Aku dan Terjemahan (Kisah Percintaan Yang Panjang) – Part 1

Jalan rejeki orang itu memang macam-macam ya. Kalau dalam kasusku, jalan rejekiku cukup unik. Oya, rejeki yang dimaksud di sini dalam artian sempit yaitu pekerjaan yang menghasilkan uang. Ketika kuliah aku belum kepikiran untuk cari uang sendiri. Alhamdulillah masih bisa ditanggung orang tua dan akunya sendiri pada saat itu mengira bahwa tak akan mampu untuk bekerja sambil kuliah. Berhubung kuliah di kampus yang jauh dan hanya 1 tahun 1 bulan saja sempat kost, aku pun sudah kehabisan tenaga untuk bolak-balik Pamulang-Depok hampir setiap hari. Aku putuskan untuk konsentrasi kuliah plus ikut organisasi kemahasiswaan saja, daripada badan hancur.

Lagipula, dari awal kuliah aku memang sudah niat ingin mempertahankan IP minimal 3.0 yang memenuhi syarat untuk bisa menjadi dosen (IP 2.75 jaman itu) atau untuk mencari beasiswa ke luar negri (IP 3.0). Lucu juga ya, aku barus sadar bahwa sebenarnya aku dari dulu sudah memetakan arah hidup dan karirku. Padahal selama ini aku menilai diriku kurang ambisius dan asal mengalir saja. Aku ingat di salah satu semester pernah mendapat IP kurang dari 3.00, duh sedihnya minta ampun sampai-sampai semester berikutnya sibuk menggenjot nilai supaya IPK-nya tetap di atas target. Karena target inilah aku memutuskan untuk konsentrasi ke kuliah saja.

Kembali ke jalan rejeki. Di tahun keempat aku mulai merasakan kebutuhan untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Maka mulailah aku menerima order terjemahan, yang memang potensial sekali untuk jurusanku. Terjemahan yang aku terima belum banyak, dan rata-rata adalah buku teks mahasiswa jurusan lain. Order aku dapatkan dari sesama teman kuliah yang sudah lebih lama mengerjakan terjemahan. Aku juga mulai mengajar di salah satu bimbingan belajar privat. Proses mendapatkannya dengan melamar langsung ke kantornya.

Dari mencoba-coba dua jenis pekerjaan ini, aku menyimpulkan bahwa aku lebih menyukai mengajar daripada menerjemahkan teks. Alasannya sederhana saja: mengajar lebih menantang dan menyenangkan sedangkan menerjemahkan itu membosankan. Berhadapan dengan teks dan menulis terjemahannya sangat membosankan buatku. Oya, saat itu komputer belum umum dipakai. Jaman kuliah aku lebih banyak bikin makalah pakai mesin ketik daripada komputer. Meskipun di rumah tersedia, namun karena itu milik Papaku yang dipakai untuk keperluan pekerjaanya, maka aku mengerjakan terjemahan secara tulis tangan. Bayangkan betapa pegalnya.

Alhasil, setelah lulus kuliah, aku langsung bekerja sebagai pengajar di sebuah kursus bahasa Inggris di bilangan Ciputat. Selama bekerja sebagai guru kursus, aku tidak pernah menerima order terjemahan. Namun ketika akhirnya aku bekerja sebagai dosen yang merupakan salah satu cita-citaku di sebuah sekolah tinggi bahasa, aku ‘dipaksa’ bersentuhan lagi dengan dunia terjemahan.

Jadi begini ceritanya, ketua sekolah tinggi ini rupanya adalah penerjemah tersumpah (yang mendapat sertifikat dari UI dan Gubernur DKI Jakarta) yang sudah mapan. Karena mapannya, dia masih banyak menerima order terjemahan di kantornya. Karena kerjaannya berlimpah, dia merekrut dosen-dosen yang ada di kampus ini untuk membantunya menyelesaikan order, istilah Inggrisnya sub-tender. Dari beberapa yang direkrut, aku termasuk yang paling belakangan bergabung. Sekali lagi, itu karena aku merasa tidak begitu menikmati pekerjaan yang satu itu. Namun karena saat itu aku baru saja menikah dan sedang mengandung anakku yang pertama, maka aku pikir tak ada salahnya menambah penghasilan demi si adek bayi.

Terus terang sebenarnya penghasilan yang didapatkan dari terjemahan itu amat sangat lumayan. Jika sedang dapat order besar, jumlahnya bisa sama dengan gaji mengajar selama sebulan, bahkan lebih. Padahal mengerjakannya tidak sampai seminggu. Namun tetap saja, aku mengerjakannya jadi semata-mata hanya untuk uangnya karena tetap buat aku pekerjaan itu amat membosankan. Meskipun sudah ada komputer dan kadang juga dibantu suamiku, namun aku tetap tidak menemukan letak nikmatnya pekerjaan sebagai penerjemah.

Ditambah lagi terjadi peristiwa yang tak mengenakkan berkaitan dengan konflik antara pekerjaan terjemahan dan mengajar. Suatu kali si Boss besar menerima order terjemahan skala sangat besar sehingga yang mengerjakannya lebih dari satu orang. Pada sata yang sama, sekolahku sedang bersiap mengahadapi tahun perkuliahan baru yang membutuhkan banyak perhatian dari dosen-dosennya. Namun, karena perhatian sebagian dosen-dosennya ditujukan pada mengejar target dead-line terjemahan, maka tugas administratif kedosenannya jadi terabaikan. Sad to say, aku termasuk dosen yang ndableg itu. Maka, ketua jurusan yang tadinya merupakan sahabat baik sekaligus mentorku, menjadi marah padaku, nama baik dan profesionalitas yang selama ini sudah kubina hancur berantakan. Yang lebih menyedihkan, persahabatanku dengan beliau pun sempat jadi dingin, meski akhirnya bisa pulih kembali.

Traumakah aku? Tentu saja. Tapi jalan hidupku selanjutnya membuktikan bahwa apa yang aku tidak sukai belum tentu tidak baik untukku. (To be continued)

Advertisements

6 thoughts on “Aku dan Terjemahan (Kisah Percintaan Yang Panjang) – Part 1

  1. Hmm…Penerjemah ya bun?Nana dulu naksir profesi ini karena selain menghasilkan uang cukup banyak, pekerjaan ini bs dilakukan di rumah, keknya cucok kali wat ibu rumah tangga,pekerjaannya mungkin membosankan tapi menurut Nana setiap profesi punya sisi kebosanan tersendiri, betul?

  2. nanabiroe said: Hmm…Penerjemah ya bun?Nana dulu naksir profesi ini karena selain menghasilkan uang cukup banyak, pekerjaan ini bs dilakukan di rumah, keknya cucok kali wat ibu rumah tangga,pekerjaannya mungkin membosankan tapi menurut Nana setiap profesi punya sisi kebosanan tersendiri, betul?

    Memang benar Na, pekerjaan ini cocok buat ibu rumah tangga krn bisa dikerjakan dari rumah sehingga waktu mengerjakannya pun bisa kita atur sendiri. Tapi banyak juga Bapak2 yg bekerja sebagai penerjemah selain jadi pekerjaan utama, juga ada yg cuma jadi pekerjaan sampingan. Modal utamanya otak dan skills Na, bukan modal uang spt buka usaha lainnya. Karena itu banyak yang tergiur menjadi penerjemah. Asal tahu saja, ujian penerjemah tersumpah yang diadakan tiap tahun di UI banyaaaak sekali pelamarnya dan lbh banyak laki2 drpd perempuan.Iya, tiap pekerjaan pasti ada titik jenuhnya. Cuma utk yg satu ini, titiknya banyak sekali..he..he..he. Aku mencoba menikmati kok Na, salah satu yg memacu adalah komunitas penerjemah di dunia maya yg bisa saling berbagi pengalaman.

  3. nanabiroe said: wah,ternyata jadi penerjemah banyak saingannya yah, moga sukses yah buw jika mbak irma mencobanya nanti, amin…

    Aaaamiiiin. Makasih doanya ya Na. Aku memang harus siap2 dari sekarang utk tes itu. Aku dulu pernah mencoba, namun gagal (ihiks). Tapi tak ada kata menyerah…terus coba sampai dapat! Terjemahan sebenarnya ladang subur yang diam2 menghanyutkan Na. Di Amrik banyak lo kantor penerjemah, dan mereka sering sub-tender ke penerjemah2 di negara lain. Dengan adanya Internet dan makin pesatnya bisnis internasional dalam berbagai bidang, bisnis terjemahan pun semakin subur. Sampai2 dikembangkan banyak software khusus utk proyek terjemahan. Temanku ada yg sampai keluar dari kantornya (sebuah majalah) krn sbg penerjemah free-lance pendapatannya jauh lbh besar.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s