Aku dan Terjemahan (Part 2)

Setelah kejadian tak mengenakkan itu, aku berhenti sama sekali dari menerima order terjemahan dari Big Boss. Selama aku masih belum bisa membagi waktu dengan baik, tampaknya aku tidak bisa serakah dan mau ambil semuanya. Lumayan lama aku libur dari dunia terjemahan.

Oya, sampai kelupaan. Di awal aku bekerja sebagai dosen, aku sempat juga menjajal kesempatan bekerja part-time sebagai penerjemah film di salah satu stasiun televisi swasta. Saat itu aku belum menikah, sehingga merasa masih banyak punya waktu luang. Setelah lolos tesnya, aku ditawari pekerjaan sebagai full-timer. Tapi aku merasa sayang melepas pekerjaanku sebagai dosen, sehingga aku hanya bisa bekerja paruh waktu di stasiun TV itu. Sayangnya, pekerjaan ini aku tinggalkan di tengah jalan. Bukan apa-apa, karena keterbatasan teknis dimana aku tidak punya video player VHS yang dibutuhkan, aku harus bolak-balik ke daerah Kebun Jeruk untuk mengerjakannya di kantor mereka di malam hari karena jam kantorku di kampus selesai sore hari. Kantor mereka terletak di jalur jalan yang sepi dan cuma ada sedikit angkot yang lewat. Alhasil aku harus naik taksi dan akibatnya upah terjemahannya jadi tidak seberapa. Setelah hitung-hitungan, aku memutuskan untuk menghentikan pekerjaanku sebagai penerjemah film.

Kembali lagi ke saat setelah ada kejadian tak enak dengan Ketua Jurusanku. Di pertengahan tahun 2003, aku terpaksa berhenti bekerja karena mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku tinggal di rumah saja selama berbulan-bulan. Selama masa pemulihan itu, aku tak berpenghasilan. Krisis keuangan keluarga pun melanda. Putra kami baru satu tahun dan kami baru saja mulai mencicil rumah. Uang tabungan habis untuk bayar DP, sedangkan cicilan dan biaya hidup harus terus dibayar. Suamiku waktunya sudah tersita untuk bekerja di kantornya sehingga tak punya waktu atau tenaga lagi untuk mencari tambahan.

Alhamdulillah, Tuhan Maha Baik, seorang sahabat baikku menawarkan pekerjaan yang sebetulnya ditawarkan kepadanya. Tahukah apa pekerjaan itu? Yak…terjemahan. Kali ini terjemahannya secara berkala dan berhubungan dengan salah satu institusi resmi negara. Dari order-order kecil, meningkat makin besar sampai akhirnya aku dipercaya menerjemahkan buku laporan tahunan mereka. Setelah itu, salah satu sahabat baikku lagi juga menawarkan aku untuk mengajar privat seorang mahasiswi S2 yang mengalami kesulitan karena perkuliahannya dilakukan dalam bahasa Inggris. Dalam mengajar privat ini, akhirnya aku juga mendapat order terjemahan karena si Ibu ini sudah terlalu sibuk bekerja, kuliah dan merawat tiga anaknya sampai-sampai untk membaca teks kuliahnya dia ingin yang berbahasa Indonesia saja. Aku juga sempat bersama-sama dengan dua sahabatku membuka usaha kecil kursus dan terjemahan yang akhirnya malah lebih banyak memperoleh order terjemahan langsung (interpreter) yang disub-tenderkan ke teman-teman kami yang lain. Bahkan di saat-saat terakhir menjelang keberangkatanku, aku masih harus menyelesaikan terjemahan buku laporan dari lembaga yang sama dengan divisi yang berbeda. Mereka mendapatkan namaku berdasarkan rekomendasi rekan kantor mereka. Nantinya, tabungan hasil terjemahan ini yang akan membayarkan sebagian besar tiket pesawat untuk suami dan anak-anakku menyusul ke negri Paman Sam.

Sampai di AS, aku masih belum memutuskan kontrak dengan lembaga itu. Namun karena beban kuliah dan beban psikologis karena berpisah dengan anak membuat aku ketetarn dalam perkuliahan, aku memutuskan untuk berhenti.

Setelah aku selesi kuliah, aku sempat kebingungan mencari pekerjaan. Krisis ekonomi yang tak luput melanda Amerika membuat lapangan pekerjaan bertambah sedikit. Di tengah kebingungan dan sudah hampir putus asa, justru ide dari sahabatku yang membuka jalan menuju…terjemahan lagi. Hi…hi…hi…ibaratnya dua remaja, aku sibuk menghindar tapi jodohnya ternyata terjemahan juga. Alhamdulillah, setelah melalui proses melamar kemana-mana aku akhirnya dipanggil, lolos, tes dan mulai menjadi penerjemah film. Bukan untuk stasiun TV, tapi untuk perusahaan distribusi DVD film-film produksi Amerika yang berskala cukup besar (aku tahunya setelah browsing di Internet).

Begitulah kisah kasihku dengan terjemahan. Rasanya tak bisa lagi menghindar untuk bersama dengannya. Aku akhirnya menyadari bahwa tiap rejeki yang diberikan olehNya harus disyukuri dan dipelihara sebaik-baiknya. Selera dan idealisme boleh saja ada, namun jangan pernah sia-siakan tiap kesempatan yang datang. Selama itu halal dan worth it, mengapa tidak?

Rencanaku ke depan setelah pulang ke Indonesia, malahan mungkin akan berkonsentrasi ke terjemahan dan mengambil sertifikasi penerjemah tersumpah sedangkan menjadi dosen tetap akan kujalani karena sudah panggilan hati, meskipun cuma sebagai part-timer misalnya. Tanggung jawab moral untuk meneliti dan menulis tentang bidangku tentu saja harus juga kujalani. Meskipun pasti akan cukup berat mengingat sumber-sumber bacaan di sana untuk bidangku amat sangat tidak memadai. Cita-citaku yang lain adalah ingin mendirikan kursus atau sekolah formal bahasa Inggris berkualitas selain juga memiliki toko kue dan restoran. Yang terakhir ini karena hobi. Terlalu banyak ya? Pengalaman mengajarkanku untuk tidak lagi takut bermimpi atau membatasi diri. Asal kita mau berusaha dan dengan memohon pada Nya, pasti akan ada jalan.

(The End)



Advertisements

8 thoughts on “Aku dan Terjemahan (Part 2)

  1. Wah, inspiring bgt nich kisah mbak irma…Walaupun Nana lom tahu ujung dari kisah ini, jujur mengajar belum menjadi profesi pilihan hatikuw, malah tak pernah kusangka kalau mengajar menjadi jalan hidupku sekarang,cita2ku msh ingin rasanya bekerja di bank, atau dosen, amin, mudah2an…Inti cerita mbak irma yang bisa Nana ambil : Cintailah Pekerjaanmu…

  2. nanabiroe said: Wah, inspiring bgt nich kisah mbak irma…Walaupun Nana lom tahu ujung dari kisah ini, jujur mengajar belum menjadi profesi pilihan hatikuw, malah tak pernah kusangka kalau mengajar menjadi jalan hidupku sekarang,cita2ku msh ingin rasanya bekerja di bank, atau dosen, amin, mudah2an…Inti cerita mbak irma yang bisa Nana ambil : Cintailah Pekerjaanmu…

    Terima kasih Na, alhamdulillah kalau bisa menjadi pelajaran (tuh kan sekolahan lagi deh bawaannya!).Betul sekali, cintailah pekerjaanmu. Tekuni saja amanah rejeki yang sedang diberikan Tuhan. Kita tidak pernah tahu di masa depan mungkin kita akan dibukakan pintu rejeki di jalur pekerjaan yg sama. Selalu mencoba profesional dan mengambil sisi yang menyenangkan dari pekerjaanmu, itu pesanku buat Nana. Di lain sisi juga terus belajar hal baru dan membuka diri untuk menggapai cita2, walau seabsurd apapun tampaknya itu. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan buat Nana menggapai cita-cita. Aaamiin. Terus berjuang Na! Semangat!

  3. kisah yg inspiratif mba…di UI utk program linguistik juga ada konsentrasi utk penerjemahan, tapi sayang masih sedikit yg berminat, konsentrasi teori masih jadi mayoritas pilihan (termasuk saya hehee). Tapi denger cerita mba Irma, sepertinya penerjemahan asik juga ya mba…

  4. pondokkata said: kisah yg inspiratif mba…di UI utk program linguistik juga ada konsentrasi utk penerjemahan, tapi sayang masih sedikit yg berminat, konsentrasi teori masih jadi mayoritas pilihan (termasuk saya hehee). Tapi denger cerita mba Irma, sepertinya penerjemahan asik juga ya mba…

    Makasih Nda. Oh kamu FIB UI ya? Jaman aku dulu masih FSUI namanya. Kalau berniat menjadi praktisi, mendingan memang ambil spesialisasi yg aplikatif spt terjemahan ini Nda. Kalau ambil teori linguistik murni berarti mau jadi peneliti atau dosen kan? Kalau mau meneruskan ke S2 dan S3, di sini juga sudah banyak ampus yg menawarkan program2 tsb utk terjemahan. Dunia terjemahan kalau digeluti asyik juga. Selain itu, utk yang kemampuan bahasa asingnya cukup bagus, sepertinya ada tanggung jawab moral untuk bisa menghasilkan terjemahan yang baik, bukan yang asal. Kalau diamati, banyak kan hasil terjemahan yang asal bikin, terutama untuk buku. Itu terjadi karena sebenarnya kebutuhan akan penerjemah sebenarnya amat tinggi, sehingga penerjemah yang ada kelabakan, hanya mengejar deadline dan mengabaikan kualitas.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s