Bedinde…oh Bedinde

Kebiasaan ye kalo abis lebaran Ibu2 pada cemas gara2 para bedinde belum balik dari kampungnya. Hampir semua berkeluh kesah, terutama karena terpaksa harus ‘menggantikan’ peran bedinde mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Untuk Ibu2 yang bekerja apalagi, mereka pasti lebih panik karena selain pekerjaan rumah, anak2 mereka juga semestinya sudah diambil alih ke pangkuan para baby-sitter. Kalau baby-sitter gak datang juga, bisa gaswat deh. Cuti lebarannya kan gak bisa diperpanjang.

I’ve been there, done that. Semasa masih di Jakarta akupun seperti itu. Saat masih bekerja dan punya anak balita biasanya saya mengambil para asisten dari para agen. Berhubung rumah ortu dan rumah mertua jauh dr rumahku, maka aku biasanya mempekerjakan dua orang asisten, yg satu utk urusan rmh tangga sedangkan yg lainnya utk urusan anak.

Alasan kami mengambil ke agen, bukan mencari secara tradisional dr mulut ke mulut atau lwt saudara adalah demi menghemat waktu dan tenaga. Meskipun memang pastinya lebih mahal karena standar gajinya juga lebih tinggi, juga ada uang garansi, tapi kami tak punya cara lain karena cara2 tradisional yg ada terbukti hanya bikin kita menunggu lama sekali tanpa kepastian. Memang sih kesannya kayak buang2 duit karena kami juga tak luput dari metode gonta-ganti asisten, apalagi aku termasuk yang suka pakai naluri dalam menilai asisten dan sangat kuatir kalau anakku diapa-apain sama asisten. Namun secara garis besar, kami cukup puas dengan hasil pekerjaan mereka.

Dengan adanya dua asisten di rumah, akhirnya kami memang dimanjakan dalam artian kalau memang tidak perlu2 banget untuk turun tangan sendiri ya gak usah lah. Alhasil, aku pun jarang masak sendirij. Biasanya hanya saat asisten baru butuh di-training, baru aku turun tangan ke dapur. Selanjutnya, saat si Mbak sudah mahir maka aku menarik diri dari dapur. Begitupula utk urusan2 lain. Kamipun jadi punya lebih banyak waktu utk diri sendiri, aku dengan pekerjaan terjemahan di rumah saat tak sedang mengajar, suamiku dengan kesibukannya di kantor.

Demi kenyamanan itu, kamipun tutup mata pada hal2 yang bisa membuat kesal. Namanya juga asisten, rasa memiliki mereka pada anak dan rumah kita pasti jauh dari yg ada pd kita. Barang2 rusak, pecah, bahkan saluran air sampai mampet gara-gara ada asisten yang ‘membuang’ pakaian anak ke dalamnya pun tidak membuat kami kapok punya asisten. Sampai2 perlakuan mereka pada anak kami sendiri pun, seperti misalnya ‘nyuekin’ saat anak mengajak ngobrol, atau kurang sabar dalam menghadapinya, akhirnya berusaha kami tolerir. Selama masih dalam batas2 wajar ya sudahlah. Yang penting kenikmatan punya asisten tidak hilang.

Singkat cerita, kami diberi kesempatan merantau ke luar negri. Mestinya sih, buat kami yang terbiasa punya asisten, bayangan hidup di luar negri pasti mengerikan. Tidak ada si Mbak yang mengambil alih tugas2 di rumah, tidak ada saudara atau orang tua yang bisa dititipi anak. Apalagi saat pertama tiba aku langsung ‘dihajar’ dng kesibukan kuliah yang sangat menyita waktu. Kalang kabut dong ya?

Tentu saja. Namun Tuhan Maha Adil. Di negri dimana kata ‘bedinde’ itu sudah nyaris tak terdengar dan hanya bisa dimiliki oleh orang2 sangat makmur saja, aku belajar bahwa hidup bisa berjalan baik2 saja. Ada hal-hal yang tidak ada di Indonesia namun menjadi kewajaran di sini. Tenaga manusia tergantikan dengan mesin dan teknologi.

Untuk mencuci baju misalnya, dengan adanya washer and dryer yang segede gaban, kami bisa tinggal taruh pakaian dan sabun cuci (biasanya bentuk cair), masukkan koin, pencet2, lalu ditinggal, biarkan mesin yg bekerja. Bahkan kalau mau meninggalkan cucian itu di Laundromat dan pergi jalan2 dulu juga bisa. Aman, gak ada maling jemuran di sini. Mahal? Pastinya. Sekali cuci bisa habis $12-15 utk pakaian sekeluarga (4 org). Tapi mencucinya cuma seminggu sekali…weleh….kok bisa? Soalnya yang mencuci selalu suamiku yang bisanya cuma pas dia libur…hi..hi..hi. Mensetrika baju? Jangan kuatir, baju2 yang baru keluar dr dryer biasanya masih panas dan jika kita gosok sekali dengan tangan, hilanglah segala kerutan (kecuali bahan2 tertentu ya). Jadi cucian yg baru keluar kalau langsung dilipat atau digantung terlihat sama spt baju yg habis disetrika.

Untuk memasak, di sini justru lebih mudah. Kalau mau ngikutin masakan org sini sih gampang banget…wong segala bumbu dalam bentuk bubuk dan tinggal ditabur saja ke dalam masakan. Bumbu dalam bentuk saus juga banyak sekali, mau bikin Chinese food, spt gurame asam manis, tinggal tuang sausnya. Segala macam sayur sudah dipotong2 baik dlm keadaan beku atau kalengan. Mau sayur segar juga ada, dan tetap lbh mudah dr mengolah sayuran di Indonesia, karena sayur bayam misalnya, daunnya sudah dipetiki dan dikemas bersih dlm plastik. Daging2an? Halah…sama spt di supermarket di Jakarta, semua sudah dipotong2 dan dikemas rapih. Daging ayam yang sudah masak dan dipotong kecil2, jadi kalau utk tambahan tumis2 sayuran ya tinggal tuang saja. Bahkan kalau kita mau memasak masakan tradisional Indonesia yang terkenal sangat merepotkan, di sini juga lebih mudah. Kalau mau gampang banget tinggal pakai bumbu instan. Kalau mau agak usaha dikit, bisa pakai bumbu2 bubuk utk kunyit, jahe, ketumbar, dll. Aku biasanya sedia bawang merah yang diblender atau dihaluskan dng food processor dan disimpan dalam toples di kulkasku. Jadi kalau mau masakan Indonesia yang penuh bumbu, tinggal sendok2 bumbu, campur2…gak ada tuh acara ngulek2 segala.

Semasa masih kuliah, aku juga menerapkan strategi yang lumayan ampuh. Tiap akhir minggu aku akan masak lauk daging2an dlm jumlah banyak dan distok di freezer dalam kantung2 plastik yg sudah ditandai (ditulis nama lauknya apa). Selain bawang giling, aku juga sedia bawang merah dan bawang putih iris untuk membuat lauk sayur. Semuanya disimpan tertutup di kulkas. Khusus utk makanan anakku yg saat itu masih bayi, setiap pagi aku membuat makanan dan menggilingnya di blender serta menyimpannya di kulkas dalam cetakan es batu. Saat anakku hendak makan, aku tinggal ambil beberapa potong makanan bekunya dan menghangatkannya di microwave. Dengan cara ini, keluargaku masih bisa makan buatanku dan aku masih punya waktu utk belajar.

Aku ingat pernah ngobrol di bis dengan Ibu2 dr Saudi Arabia yang punya anak usia 2 tahun. Ia mengeluh kanak-kiri tentang kerepotannya membagi waktu. Ia juga bercerita kalau tiap hari keluarganya selalu mengorder pizza utk makan. Wah…wah…kalau aku sih secara finansial gak akan kuat beli pizza tiap hari. Lagipula, apa gak bosen ya?

Urusan apa lagi? Beberes rumah? Di sini debu nyaris gak keliatan kalau gak diperhatiin banget, seluruh ruangan biasanya pakai karpet jadi susah terlihat kan. Sekali lagi, kami terbantu dengan alat, yaitu vacuum cleaner ditambah lagi dengan tak adanya kewajiban utk mengepel lantai seperti halnya yg dilakukan pada lantai keramik. Bersih2 kamar mandi mungkin yang agak menyita waktu dan tenaga, tapi masih terbantukan dng bahan2 kimia yg membuat kita gak usah menyikat dindingnya lama2. Wilayah yang harus digosok juga sedikit krn lantai kamar mandi biasanya bukan keramik kmr mandi dan tdk tersiram air.

Anak2 bagaimana? Anak2 di sini terbiasa sekolah dengan waktu yg panjang dari jam 8 pagi sampai 3 sore. Sepulang dari sekolah, mereka bisa datang ke After School Program yang tersedia baik di sekolah atau di Day care Center sampai dengan jam 5 atau 6 sore. Beberapa program After School ini bisa didapatkan secara gratis krn menjadi program pemerintah daerah. Jadi saat orang tua pulang kerja/kuliah, anak2nya sudah tiba di rumah lagi. Antar jemput anak? Sudah ada bisa sekolah yang lagi2 gratis. Untuk yang punya uang, tersedia pula Day Care Center yang menampung anak2 bahkan dari usia 6 bulan (bayi banget kan) dari pagi hingga sore.

Demikianlah, meskipun tanpa bedinde atau asisten, kami bisa survive, seperti halnya kebanyakan orang Amerika lainnya. Kalau mereka saja bisa survive, kenapa kita enggak?
Dengan makin s
ulitnya mencari asisten di Jakarta, aku rasa tak lama lagi Jakarta pun akan berubah seperti di sini, dimana tenaga manusia semakin mahal (dan dihargai), dan kita2 ini akan ‘dipaksa’ untuk bisa survive meski tanpa asisten. Jika saat itu tiba, jangan takut ya…pasti akan ada pengganti mereka dan kita pun pasti dibekali kemampuan utk bisa bertahan.

Hal-hal positif yang aku dapati dengan hidup tanpa asisten adalah kedekatan yang makin terasa antara kami dengan anak2. Tanpa adanya baby sitter, anak2 jadi sangat dekat dengan ortu-nya. Aku juga mendapati bahwa menanamkan rasa tanggung jawab mereka untuk ikut serta dalam mengerjakan pekerjaan2 di rumah jadi lebih mudah karena mereka lihat sendiri ortunya turun tangan memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dsb. Anakku yg tertua (7 tahun) disiplin dirinya sangat bagus. Tiap pagi dia akan bangun sendiri dan bersiap2 sekolah tanpa dibantu (mandi, memilih baju, menyiapkan tas), bahkan menyiapkan sarapan sendiri (cereal dan susu). Aku tinggal menyiapkan sack lunch atau bekal makan siangnya. Dia juga terbiasa memandikan dan mengasuh adiknya, apalagi kalau dia lihat aku sedang repot di dapur misalnya. Membereskan mainan masih jadi tantangan tersendiri karena si Adek yg baru hampir 4 tahun masih suka mengacak2 mainan, tapi si Kakak masih lebih sering mau membereskan drpd menolak.

Suamiku yang dulunya hampir tidak pernah lift his fingers (kecuali saat kami tak ada asisten), sekarang malah dengan sendirinya melakukan tugas mencuci pakaian dan juga sering mencuci piring dan terkadang malah masak nasi atau lauk sendiri. Dalam pengasuhan anak, ia juga lebih banyak terlibat. Jauh sekali bedanya dibandingkan saat masih di Jakarta. Sering sekali suamiku berujar: “Rasanya saya kehilangan saat2 berharga perkembangan anak2 kita saat masih di sana dulu,” karena dia membandingkan dengan saat sekarang dimana dia melihat dan merasakan sendiri betapa ajaibnya pertumbuhan dan perkembangan anak2 kami.

Untuk kami berdua, tanpa adanya asisten hidup terasa lebih private. Tak ada mata dan telinga org lain yang akan mengusik kalau kami mau mesra2an di rumah misalnya. Mau ngapain aja, gak akan tersebar luas di kalangan PBB. Tingkat stress juga lebih rendah karena gak harus memikirkan tingkah asisten yang suka aneh2 atau tidak memuaskan.

Jadi, hidup tanpa bedinde? Siapa takut?

Advertisements

16 thoughts on “Bedinde…oh Bedinde

  1. Ah dirimu gak jauh2 bedalah sama diriku disini Mbakkecuali soal makanan ya, disini masih sulit nyari “rasa indonesia”tapi semuanya masih bisa teratasimalahan aku sendiri belum berkeluarga tapi kadang jadi bedinde di rumah bosku masih kuat2 aja tuh :))

  2. rinita said: gue banget tuh tergantung ama bedinde..tapi yakin kok, bisa hidup tanpa bedinde kalau terpaksa….he he he

    Iya Rin, manusia kan adaptasinya bagus banget, situasi apapun bisa bertahan. Aku stlh merasakan ngerjakan apa2 sendiri sih pinginnya bisa gitu juga nanti pas pulang ke Jakarta. Masalahnya, apa gak jebol ya listriknya kalau segala2 pakai alat elektronik? Yg pasti sih jebol dompetnya utk beli alat2 itu ya…he..he.

  3. dhinacung said: Ah dirimu gak jauh2 bedalah sama diriku disini Mbakkecuali soal makanan ya, disini masih sulit nyari “rasa indonesia”tapi semuanya masih bisa teratasimalahan aku sendiri belum berkeluarga tapi kadang jadi bedinde di rumah bosku masih kuat2 aja tuh :))

    Tuh kan jadi mandiri setelh hidup di luar negri. Rata2 kan cerita orang begitu ya? Bagus Dhin, nanti kalau sudah berkeluarga kamu udah biasa dan gak kaget lagi.

  4. santipanon said: pantesan orang sana ga pake si mba pada fine2 aja, ga kaya di kita yg kayaknya dunia jadi kacau balau

    Betul San…di sini gak ada asisten sih biasa banget. Makanya org Amrik kalau tahu kita di Indonesia banyak yg punya asisten suka bingung, katanya negara dunia ketiga…kok pada kaya2 ya? He…he. Yg udah tahu berapa kira2 gajinya asisten di negri kita bahkan ada yg menuding kita melakukan ‘slavery’ alias perbudakan.

  5. nanabiroe said: iya sich bun… Emang susah bgt cari ART hari geneee, hu uh…

    Lagi masa peralihan Na menuju seperti di sini. Nantinya akan lbh banyak pakai alat ketimbang tenaga manusia.

  6. penuhcinta said: (kecuali saat kami tak ada asisten)

    …or for other more meaningful purposes…huahahahahah!!! piiisss noon! =)) met lebaran-minal aidin wal faidzin -mohon mahap laher bathen… tuyu en habi en kiddies yee noonn!! 🙂

  7. laurasaid said: Hayaaah count me in apa count me on sii?? *dodol*

    Hi…hi…hi…kayak lg di kelas aje. Gak apa2 lg Non…mau in kek…on kek…yg jelas kau mau in harus on dulu (heleh…mulaingaco.com).

  8. rozny said: …or for other more meaningful purposes…huahahahahah!!! piiisss noon! =)) met lebaran-minal aidin wal faidzin -mohon mahap laher bathen… tuyu en habi en kiddies yee noonn!! 🙂

    Hua…ha…ha…buat ngupil maksudnye ye Bang? Maaf lahir batin ya Bang. Ane nih nyang banyak salah…banyak kualat, gak sopan sophian sama nyang lbh senior. Salam buat si Mpok dan anak2 ye Bang…salam kumpak selalu.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s