aku pernah baca juga, apa sekedar tahu ya? Itu yg booklet di majalah wanita bukan sih Mas? Kartini atau Sarinah biasanya kasih bonus buklet isi komik dan cerita anak di tengah2nya.

  14. penuhcinta said: Kuncung kayaknya aku pernah baca juga, apa sekedar tahu ya? Itu yg booklet di majalah wanita bukan sih Mas? Kartini atau Sarinah biasanya kasih bonus buklet isi komik dan cerita anak di tengah2nya.

    jadul sanget kuwi jeng,sebelum ada majalah kartini,sarinah,masih masa nya majalah selecta,aktuil sama caraka…..,

  15. havitdema said: jadul sanget kuwi jeng,sebelum ada majalah kartini,sarinah,masih masa nya majalah selecta,aktuil sama caraka…..,

    Kalau yg tiga Mas sebut itu malah aku ndak tahu..he..he. Kalau masih ada yg punya bisa jadi koleksi barang langka tuh.

  16. ayuristina said: Bsgiku, baca adalah obat tidur yang mujarab

    Betul juga, aku sebelum tidur biasanya baca buku dulu. Resikonya kalau bukunya asyik ya malah jadi gak bisa tidur Yu.

  17. revinaoctavianitadr said: Jadi yang ini penuh dengan tatanan baku ya, mb?*pertanyaan iseng :p

    Banget. Aku juga lagi melatih diri supaya terbiasa. Soalnya gimane ya Mpok, pas ngasih kuliah aje gue bahasanya belibet begene…ha…ha. Gak biasa ngomong dng formil…padahal pd saat2 tertentu diperlukan.

  18. Nanti dikirimnya pake container aja mBa…yang diitung kan volumenya, bukan beratnya. Kalo dulu waktu di Jerman biasanya ada join-an pengiriman, soalnya barang2 kita kan ga mungkin sampe 1 kontainer. Jadi barangnya dikirim ke kota tempat pengumpulan yang udah disepakati (ini masih diliat beratnya) terus dikirim ke Indonesia pake kontainer yang ngitung biayanya berdasarkan volume, bukan berat. Jadi masih terjangkau lah……

  19. penuhcinta said: Tadinya mau dikirim bertahap, tapi pas nyoba nimbang buku2 dng timbangan jadi ciut. Temanku yang udah pengalaman kirim buku2nya dari sini memang pernah bilang dia habiskan sampai lebih dari $1000. Ajegile kan. Dijual lagi di sini jadi pilihan terakhir…ihiks…sedih ngebayanginnya

    Aduuh, sebaiknya jangan dijual lagi, mb.Sayang banget, loooh …Sekedar sharing, dulu barang-barang kami dipaketin via shipping company gitu, mb. Mereka ngitungnya berdasarkan volume dan bukan berat kayak di kantor pos. Jadi jatuhnya bisa lebih murah.Nah, kalo barang2 lain (misalnya kayak furniture dan elektronik) sih memang sebaiknya dilepas aja, mb. Enggak worth it juga kalo dibawa pulang karena toh voltagenya beda dengan Indonesia (kecuali sesampainya di Indo m’Irma mau ribet masang step up/down pada setiap peralatan elektronik tersebut biar bisa di-on-in).

  20. penuhcinta said: Takut terdeteksi wartawan gosip ya Man? Hi..hi..berasa salep eh seleb.

    Bukan… Bukan Cuma jadi keingetan sama filsafat sederhana tentang berteman, “orang senang bicara tentang dirinya sendiri 4 jam, tapi nggak bakalan kuat ngedengerin bicaranya orang lain tentang dirinya cuma 4 menit aja…”Dari situ, aku berusaha banget buat belajar mendengarkan lebih banyak ketimbang bicara. Toh Tuhan ngasih kita 2 kuping buat mendengar lebih banyak ketimbang bicara…Halah! Kesurupan rohnya Mario Teguh lagi dah…!

  21. itapage said: Mb Irma….buku2 kesayangannya sama dg favo aku saat SMP/SMA, tambah lg trio detektip, lupus

    Iya Ta, aku juga suka Lupus…jaman kelas 6 SD tuh. Kita jaman2nya gak beda2 amat kayaknya. Jaman dulu lbh banyak buku terjemahan ya drpd yg dikarang penulis nasional.

  22. nendenros said: Nanti dikirimnya pake container aja mBa…yang diitung kan volumenya, bukan beratnya. Kalo dulu waktu di Jerman biasanya ada join-an pengiriman, soalnya barang2 kita kan ga mungkin sampe 1 kontainer. Jadi barangnya dikirim ke kota tempat pengumpulan yang udah disepakati (ini masih diliat beratnya) terus dikirim ke Indonesia pake kontainer yang ngitung biayanya berdasarkan volume, bukan berat. Jadi masih terjangkau lah……

    Makasih usulannya ya Nen. Sempat sih kepikiran utk pake kontainer, tapi nyari teman barengannya ini yang agak sulit. Soalnya sedikit sih org Indo yg di sini, trus kurang kompak lagi…sibuk sama urusan sendiri2..he..he.

  23. revinaoctavianitadr said: Aduuh, sebaiknya jangan dijual lagi, mb.Sayang banget, loooh …Sekedar sharing, dulu barang-barang kami dipaketin via shipping company gitu, mb. Mereka ngitungnya berdasarkan volume dan bukan berat kayak di kantor pos. Jadi jatuhnya bisa lebih murah.Nah, kalo barang2 lain (misalnya kayak furniture dan elektronik) sih memang sebaiknya dilepas aja, mb. Enggak worth it juga kalo dibawa pulang karena toh voltagenya beda dengan Indonesia (kecuali sesampainya di Indo m’Irma mau ribet masang step up/down pada setiap peralatan elektronik tersebut biar bisa di-on-in).

    He-eh Vin, sayang banget. Jual atau buang buku tuh pantang banget buat aku. Makanya buku2 sekarang udah numpuk dimana2…wong apartemennya kecil, Iya, seperrti usul Mbak Nenden ya? Aku juga lagi menjajaki dan ngitung2 meski belum serius banget. Maunya sih dicicil kirim ke sana sebelum orangnya pulang.

  24. Betul sekali kok Mas. Kalo gak salah, Dale Carnegie juga pernahh cerita begini: Saat di sebuah pesta, banyak yorang yg ditemuinya menyatakan bahwa dia seorang yang sangat sociable alias gaul banget. Pdhal tipsnya dia cuma satu: banyak mendengar.

  25. nitafebri said: eeeh teranyata ikutan kuisnya juga..buku si badung itu paling di cari2 sekarang ama sayah klo lg ubek2 toko buku bekas.. 😀

    Iya Nit, iseng2 berhadiah he..he. Nita ikutan juga?

  26. trasyid said: huwaa… buku, rasanya surga banget.. hehe.. *lebay*smoga menang mba.. hehe

    He..he…berjuta rasanya. Aaamin, makasih dukungannya Guh. Padahal sih bukan menangnya yg diincar, tp pemicu utk nulisnya itu lho.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s