Tentang Darrel: Masuk sekolah

Perasaan baru kemarin lahir kau Nak, eh sekarang sudah masuk sekolah. Anakku yg kedua terasa masih bayi saja di mataku. Padahal pipinya yang tadinya bulat seperti bakpao, sampai-sampai pernah aku juluki Pao-Pao, Pilat (Pipi Bulat) atau Pimbem (Pipi Tembem) sudah mulai menirus, begitu pula postur tubuhnya yang tadinya lemu ginuk-ginuk sudah makin meramping dan meninggi. Sampai dengan hari ini, hari kesepuluh dia masuk sekolah, aku masih belum (mau) percaya bahwa ia sudah makin besar dan beranjak dari fase bayi menjadi anak kecil.

Sebenarnya ia belum ‘wajib’ masuk sekolah karena usianya belum lagi 4 tahun. Meskipun usia Pre-school di sini berkisar antara 3-5 tahun, namun menurut pihak sekolahnya, mereka mengutamakan anak-anak usia 4 tahun ke atas dalam proses penerimaan murid baru karena merekalah yang nantinya akan masuk Kindergarten di usia 5 tahun sehingga butuh pengenalan bersekolah. Karena itu, ketika Darrel mengikuti proses screening sekitar dua minggu yang lalu, kami tidak terlalu ngotot dan ‘ngoyo’ menuntut dia harus lolos seleksi. Kalau memang dia dinilai belum siap untuk masuk Pre-K, ya sudah tak mengapa. Aku malahan senang karena di rumah tetap ada sosoknya yang selalu lucu menggemaskan untuk menemaniku. Ketika tes berlangsung dan kami para orang tua tidak dibolehkan ikut masuk, aku sempat cemas karena Darrel masih sering mengalami separation anxiety alias tidak bisa lepas dari orang tuanya. Benar saja, ketika satu persatu anak-anak kecil itu dituntun masuk oleh guru, Darrel satu-satunya yang datang dengan air mata bercucuran. Waduh, sepertinya sih dia belum siap nih, begitu pikirku saat itu. Selama ini dia memang jarang besosialisasi karena di daerah tempat tinggalku kebetulan tidak banyak anak kecil.

Namun pihak guru dan pemberi tes berpendapat lain, dari tes secara motoris, kognitif, dan tes-tes standard lainnya (berhitung, mengenal huruf dan angka, menyusun balok), bayi kecilku itu dinyatakan siap memulai proses pendidikannya di Pre-K meski dia butuh penyesuaian. Aneh mungkin kalau aku malah merasa agak sedih mendengar kabar ini. Namun kuhibur diri dengan mengingat bahwa ia bersekolah hanya 3 jam saja dari Senin-Jumat.

Bagaimana dengan Darrel sendiri? Perasaannya berubah-ubah. Kadang kalau melihat kakaknya berangkat sekolah, dia menyatakan ingin sekolah juga. Namun di kali lain, ia akan bilang mau di rumah saja. Saat aku bilang: “Kalau di sekolah banyak teman. Di rumah kan gak ada teman Dek.” Jawabnya: “But you are my friend.” Langsung saja kupeluk dia sambil terharu biru. Sering juga dia menyatakan ingin bersekolah di sekolah kakaknya. Kebetulan kakaknya sudah kelas dua dan harus pindah ke sekolah baru. Jadi sistem sekolah di kota ini tidak terpusat melainkan menyebar. Tingkat Pre-K sampai First Grade ada di satu lokasi, sedangkan kelas dua sampai tiga ada di lokasi lain, begitulah seterusnya. Dia baru bisa menerima kenyataan bahwa sekolahnya harus terpisah dari kakaknya setelah dijelaskan bahwa di sekolah kakaknya tidak ada Pre-K.

Hari pertama sekolah pun tiba. Darrel cukup bersemangat saat masih di rumah. Namun begitu sampai sekolahnya, dia langsung kelihatan malu-malu, tak berani menatap orang lain dan tak menyahut saat disapa. Tangannya erat menggenggam tanganku. Karena berat melihatnya begitu, aku temani dia sampai kelasnya. Aku minta ijin gurunya untuk tetap di kelas menemani Darrel meskipun aku jadi satu-satunya orangtua murid yang tetap tinggal di kelas. Perlahan-lahan Darrel mulai mengikuti kegiatan di kelas. Tapi ketika saatnya bermain bebas, dia malah menempel erat tak mau lepas dari sisiku. Gurunya lalu mengingatkan bahwa dia begitu karena aku ada di situ. “Should I just leave then?” tanyaku. Dia menjawab terserah aku.

Dengan berat, akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan bayi kecilku. Lalu berlangsunglah beberapa menit proses berpamitan yang penuh air mata dan penolakan darinya. Aku sendiri sudah berkaca-kaca, namun demi kebaikannya juga aku tinggalkan dia. Dari jendela kecil di pintu kelasnya aku lihat dia digendong gurunya, diberikan tissue untuk mengelap air matanya dan menghibur dirinya. Duh, berat rasanya meninggalkannya. Tapi kalau aku terus di situ aneh juga karena di lorong gedung sekolahnya kosong, orangtua memang tak dibolehkan menunggu di dalam.

Akhirnya ada seorang guru yang kebetulan lewat. Dia maklum sekali akan perasaanku yang berat meninggalkan PaoPao-ku di kelas. Lalu dia bilang, “Saya juga kemarin melepas anak lelaki saya ke bangku kuliah. Sama, saya juga menangis.” Terus dia bilang begini: “Kalau anak itu sekarang Ibu lepas, justru tidak apa-apa. Mungkin dia akan menangis sebentar, tapi he’ll be OK nantinya. Kalau Ibu terus di sini, dia akan lengket dan malah tambah susah berpisahnya.” Persis seperti yang disarankan guru kelasnya, aku musti pamit padanya dan janji akan balik lagi. Nanti ketika aku menjemputnya, aku musti bilang “Tuh kan Mama datang lagi.” Jadi anak itu tahu dan percaya bahwa Mamanya pasti akan kembali menjemputnya sehingga besok-besok ia tidak akan cemas.

Maka, aku pun pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda kumbang lengkap dengan boncengan. Di rumah aku kepikiran terus akan dia. Duh gimana Darrel ya? Kalau nanti dia mau pipis gimana? Kalau dia cari Mamanya lagi gimana?

Pukul 10.30 aku sudah siap dengan sepedaku melaju ke sekolahnya. Kulihat dia keluar dari pintu dengan diantar asisten gurunya. Dia tidak menangis namun tampangnya sendu. “I told you I’d be back.” Aku bilang begitu padanya. Dia senyum-senyum tertahan lalu bilang: “But I miss you!” Jagoan kecilku ternyata kelakuan Rambo, hati Rinto ya. Kalau di rumah lasak sekali dan sedikit galak, suka protes kalau terlalu banyak dipeluk-peluk dan dicium-cium, tapi begitu pisah dari Mamanya kelihatan deh lengket dan manjanya.

Lalu aku perhatikan, loh kok celananya beda. Rupanya terjadi ‘accident’ dimana Darrel tidak keburu menurunkan celananya ketika mau pipis di kamar mandi. Jadilah celananya basah dan harus diganti dengan celana cadangan. Tapi tak apa, yang penting ia sudah mulai belajar bersekolah. Semoga bisa bermanfaat terutama untuk perkembangan kecerdasan sosialnya.

Advertisements

12 thoughts on “Tentang Darrel: Masuk sekolah

  1. duabadai said: terharu bacanya, but it’s a nice story indeed šŸ™‚

    Pasti jadi keinget Mama kamu kan? Thanks ya Di. Kali ini aku coba sebisa mungkin bakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pegel euy! Biasa ngomong cablak.

  2. wah, seru bgt yak saat mengantar anak pertama kali ke dunia sekolah…Jadi takut kalau farrel nanti masuk preschool, tp nasihatnya sungguh berguna, thanks yah bun…Welcome bakkk to empeh šŸ™‚

  3. penuhcinta said: Kali ini aku coba sebisa mungkin bakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pegel euy! Biasa ngomong cablak.

    oiya, hehhehe pantesan agak beda bacanya, ooo ternyata pake kaidah EYD ya… tapi bagus kok mbak, ttp bisa menghanyutkan pembacanya šŸ™‚

  4. pondokkata said: ada berbagai perasaan bacanya mba…dunia ibu dan anak memang yg paling manis di dunia…dik Darrel selamat masuk sekolah yah…

    Terima kasih Tante Anda. Iya, banyak sekali kenangan indahnya. Aku suka kehilangan moment alias lupa kejadian2 yg menarik. Makanya sekarang mau didokumentasikan lewat MP.

  5. nanabiroe said: wah, seru bgt yak saat mengantar anak pertama kali ke dunia sekolah…Jadi takut kalau farrel nanti masuk preschool, tp nasihatnya sungguh berguna, thanks yah bun…Welcome bakkk to empeh šŸ™‚

    Gak usah takut Na…karena pasti bisa kok dan kalau kita dan anak kita nangis2 sih biasa atuh…normal. Jangan lupa bawa tissue aja…he..he. Sama-sama, senang rasanya kalau di sharing ceritaku yg sederhana ini ada yg bisa membawa manfaat. Makasih Nana…yeahhhh…I’m back baby!

  6. duabadai said: oiya, hehhehe pantesan agak beda bacanya, ooo ternyata pake kaidah EYD ya… tapi bagus kok mbak, ttp bisa menghanyutkan pembacanya šŸ™‚

    Iya Di, maksudnya supaya akunya juga terlatih pakai bahasa yang lebih benar. Tapi ya itu tadi deh…pegel banget. Sungai kali yeee bisa menghanyutkan. Makasih…makasih.

  7. Congratulation Pao Pao hehehhe… am so proud of you! been there done that (maksudnya jadi Pao Pao eeeh Darrel hehhe. Dulu waktu masuk sekolah, lora juga nangis2 hahahhaha) — tapi lama2 biasa ko, have fun sama temen2. Insha Allah Darrel juga begitu.Kalau soal perasaan Mbak Irma, mending tanya Mamie ku dehh ahahha…beliau hobby banget tuh “nendang” anak-anaknya sekolah jauuuuh. Dulu waktu di Jakarta, pasti sekolah nya rada jauh wkt TK hrs jalan jalan, SD SMP SMA naik angkot. Gedean dikit ditendang ke NZ, niih yg the latest, kaya nya “goal bulet” ke U.S ahahaha — jawaban beliau cuma simple: betis molegh nya siapa dulu dong, jd kl nendang pasti mantap ahahhaha…

  8. laurasaid said: Congratulation Pao Pao hehehhe… am so proud of you! been there done that (maksudnya jadi Pao Pao eeeh Darrel hehhe. Dulu waktu masuk sekolah, lora juga nangis2 hahahhaha) — tapi lama2 biasa ko, have fun sama temen2. Insha Allah Darrel juga begitu.Kalau soal perasaan Mbak Irma, mending tanya Mamie ku dehh ahahha…beliau hobby banget tuh “nendang” anak-anaknya sekolah jauuuuh. Dulu waktu di Jakarta, pasti sekolah nya rada jauh wkt TK hrs jalan jalan, SD SMP SMA naik angkot. Gedean dikit ditendang ke NZ, niih yg the latest, kaya nya “goal bulet” ke U.S ahahaha — jawaban beliau cuma simple: betis molegh nya siapa dulu dong, jd kl nendang pasti mantap ahahhaha…

    Hi…hi…hi…Lora, ya ampyun fotonya Dek Haneef lucu sekali! Bibirnya seksi kayak Angelina Jolie..he..he..he. Thank you Auntie Lora. Toss dulu ya Auntie…sama kita ya…sama-sama suka mewek kalau berpisah dr yg disayangi. Darrel sudah mulai enjoying his time at school, tapi tetap suka bilang ‘I miss you’ tiap pulang sekolah. Mamanya memang ngangenin suitt…suittt.Mamie-nya Lora berarti pe-de kalau Lora dan Nashie bakal fine2 aja meski jauh sekolahnya. Aku dulu juga sekolahnya selalu jauh2 dari rumah. Pas kuliah aja Pamulang-Depok yg bisa 2 jam di jalan. Dibawa senang saja, rasanya everyday is an adventure, ketemu orang dan kejadian yg beda2 di kendaraan umum.Perasaan Mamie Lora pasti gak beda jauh deh dari perasaan semua Ibu kalau berpisah dari anaknya, cuma pasti disembunyikan, seperti aku yang kemarin itu nahan2 supaya gak nangis di depan Darrel. Sedih, tapi sadar bahwa ini demi kebaikan anaknya juga. Begitulah…ihiks….sampai hari ini aku masih suka kangen Darrel pas dia lagi di sekolah. Rasanya aneh gak ada dia nempel di sisiku.

  9. penuhcinta said: Perasaan Mamie Lora pasti gak beda jauh deh dari perasaan semua Ibu kalau berpisah dari anaknya, cuma pasti disembunyikan, seperti aku yang kemarin itu nahan2 supaya gak nangis di depan Darrel.

    ihihihii…tinggal aku ngerasain perasaan jadi ibu nya ahahahhahaha… Ntar pas hari nya datang, mewek-mewek telfon Mbak Irma ke C’dale :DD [looooooooool[ — buka puasa apa ni?????

  10. laurasaid said: ihihihii…tinggal aku ngerasain perasaan jadi ibu nya ahahahhahaha… Ntar pas hari nya datang, mewek-mewek telfon Mbak Irma ke C’dale :DD [looooooooool[ — buka puasa apa ni?????

    Bechul…gak lama lagi deh kayaknya…hi..hi..hi. Boleh kok mewek2 ke aku…menerima segala bentuk curhatan, dijamin beres dan terhjaga kerahasiaannya (iklan baris banget deh). Buka puasa tadi ‘cuma’ cheese burger, risoles dan kastengel. Aku tepar masaknya kalap gitu dan aneh pula kalo digabung…hi..hi..hi.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s