Puasa Pertama Imo

Anakku yang pertama berperawakan kurus dengan pembawaan kalem tapi ceriwis. Loh, kontradiktif ya? Maksudnya begini, dia tenang dan tidak emosian, tapi termasuk anak yang banyak bicara. Cool-nya dia itu mirip banget sama Ayahnya yang kulkas bin kulang-kaling banget deh. Dalam keadaan sepanik apapun, suaranya tetap kalem, tenang terkendali. Tidak seperti Mamanya yang Miss Panic Attack dan rada-rada Drama Queen (duh kok ngaku yaaaa). Lucunya, bukan hanya pembawaan tapi perawakan anakku yang pertama juga mirip dengan Ayahnya. Mereka berdua awet langsing sekali, biar makan sebanyak apapun teteuppp tidak akan menggemuk. Bikin sirik kan?

Alkisah, Imo yang merupakan kependekan dari Massimo (tidak ada hubungannya dengan merk baju ya), sudah menginjak 7 tahun lebih saat Ramadhan tahun ini tiba. Akupun mengajaknya untuk ikut berpuasa. Latihan dulu deh, dimulai setengah hari. Kalau kuat, baru coba puasa penuh. Aku tahu pasti berat untuknya berpuasa di tengah-tengah teman-temannya yang tidak berpuasa, apalagi tahun ini puasa jatuh di akhir musim panas dimana bisa nyaris 15 jam kita harus berpuasa. Karena itu, aku dan Ayahnya sepakat untuk memberi insentif untuk tiap hari ia berpuasa dalam bentuk uang saku. Memang sih kesannya kok menyuap anak untuk berpuasa. Namun aku pikir tak ada salahnya karena anak kecil pasti suka diberi hadiah dan beribadah untuk anak kecil yang belum mampu menangkap maknanya secara mendalam harus dibuat semenyenangkan mungkin agar ia suka menjalaninya. Nanti kalau sudah terbiasa, barulah ia dapat diberi pengertian tentang apa arti puasa.

Mendengar adanya insentif yang lumayan untuk anak seusianya, Imopun menyatakan akan berpuasa. Kebetulan hari pertama puasa jatuh di hari Sabtu dimana ia tidak bersekolah. Saat sahur, aku sudah bersiap-siap akan menghadapi anak kecil yang segan bangun dan mungkin saja akan bersungut-sungut atau marah karena dibangunkan sepagi itu. Ada lo yang sudah dewasa tapi masih susah dibangunkan sahur. Tapi ajaib, Imo bangun tanpa kesulitan. Dia cuma ucek-ucek mata dan langsung bangun menuju meja makan. Aku tawarkan dia makanan yang dia mau makan dan suka: pizza dan segelas susu kedelai rasa coklat. Dia makan dengan lancar, tak ada keluhan sama sekali. Alhamdulillah. Ternyata dalam mencoba berpuasapun dia tetap cool, seperti pembawaannya selama ini.

Sampai tengah hari Imo masih kelihatan biasa saja. Memang sih setiap kali ia dengar adiknya mau makan sesuatu dia bilang, “Please don’t say that, it makes me hungry.” Akupun pengertian dan berusaha menyembunyikan aksi makan atau minum adiknya dari pandangan Imo. Jam 4 sore Imo mulai gelisah, dia berbaring di tempat tidur, lemas. Aku lalu bilang padanya untuk buka saja kalau memang tidak kuat. Dia hampir menangis, lalu tanya: “Will you still give me the money if I break the fast now?” Halah…namanya anak kecil, yang dipikirkan adalah insentifnya itu ternyata! Aku tentu saja mengiyakannya. Hari pertama Imo puasa dan ia tahan sampai sesore ini tanpa mengeluh sama sekali! Hebat sekali dia! Bahkan untuk berbukapun ia harus kami paksa dan baru buka setelah yakin akan tetap mendapatkan insentifnya. What a strong-willed kid!

Esok harinya Imo mencoba lagi puasa. Alhamdulillah, kali ini bisa sampai maghrib! Aku sungguh tak habis kagum padanya. Sampai malu sendiri kalau suka mengeluh dalam hati bila harus banyak kerja fisik saat berpuasa. Cuma aku cemas saat ia mulai sekolah di hari Senin dalam keadaan berpuasa. Kuatkah ia? Padahal ia masih harus beraktifitas seperti biasanya, tidak ada dispensasi. Aku wanti-wanti ke Imo bahwa anytime dia merasa tidak kuat, ia boleh berbuka. Di dalam tas ranselnya aku tetap bekali sack-lunch seperti biasanya. Aku lalu menelpon sekolahnya untuk meminta agar Imo tidak usah masuk ke ruang makan saat lunch nanti karena ia berpuasa. Operator telponnya langsung paham dan bertanya: “Is it because of Ramadan?” Karena kotaku memang cukup banyak pendatang dan pelajar dari negara-negara Timur Tengah dan Asia, maka kabar tentang tibanya bulan ramadhan juga sudah tersebar, salah satunya melalui koran kampus. Aku berharap Imo bisa ditempatkan di perpustakaan saja saat lunch.

Begitu pulang sekolah, aku langsung bertanya apakah Imo masih puasa. Ternyata dia masih puasa! Aku tanya dengan detil: apa kepalanya pusing, apa tenggorokannya perih, apa perutnya mulas. Dia jawab tidak dan bilang bahwa dia merasa baik-baik saja. Bahkan dengan tak bisa menyembunyikan rasa bangga ia cerita begini: “Mrs. Rhodes (guru kelasnya) was surprised when I told her that I am fasting. She said, ‘I cannot believe, a boy as small as you are can fast from sun dawn until sunset!'” Imo juga bilang bahwa dia salah satu dari dua anak muslim di sekolahnya yang berpuasa, anak muslim lainnya tidak. Ada teman sekelasnya yang muslimah namun tak kuat berpuasa lagi setelah mencoba puasa setengah hari di hari pertama. “And she is bigger than me.” Begitu kata Imo.

Yang membuat aku lebih bangga lagi padanya. Saat ditanya guru kelasnya kenapa ia berpuasa, ia menjawab begini: “So that we can feel what the poor people feel.” Alhamdulillah, padahal salah satu hikmah puasa ini cuma aku sebutkan padanya secara sambil lalu karena aku mengindari terlalu menceramahi ia terlalu banyak, namanya juga masih anak-anak. Namun rupanya tertanam juga di benaknya.

Besok harinya dan hari-hari selanjutnya Imo tetap berpuasa penuh dan tetap tanpa mengeluh. Teman-teman sekolahnya (yang muslim) juga satu persatu makin banyak yang mencoba berpuasa meski dengan gaya masing-masing. Ada yang cuma puasa makan tapi masih boleh minum, ada juga yang puasa selang-seling. Sampai dengan menjelang hari raya ini, Imo cuma tiga kali kebobolan. Yang pertama yaitu di hari pertama puasa, yang kedua saat sekolahnya mengadakan Pool Party (pesta main air) dan ia tak tahan untuk tak minum air. Yang ketiga saat hari Jumat ada acara bagi-bagi es serut di sekolahnya dan Imo lupa kalau ia puasa. Tapi untuk yang kedua dan ketiga, Imo tetap lanjutkan puasanya walau telah kebobolan.

Bagaimana dengan berat tubuhnya? Meski tak menimbangnya, namun aku tahu bahwa ia pasti turun beratnya karena dari sosoknya saja terlihat lebih mengurus. Aku sampai-sampai tak sampai hati melihat kurusnya lengan anakku itu. Setiap sahur dia cuma mau makan cereal dan susu, tak mau makan nasi. Aku selalu mendorong dia untuk lebih banyak makan saat sahur dan berbuka. Kubikinkan ia makanan yang ia suka agar ia tambah nafsu makan. Namun karena dasarnya lambungnya juga mungkin sangat kecil, ia tak bisa makan banyak2. Mudah-mudahan ia tak apa-apa ya. Sampai sejauh ini ia masih bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya dengan baik dengan nilai yang bagus dan beraktifitas fisik seperti biasanya. Mungkin satu perubahannya adalah sekarng ia gampang sekali diminta tidur siang…he…he..maklumlah pasti dia merasa agak lemas juga.

Puasa tahun ini sangat bersejarah buatku karena di tahun ini putra pertamaku mulai berpuasa dan alhamdulillah bisa melakukannya dengan lancar. Semoga puasamu diridhoi Allah ya anakku, dan insya Allah bisa mengantarkanmu menjadi hambaNya yang bertakwa.

Advertisements

8 thoughts on “Puasa Pertama Imo

  1. pondokkata said: mba…kangen udah lama ga posting ;)seneng ya mba bisa mengamati sekaligus melatih putranya yg baru belajar puasa, Imo memang hebat!! Semangat ya Imo…^_^

    Iya Anda…aku lama juga ya ‘liburannya’…he..he..he. Gak nyadar kalo ada yg kangen. Makasih looo. Alhamdulillah, Imo memang membanggakan dan membahagiakan. Aku gak malu2 mengakuinya. Terimakasih Tante, Imo akan tetap semangat!

  2. nanabiroe said: Wah imo hebat yaa, msh kecil dah semangat puasa,mudah2an dgn dibekali agama sejak dini, Imo jadi anak yang sholeh yah πŸ™‚

    Aaaamiiiin. Terima kasih doanya Tante Nana.

  3. amaltiagunawan said: nanti buka pake apa mbak?

    Wah Gun, kemana aja kamu? Kemari buka cuma pakai gulai ikan kakap, nanti malam masih belum tahu pakai apa he..he..tergantung mood kokinya.

  4. rinita said: hebat ah kakak Imo…masalahnya di tengah anak yang nggak puasa..orang dewasa aja sulit….ayo kasih yang banyak insentifnya ya maaa….:-)))) *matero dotcom*

    Ha…ha…ha…iya tuh moga2 jangan jd matre deh anak gue. Terima kasih ya Tante Rinita, alhamdulillah semua karena Allah.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s