Balada Keluarga Bajing Mengejar Bis Kota

Seperti sudah kujanjikan sebelumnya, maka inilah kisah2 seputar keluarga kami dan bis kota alias si Saluki. Bis kota yang cuma berputar2 di wilayah Carbondale ini punya nomor dari 1 s/d 11, masing2 punya rute tersendiri dan tak pernah mereka sesat dari rute yang sudah digariskan.


Jaman dulu (serasa sudah lama sekali) kami tinggal on-campus atau di kompleks apartemen milik kampus yang letaknya sebenarnya bukan ‘on-campus’ namun nun jauh di dekat hutan dan danau. Bis yang melewati kompleks ini adalah no. 1 dan 6 dengan waktu yang berbeda tentunya.

Apartemen kami letaknya sekitar 100 meter dari halte bis dan bisa lebih pendek lagi kalau kami lewat lapangan rumput bukan lewat jalan setapak. Dari pintu belakang apartemen, kami bisa lihat halte dan bis yang akan datang.

Aku dan suamiku termasuk penganut alirat “mepetism” alias kalau pergi kemana2 waktunya pasti mepet sekali. Apakah ini bawaan kebiasaan “ngaret” org di Jakarta? Entahlah, yang jelas jarang sekali kami tiba di tempat tujuan lebih awal dari yang seharusnya. Suamiku kadar “mepetism”-nya lebih parah, jadi seringkali kami berangkat pergi sambil aku bersungut-sungut karena menunggu dia yang siap2nya lamaaa sekali.


Masalahnya jadi rumit, ketika kami yang mengidap mepetism ini berhadapan dengan budaya bis yang terjadual ketat. Seringkali kami harus mengutus Imo untuk mengawasi dari pintu apakah bisa sudah datang apa belum. Sering kali pula kami harus berlari2 melintasi lapangan rumput untuk mengejar bis yang sudah tampak mendekati halte. Sungguh, kalau diingat2 kok rasanya seperti Laura di film jadul Liitle House on the Praire. Si Adik yang masih kecil pasti digendong Ayahnya, sedangkan aku dan Imo pasti lari duluan mengejar bis sementara si Ayah masih bersiap2 atau masih memakaikan sepatu Darrel. Kalau sudah begini, akupun lupa manyun karena pasti ngos2an setelah mengejar bis. Kalau bisnya terkejar, rasanya puass banget bisa berhasil naik bis itu. Tak jarang pula, supir bis tertentu dengan begitu sadisnya pura-pura tak melihat dan setelah berhenti hanya beberapa detik (mustinya 5 menit) langsung jalan lagi meninggalkan kami dengan kepulan asap. Kalau sudah begini, kami harus menunggu setengah jam lagi untuk naik bis yg sama (soalnya dia cuma mutar setengah jam sudah balik ke situ lagi, gitu loo).

Lapangan rumput menuju halte bis

Kalau habis belanja mingguan, kami biasanya membawa sejumlah gembolan plastik yang isinya barang belanjaan dan biasanya berat semua. Biasanya turun dari bis, aku menggendong Darrel dan Ayahnya menggotong semua plastik belanjaan. Berempat kami melintasi lapangan rumput menuju apartemen, kali ini tidak dengan berlari. Saat musim dingin hal ini menjadi lebih menantang karena meski pakai jaket, pasti tetap berasa dingin. Kami biasanya berjalan lebih cepat karena tak mau anak2 berada di udara luar yang dingin terlalu lama.


Pernah juga kami baru beli sepeda kecil buat Imo. Sebelum naik bis kami tanya dulu pada supir bis apakah boleh bawa sepeda itu ke dalam bis, kami kira2 cukuplah untuk meletakkannya di sela bangku. Ternyata supirnya tak membolehkan. Wah, sedih dan malu juga rasanya. Terpaksalah kami harus naik taksi.


Oya, saat itu kami memang lebih memilih naik bis daripada naik taksi karena lebih murah. Taksi di sini paling murah $5 belum pakai tips dan semakin jauh semakin mahal (iya lah), sedangkan naik bis cuma $1 karena Imo dan adiknya gratis (anak kecil di bawah 5 th gratis) dan aku pakai kartu mahasiswa.

Taksi di sini juga unik karena penumpangnya bisa ditambah, artinya bisa jadi bukan hanya kita yg menumpang, bisa orang lain yang searah dengan kita. Taksi di sini juga tak bisa distop di tengah jalan. Kita harus telepon dulu untuk memesan dengan menyebutkan alamat kita dan alamat tujuan serta berapa jumlah penumpangnya. Nanti taksinya akan datang menjemput ke tempat kita.

Ya begitulah balada kami mengejar2 bis kota dan sekelumit tentang taksi di sini.

Note: Cari foto bisnya kok blm ketemu, sementara pasang foto2 kami di halte bis, di dlm bis dan di lapangan rumput tempat kami biasa mengejar bis kota.

Advertisements

53 thoughts on “Balada Keluarga Bajing Mengejar Bis Kota

  1. revinaoctavianitadr said: Bikinin kue tart bentuk dino ijo, mb …

    Seperti yg aku bikin buat cake-walk di sekolahnya. Aku sih biasanya tinggal tunggu pesanan. Tahun kemarin aku bikinkan dia tart bentuk kereta api. Eh udah aku posting blm ya foto2nya. Ha…ha…sampai suka kelupaan.

  2. penuhcinta said: Taksi di sini juga unik karena penumpangnya bisa ditambah, artinya bisa jadi bukan hanya kita yg menumpang, bisa orang lain yang searah dengan kita.

    bayarnya patungan mbak? Jadi kayak mikrolet aja 😉

  3. ailtje said: bayarnya patungan mbak? Jadi kayak mikrolet aja 😉

    Masing2 sudah ada tarifnya, jadi sebenarnya si supir dapat dobel2. He…he…mikrolet tapi lebih mendingan dikit.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s